Overview
Ku akui jiwaku masil labil. Kepribadianku masih terombang-ambing oleh setiap deraan peristiwa. Apalagi peristiwa terkait dengan wanita. Ah, aku tak berdaya untuk melawan, dan lari dari kenyataan adalah jalan pintas, cara terbaik untuk re-charge mental bajaku agar segera kembali. Peristiwa yang membuat spiritualku kedodoran dan compang-camping serta berantakan adalah pernikahan wanita yang aku agungkan di muka bumi ini, ----- (hanya member yang tahu e e e)!
Akhir April itu pikiranku pusing tujuh keliling memikirkan cara terbaik untuk lari dari sebuah peristiwa yang akan mengguncang sisi spiritualku jika aku memaksakan diri untuk menghadirinya. Hari-hariku terus diisi dengan pemikiran mengenai berbagai alternatif dan implikasi yang muncul dari masing-masing alternatif yang tersembul dari hasil perenungan selama berhari-hari ini. Ahhaaaaa, akhirnya ide terbaik lari dari kenyataan adalah mendaki gunung. Segera saja aku kontak kawan Banyuwangi yang memang sudah berjanji untuk mendaki di akhir bulan ini. Namun sungguh mengecewakan, dengan alasan yang tidak masuk akal dalam analisisku kawan dari Banyuwangi itu tidak bisa menemani mendaki gunung. Kucoba kontak kawan lain, tetapi hasilnya nihil. Jadilah aku mendaki solo! Menyedihkan. Ihiks.
Awal mula
Sore itu, di waktu Ashar aku telah ada di pos perijinan pendakian Welirang-Arjuno dari jalur Tretes. Setelah selesai semua proses administrasi kuperoleh informasi bahwa saat ini tidak ada lagi pendaki di atas sana. Kelompok pendaki terakhir telah turun dua hari yang lalu. Ah, apes sungguh nasibku. Aku benar-benar harus sendirian di gunung yang terkenal dengan keangkeran dan alam yang ganas ini. Tetapi aku tidak peduli, bagiku ini masih kalah menyeramkan daripada aku harus menjadi saksi peristiwa yang akan menghancurkan kesalehanku dan berakhirlah aku menjadi manusia baik.
Pos Perijinan menuju Kop-kopan
Perjalanan ini sungguh sendu. Berada di sebuah sore yang pilu. Tidak ada mata dan kepala yang mengerti bahwa aku berada dalam kesedihan mendalam (baca: patah hati). Terhitung 2 orang yang memperingatkan aku untuk berpikir dua kali melanjutkan pendakian solo ini. Pertama di Pet Bocor, Pemilik Warung di situ bahkan menyangka bahwa aku sedang gila dari tatapan matanya terlihat keraguannya terhadap kenormalan psikisku. Kedua, di tengah perjalanan menuju Kop-kopan aku bertemu dengan penambang belerang terakhir, seorang tua yang mencoba untuk mengganyang keteguhanku bahwa mustahil mendaki sendiri di gunung ini. Aku tidak peduli. Saran 2 orang itu kusambut dengan senyuman yang menandakan bahwa sisi spiritualku benar-benar telah teruji dan bahwa aku akan pulang dengan sehat dan selamat serta sesuai dengan jadwal yang telah kutentukan.
Menjelang petang aku telah sampai di Kop-kopan. Sebuah tempat kesaksian diri dimana hanya ada satu gubuk penambang belerang saja.
Malam ini aku tidur di gubuk bersama kutu dan kecoa yang tidak sempat kuhitung jumlahnya. Menyusup ke dalam sleeping bag-ku. Bersembunyi di ketiak dan selangkanganku. Aku tidak peduli yang penting mereka mau menemaniku dan tidak mengusirku dari gubuk ini (secara aku yang pendatang hahahhaa). Aku pun terlelap meski seringkali tiba-tiba terbangun.
Pukul 11 malam ku lihat seberkas cahaya melintasi pintu depan gubuk yang hanya ditutupi kain lusuh dan berdebu. Aku diam saja karena ku dengar sayup-sayup ada suara seseorang kemudian menjadi beberapa orang yang datang di Kop-kopan ini. Tidak beberapa lama kemudian masuk satu orang ke dalam gubuk. Aneh, orang itu tidak melihatku yang lagi terbaring di sudut ujung gubuk ini. Bergegas orang tadi keluar dan memberitahu teman-temannya bahwa mereka bisa tidur di gubukan ini.
Begitu mereka masuk lagi aku pun bangkit dari berbaringku dan alangkah kagetnya mereka dan sempat terdesis dari mulut salah satu dan seluruh hati mereka "Setan!!!!!!!!!".
"Halo, rombongan dari mana? Berapa orang? Start pukul berapa dari pos perijinan?", tanyaku.
Setelah berbincang beberapa lama ternyata mereka adalah anak SMA yang baru saja selesai melaksanakan ujian nasional dan mencoba me-refresh-kan diri dengan mendaki gunung. Untuk mengkondisikan situasi yang bagi mereka kurang bersahabat ini-dingin, gelap, tak ada tenda dan obat dingin memadai-kubercerita mengenai beberapa hal.
Kami pun mulai akrab sebelum semua terlelap dalam puncak mimpi masing-masing. Sementara aku harus bekerja keras agar peristiwa yang besok akan terjadi jauh di bawah sana-Surabaya-tidak terus mengusik malamku.
Lupa untuk sejenak
"Iya mas, kemarin di bawah diberitahu kalau ada anak mendaki sendirian. Bahkan, di Pet Bocor, bapak Penjaga Warung bilang kalau ada orang stres yang mendaki e e e", jelas Hendy.
Hari ini begitu riuh dan semarak. Kesepian yang kubayangkan berubah 180 derajat. Anak-anak SMA ini begitu semangat dan kenekatan mereka membuatku harus benar-benar menjadi orang tua untuk selalu mejelaskan berbagai hal mengenai manajemen pendakian. Aku tidak bosan-bosan berbagi pengalaman karena aku yakin beberapa dari mereka akan menjadi pendaki sejati sehingga dengan sharing pengalaman di perjalanan ini akan membuat mereka cepat mencapai predikat itu.
Kenapa aku memberikan istilah pendaki sejati, bukannya dengan istilah pecinta alam sejati. Hal ini dikarenakan sulit ini menjadi pecinta alam sejati. Saat ini jarang bisa kutemui sebagai pecinta alam sejati dalam masa-masa pendakianku. Yang ada adalah pendaki sejati dengan ragam sensasi, tantangan dan hal lain yang mereka ingin peroleh. Mungkin pendapatku ini terlalu naif, idealis bahkan nista bagi orang-orang tertentu. Tetapi memang inilah yang terjadi bahwa pecinta alam sejati itu tidak ada bahkan kalaulah memang ada berarti telah mati ahahahahaa. Innalillahi wainna ilaihi rajiun.
Sore hari kami telah sampai di area puncak. Kami memutuskan bermalam di area ini. Esok sebelum matahari terbit kami baru ke puncak menyaksikan sunrise Welirang.
Malam ini sungguh menyedihkanku. Beberapa dari 9 anak SMA ini menggigil kedinginan. Kondisi ini sungguh menyedihkan aku. Berkemah di area puncak memang beresiko jika tidak membawa perlengkapan anti dingin. Namun ini mungkin pelajaran berharga bagi kawan-kawan SMA ini agar di pendakian berikutnya lebih perhitungan lagi.
Pagi menjelang dan kami telah setia menunggu sunrise di puncak ini sambil tersenyum senang bahwa kami bisa sampai dalam keadaan sehat. Setelah turun aku dan kawan-kawan SMA Sidoarjo 3 ini pun berpisah di gubukan Penambang Belerang yang merupakan jalur pertemuan Welirang-Arjuno. Kawan-kawan Sidoarjo ini kembali pulang dan aku melanjutkan perjalan menuju puncak Arjuno.
Kembali pada kesunyian
Siang ini kaki begitu berat. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Ini kusadari karena aku tengah melewati sebuah lembah yang sangat ditakuti para pendaki, pemburu dan penambang belerang. Namanya Lembah Kidang. Sendirian dengan langkah terseok-seok aku melintasi area ini. Terbayang peristiwa pertengahan tahun 2006, seorang kawan dari Cirebon tiba-tiba menghilang. Setelah beberapa waktu dalam pencarian, keputusasaan dan pasrah pada apa yang akan terjadi, baru kemudian kawan ini muncul. Semua benar-benar di luar fungsi logika. Jalur yang begitu sangat terbuka namun tidak nampak seorang pun dan suaraku yang parau namun nyaring berkali-kali meneriakkan nama kawan ini tetap saja hasilnya nihil. Padahal apa yang aku lakukan ini juga dilakukan kawan yang hilang ini. Ternyata kami berada di dua alam yang berbeda.
Pukul 4 sore aku telah sampai di area puncak gunung Arjuno. Setelah mendirikan tenda tepat di samping replika kuburan aku mencoba mengabadikan sore yang indah ini dengan kamera Canon PowerShot A460. Sunset ini begitu istimewa. Cahaya terang mentari sore dikombinasikan dengan variasi warna dan bentuk awan serta birunya langit membuatku betah dengan suasana ini. Di ujung sana kepulan asap Welirang benar-benar sajian pemandangan yang sempurna. Maha Suci Allah dengan segala keindahan-Nya.
Petang pun tiba dan aku masih saja menikmati sajian ini untuk kemudian beranjak masuk ke dalam tenda untuk mendengarkan suara angin, suara gesekan dedaunan dan ranting dan suara-suara yang menyerupai jejak langkah kaki. Hiiii serem, tapi aku ga kapok!!!
Inilah rumahku
Sebelum matahari terbit aku telah cangkrukan di puncak Arjuno (Puncak Ogal-agil). Kesendirian ini begitu memerdekakan aku untuk mengabadikan suasana. Sampai-sampai-kemungkinan-aku mengabaikan beberapa hal yang mungkin bisa mengganggu eksistensi yang lain. Di salah satu foto itu terdapat cahaya terang yang melintas tepat di atas kepalaku. Untung saja ini baru ku ketahui setelah aku mentransfer data ke komputer.
"Sepurane sing katah Mbah, menawi enten lupute putune Mbah ngaturake agunge pangaksami!"
Tidak bisa ku pungkiri, inilah tempat yang selalu kurindukan. Saat bibir dan lidah berpadu senandung rindu. Pikiran menjadi damai dan tenang. Luruhlah segala peristiwa termasuk peristiwa pernikahanmu, ----- (hanya member yang tahu e e e)!
Rumahku ini telah merevolusi, mereformasi dan mentransformasi jiwa dan ragaku. Resmilah aku menjadi pendaki sejati.
Ku buka HP dan ku kirimkan pesan ke beberapa teman untuk memberitahukan bahwa aku lagi di puncak gunung Arjuno dalam kondisi hidup-hidup e e e!
Blog ini representari dari rasa syukur atas kesehatan dan kesempatan dalam hidup ini untuk berbagi waktu dengan gunung dan belantara.
Kamis, 29 Agustus 2013
Rabu, 13 Februari 2013
Senin, 28 Januari 2013
Kejayaan Pendaki Gunung
Kejayaan pendaki gunung dimulai dengan mengimplementasikan filosofi ketika berada di dataran tinggi (mendaki) pada saat berada di dataran rendah (kota dan pemukiman).
1. Pantang menyerah mencapai puncak pun pantang menyerah menggapai cita-cita.
2. Penuh skenario (perencanaan) untuk menyelesaikan misi pendakian dengan limit waktu, tenaga, dan modal pun juga terarah dan detail dalam berusaha dan bekerja.
3. Suka menolong dan membawa energi positif dalam rombongan pendakian, pun di dataran rendah ringan tangan membantu dan memotivasi orang-orang di sekitar.
4. Banyak berdoa dan mengingat Sang pencipta ketika di lengkingan deru tebing dingin di punggungan puncak, pun juga khidmat dan khusyu' dalam rumah ibadah di kota atau samping rumah.
5. ??
1. Pantang menyerah mencapai puncak pun pantang menyerah menggapai cita-cita.
2. Penuh skenario (perencanaan) untuk menyelesaikan misi pendakian dengan limit waktu, tenaga, dan modal pun juga terarah dan detail dalam berusaha dan bekerja.
3. Suka menolong dan membawa energi positif dalam rombongan pendakian, pun di dataran rendah ringan tangan membantu dan memotivasi orang-orang di sekitar.
4. Banyak berdoa dan mengingat Sang pencipta ketika di lengkingan deru tebing dingin di punggungan puncak, pun juga khidmat dan khusyu' dalam rumah ibadah di kota atau samping rumah.
5. ??
Minggu, 27 Januari 2013
Senyuman
Senyum adalah simbol kebahagiaan.
Senyum representasi dari sehatnya jasmani dan rokhani.
Senyum melambangkan kemenangan dan ketegaran atas lara yang terlampaui.
Senyum juga menegaskan sebuah kemenangan, atas perlawanan diri, pada pemberontakan nafsu.
Ingat, senyum dan menyeringai adalah berbeda.
Yuk. Mari kita tersenyum :-)
Senyum representasi dari sehatnya jasmani dan rokhani.
Senyum melambangkan kemenangan dan ketegaran atas lara yang terlampaui.
Senyum juga menegaskan sebuah kemenangan, atas perlawanan diri, pada pemberontakan nafsu.
Ingat, senyum dan menyeringai adalah berbeda.
Yuk. Mari kita tersenyum :-)
Kamis, 26 Juli 2012
Senin, 04 Mei 2009
Pendakian 53 Jam Menggapai 4 Puncak: Welirang, Kembar 1, Kembar 2 dan Arjuna
Aku dan sebagian kawan-kawan begitu
mendewakan puncak tertinggi. Kami begitu mudah dan cepat terbakar emosi ketika
cerita perjalanan menuju puncak tertinggi diceritakan. Itulah kenapa kali ini
kami mendaki setelah Hendy dan kawan-kawan bersepuluh gagal ke Arjuna karena
terkendala cuaca. Bagi kami hanya puncak tertinggi yang sanggup me-restore
produktivitas dan membebaskan belenggu kejumudan yang melanda setiap jiwa.
Hanya dengan berada di puncak tertinggi kami dapat melihat titik-titik terhebat
masa lalu, sekarang, dan masa yang akan datang. Dan berada di puncak tertinggilah
yang sanggup menunjukkan posisi pencapaian diri-dimana dan siapa sesungguhnya
kami.
Jumat 24 April 2009 pukul 20.30 WIB kami berempat:
1. Saiful Amin "Pendaki Rewel" melaunching model rambut baru
2. Dwi Asepta Hariyadi "H-yi"
3. Santo Andrian "Pendaki Sunyi"
4. Andi Wahono "Pendaki Manja"
meninggalkan Pos Perijinan Pendakian Tretes untuk mengawali perjalanan kaki ini.
Rute yang kami lalui diawali jalan beraspal kemudian jalan bersemen hingga pintu gerbang terakhir tepat di atas Pet Bocor. Selanjutnya jalan yang kami lalui berupa tanjakan berbatu yang membosankan hingga kami memutuskan untuk mendirikan tenda di Kop-kopan untuk bermalam pada pukul 23.30 WIB.
Pukul 05.00 WIB Santo membangunkan kami. Pagi yang cerah ini kami isi dengan kegiatan memasak, sarapan, mengambil gambar, dan mandi. Tepat pukul 06.30 WIB kami memulai perjalanan menuju Pondokan Penambang Belerang.
Masih sama dengan rute sebelumnya, jalan yang kami lalui berupa tanjakan berbatu yang membosankan. Setelah melalui beberapa kelokan menanjak kami mendapati pipa saluran air yang dibuatkan lubang di bagian atasnya sehingga memudahkan untuk mengisi air dan beberapa kelokan selanjutnya ada gubuk penambang belerang yang bisa menjadi alternatif bermalam. Jalan berbatu nan membosankan berakhir di Pos Penimbangan Belerang yang sekarang menjadi Pos Terakhir kendaraan pengangkut belerang. Setengah jam kemudian sampailah kita di Pos Pondokan Penambang Belerang. Di tempat ini kami mengisi air sejumlah 11 Liter untuk berempat dengan estimasi kebutuhan 1,5 hari karena target kami mendaki Puncak Welirang, Kembar 1, Kembar 2 dan Arjuna tidak lebih dari 1,5 hari dari Pondokan ini.
Pukul 10.00 WIB kami memulai perjalanan dari Pondokan. Awal-awal rute sangat menyenangkan karena bebas dari jalanan berbatu. Namun akhirnya jalan terjal berbatu kembali menyambut kami. Pukul 12.00 WIB kami diserang kantuk hebat. Kami memutuskan istirahat siang sambil memasakan mie instan dan energen. Sesaat kami merasakan nikmatnya tidur siang dan kemudian telah terengah-engah lagi dalam derap langkah menuju Puncak Gunung Welirang.
Puncak Welirang
Pukul 14.30 WIB kami sampai di lembah pertemuan jalur Welirang dan Kembar 1. Lembah ini kami sebut Lembah Kematian. Kami ambil jalur ke kanan melewati tebing dengan sajian eksotika Pohon Cantigi Purba yang sangat menakjubkan. Rasa penasaran terhadap aktivitas para penambang belerang mengantarkan kami terlebih dahulu menuju dapur belerang dan menghabiskan waktu yang cukup lama untuk mengambil gambar, menghirup aroma belerang dan menikmati indahnya kepulan asap belerang. Sejam kemudian kami telah berada di Puncak Welirang dan melakukan sujud syukur dengan ransel di punggung karena kebahagiaan tiada tara yang kami rasakan. Berdasarkan hasil GPS terukur ketinggian Puncak Welirang adalah 3.214 m dpl.
Pukul 17.00 WIB kami tidak mampu lagi bertahan di Puncak Welirang. Kabut, angin, dan dingin membuat kami bergegas turun meninggalkan Puncak Welirang dan setengah jam kemudian telah sampai di Lembah Kematian. Di tempat ini kami bermusyawarah mengenai target pendakian yang kemungkinan besar tidak akan mampu kami capai mengingat Senin, 27 April ketiga kawan yang lain sudah masuk kerja.
Kami mempertimbangkan dua opsi, yaitu mendaki Arjuna atau mendaki Kembar 1 dan Kembar 2 karena dalam perhitungan kami mencapai salah satu opsi saja sudah menghabiskan waktu sehari. Diluar dugaan ternyata kawan-kawan semua menginginkan Arjuna. Namun persoalan yang muncul adalah jarak Welirang ke Arjuna sangat jauh. Kondisi fisik juga yang tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan lagi dan sandikala juga sudah bersiap menyambut gelap. Akhirnya kami memutuskan untuk mendaki yang lebih dekat, yaitu Gunung Kembar 1 dan malam ini kami menghabiskan waktu di Lembah Kematian.
Semalaman kami kedinginan. Keliatannya Andi terlalu banyak menghirup debu sehingga berkali-kali bersin di sepanjang malam. Atau mungkin juga masuk angin karena tidak ada matras dan sleeping bag tidak bisa dipakai karena basah kena air dari jirigen yang bocor. Nasib yang sama juga dialami H-yi dan Santo. Bahkan Santo berkali-kali seperti Handphone yang ditelpon tapi tidak pernah diangkat (bergetar terus e e e). Hanya aku yang beruntung bisa tidur dalam sleeping bag tanpa alas matras.
Lagi-lagi Santo yang memegang kendali waktu membangunkan kami pukul 05.00 WIB. Selain sarapan, pagi yang cerah ini kami habiskan dengan mengeksplor sunrise. Mengabadikan momen terindah sebagai kenangan pribadi dan oleh-oleh buat kawan-kawan di Surabaya. Pukul 06.30 WIB kami mulai mendaki Gunung Kembar 1.
Gunung Kembar 1
Seluruh anggota tim belum pernah ada yang mendaki ke Gunung Kembar 1. Namun dari keterangan seorang Penambang Belerang yang meminta obat sakit perut maka yakinlah kami untuk membuat sendiri rute pendakian. Kami tidak mengalami kesulitan membuat jalur ke Gunung Kembar 1 karena saat berada di Puncak Welirang kami telah melihat Puncak Gunung Kembar 1.
Benar saja, sejam kemudian kami telah berdiri di Puncak Gunung Kembar 1. Puncak Gunung Kembar 1 juga memiliki semburan gas yang menyebar hampir di semua titik puncak dan terbesar tepat di puncaknya. Sempat ngeri juga ketika mengambil gambar diri di puncak sedangkan kondisi puncak rawan longsor yang terlihat dari menurunnya lipatan batu dari semburan gas.
Puncak Gunung Kembar 1 memberikan ruang pandang yang jelas untuk mencapai Puncak Gunung Kembar 2. Hal ini meningkatkan kepercayaan diri kami. Bahkan kami mulai optimis akan mendapatkan Puncak Gunung Arjuna.
Gunung Kembar 2
Kami melakukan potong kompas untuk sampai di kaki Gunung Kembar 2. Dan benar saja, sesampai di Lembah Pelana Kuda kami menemukan jalur menuju Puncak Gunung Kembar 2. Setelah terengah-engah di sepanjang jalur menanjak akhirnya kami sampai di puncak pukul 09.00 WIB.
Area Puncak Gunung Kembar 2 lebih tinggi dibandingkan Puncak Kembar 1. Berdasarkan alat pengukur ketinggian yang dibawa H-yi (GPS MAP) tinggi Gunung Kembar 1 hanya 2.980 m dpl sedangkan tinggi Gunung Kembar 2 mencapai 3.180 m dpl.
Puncak Arjuna dari Puncak Gunung Kembar 2 terlihat sangat jelas. Mulai dari Lembah Kidang, Alas Lali Jiwo, Lembah Babi dan Lembah Pramuka, Dieng, sampai Puncak Ogal-agil. Menggapai Puncak Kembar 2 memberi kami keyakinan untuk mampu sampai ke Puncak Arjuna lebih cepat dengan melakukan potong kompas untuk sampai di jalur resmi menuju Puncak Arjuna. Sebagai patokan adalah turun menuju lembah kecil, yakni Lembah Pramuka.
Jalur potong kompas ini memiliki kemiringan lebih dari 70 derajat. Kami mensiasati dengan membuat rute zig-zag namun tetap saja beberapa bagian harus kami lalui dengan jatuh bebas. Berguling-guling. Tapi kami melaluinya dengan perasaan gembira dan tertawa-tawa ketika terjatuh maupun terperosok. Andi sempat kepergok ular namun tidak sampai digigit. Sesampai di Lembah Pramuka kami beristirahat dan sesekali geleng-geleng kepala melihat betapa curamnya jalur yang kami lalui. Kami sempatkan berdoa di sebuah penanda yang menunjukkan adanya kuburan sebelum melanjutkan perjalanan ke Puncak Arjuna.
Gunung Arjuna
Pukul 10.30 WIB kami melanjutkan perjalanan menuju Puncak Arjuna dengan menggunakan jalur yang telah ada. Pukul 12.25 WIB kami bertemu dengan 3 anak Unair dari Jurusan Psikologi yang memperkenalkan kelompoknya dengan sebutan 'Abimapala' kependekan dari Arek Biasa Macak Pecinta Alam. Sebenarnya di Pondokan Belerang kami sudah bertemu mereka namun mereka mendaki ke puncak dengan sistem estafet agar bisa menghemat tenaga. Separuh mendaki, separuh jaga base camp. Ternyata kawan dari Unair ini melihat kami berjumpalitan menuruni Gunung Kembar 2 ketika mereka menapaki jalur menuju puncak Arjuna.
Sisa-sisa tenaga yang kami miliki ternyata masih mampu mencapai Puncak Arjuna 3.339 m dpl tepat pukul 13.30 WIB. Kami memfokuskan diri di area Singgasana Arjuna. Sebuah batu yang menyerupai tempat duduk. H-yi menceritakan bahwa Prabu Airlangga mendaki ke Puncak Arjuna untuk menentukan letak Ibu Kota Kahuripan yang sekarang tempat semburan lumpur panas, Porong.
Kulihat wajah-wajah gosong namun berbinar-binar menyiratkan kebahagiaan tiada tara dari kawan-kawan. Kawan-kawan memiliki ekspresi yang cukup unik. Santo berkali-kali berteriak. Andi bersujud syukur. H-yi tidak kuat menahan sakit perut akhirnya boker di area puncak. Dan aku hanya menjadi saksi ekspresi kawan-kawan karena aku hampir tidak percaya bisa menjadi team leader yang berhasil mencapai 4 puncak. Hal ini dikarenakan profil anggota tim ini tidak begitu menyakinkan untuk bisa mencapai 4 Puncak. Andi baru pertama kali mendaki maka kami membuatkan seremonial kecil namun mistis dan hikmat sebagai tanda bahwa Andi telah menjadi pendaki seperti kami dan nilai diklatnya adalah cum laude!
Tidak lupa kami kabarkan keadaan kami dan sukses kami mencapai 4 puncak pada kawan-kawan yang telah mendoakan misi ini. Andi juga menelpon beberapa kawan. Ternyata sinyal Indosat lebih kuat dibandingkan sinyal Telkomsel. Jam 14.20 WIB perjalanan turun dimulai.
Perjalanan Turun
Fisik rentan cidera ketika melakukan perjalanan turun gunung. Dan kini cidera mulai terasa sampai di Pos Air Lembah Kidang kami benar-benar butuh recovery. Namun karena waktu yang mepet karena target malam ini harus sampai di Pos Perijinan maka kami hanya berhenti sejam untuk masak, makan dan istirahat. Fiuh, ini benar-benar disebut petualangan: limit waktu, limit tenaga dan limit-limit yang lain namun target harus dapat.
Kami melakukan perjalanan gelap sejak Pos Air Lembah Kidang. Dan ketika sampai di jalur berbatu kejenuhan kembali muncul. Menjelang sampai di Kop-kopan pisau belati Santo diketahui jatuh. Aku dan Santo kembali naik ke atas untuk mencari pisau itu. Syukurlah pisau itu bisa diketemukan. Sesampai di Kop-kopan kami langsung di sambut anak Unair yang menanyakan ransum. Kami langsung geleng kepala karena seumur-umur belum pernah daki gunung bawa ransum. Setelah mendengar penjelasan anak Unair itu ternyata mereka dalam kesulitan. Dua dari 4 yang ada di Kop-kopan sakit dan salah satunya tergolong parah. Cewek itu kena komplikasi (kram perut, hipertmia, kolaps, muntah-muntah, kondisi sedang datang bulan). Apalagi emosi mereka lagi di ubun-ubun. Ternyata mereka ditinggal oleh 3 kawan yang lain dan semua makanan ikut terbawa turun.
Kami dengan sigap merebus air untuk buat energen dan mie agar mereka ada tenaga untuk melalui malam ini. Memberikan obat dan konterpin untuk mengurangi kram dan sakit perut. Dua jam kemudian keadaan mulai terkendali dan kami tinggalkan blue gas, mie instan dan roti agar mereka esok hari ada tenaga untuk turun.
Karena kaki kami semua sudah tidak karuan rasanya maka perjalanan dari Kop-kopan yang dimulai dari jam 23.30 WIB sampai di Perijinan jam 01.30 WIB. Jadi agak lama. Total waktu yang dibutuhkan misi ini mulai perjalanan dan sampai lagi ke Pos Perijinan Tretes adalah 53 jam. Namun kami bersyukur karena akhirnya kami bisa sampai Surabaya pukul 04.30 WIB dan aku sendiri sampai di kosan jam 05.00 WIB. Sementara H-yi masuk dinas sebagai PNS di Jombang, Santo dan Andi bertugas untuk menjaga Ujian, aku dengan nyaman terlelap seharian di kamar kosan. Inilah masa ternikmat memiliki kebebasan waktu.
Terima kasih Tuhan atas karuniamu ini!
NB: Terima kasih khusus kusampaikan kepada kawan yang sudah seperti saudara: H-yi, Santo dan Andi. Mendaki bersama kalian membuatku semakin percaya diri bahwa aku mampu melihat kemampuan rekan seperjalanan dan mensinergikan itu semua untuk melahirkan sebuah tim yang tangguh.
Jumat 24 April 2009 pukul 20.30 WIB kami berempat:
1. Saiful Amin "Pendaki Rewel" melaunching model rambut baru
2. Dwi Asepta Hariyadi "H-yi"
3. Santo Andrian "Pendaki Sunyi"
4. Andi Wahono "Pendaki Manja"
meninggalkan Pos Perijinan Pendakian Tretes untuk mengawali perjalanan kaki ini.
Rute yang kami lalui diawali jalan beraspal kemudian jalan bersemen hingga pintu gerbang terakhir tepat di atas Pet Bocor. Selanjutnya jalan yang kami lalui berupa tanjakan berbatu yang membosankan hingga kami memutuskan untuk mendirikan tenda di Kop-kopan untuk bermalam pada pukul 23.30 WIB.
Pukul 05.00 WIB Santo membangunkan kami. Pagi yang cerah ini kami isi dengan kegiatan memasak, sarapan, mengambil gambar, dan mandi. Tepat pukul 06.30 WIB kami memulai perjalanan menuju Pondokan Penambang Belerang.
Masih sama dengan rute sebelumnya, jalan yang kami lalui berupa tanjakan berbatu yang membosankan. Setelah melalui beberapa kelokan menanjak kami mendapati pipa saluran air yang dibuatkan lubang di bagian atasnya sehingga memudahkan untuk mengisi air dan beberapa kelokan selanjutnya ada gubuk penambang belerang yang bisa menjadi alternatif bermalam. Jalan berbatu nan membosankan berakhir di Pos Penimbangan Belerang yang sekarang menjadi Pos Terakhir kendaraan pengangkut belerang. Setengah jam kemudian sampailah kita di Pos Pondokan Penambang Belerang. Di tempat ini kami mengisi air sejumlah 11 Liter untuk berempat dengan estimasi kebutuhan 1,5 hari karena target kami mendaki Puncak Welirang, Kembar 1, Kembar 2 dan Arjuna tidak lebih dari 1,5 hari dari Pondokan ini.
Pukul 10.00 WIB kami memulai perjalanan dari Pondokan. Awal-awal rute sangat menyenangkan karena bebas dari jalanan berbatu. Namun akhirnya jalan terjal berbatu kembali menyambut kami. Pukul 12.00 WIB kami diserang kantuk hebat. Kami memutuskan istirahat siang sambil memasakan mie instan dan energen. Sesaat kami merasakan nikmatnya tidur siang dan kemudian telah terengah-engah lagi dalam derap langkah menuju Puncak Gunung Welirang.
Puncak Welirang
Pukul 14.30 WIB kami sampai di lembah pertemuan jalur Welirang dan Kembar 1. Lembah ini kami sebut Lembah Kematian. Kami ambil jalur ke kanan melewati tebing dengan sajian eksotika Pohon Cantigi Purba yang sangat menakjubkan. Rasa penasaran terhadap aktivitas para penambang belerang mengantarkan kami terlebih dahulu menuju dapur belerang dan menghabiskan waktu yang cukup lama untuk mengambil gambar, menghirup aroma belerang dan menikmati indahnya kepulan asap belerang. Sejam kemudian kami telah berada di Puncak Welirang dan melakukan sujud syukur dengan ransel di punggung karena kebahagiaan tiada tara yang kami rasakan. Berdasarkan hasil GPS terukur ketinggian Puncak Welirang adalah 3.214 m dpl.
Pukul 17.00 WIB kami tidak mampu lagi bertahan di Puncak Welirang. Kabut, angin, dan dingin membuat kami bergegas turun meninggalkan Puncak Welirang dan setengah jam kemudian telah sampai di Lembah Kematian. Di tempat ini kami bermusyawarah mengenai target pendakian yang kemungkinan besar tidak akan mampu kami capai mengingat Senin, 27 April ketiga kawan yang lain sudah masuk kerja.
Kami mempertimbangkan dua opsi, yaitu mendaki Arjuna atau mendaki Kembar 1 dan Kembar 2 karena dalam perhitungan kami mencapai salah satu opsi saja sudah menghabiskan waktu sehari. Diluar dugaan ternyata kawan-kawan semua menginginkan Arjuna. Namun persoalan yang muncul adalah jarak Welirang ke Arjuna sangat jauh. Kondisi fisik juga yang tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan lagi dan sandikala juga sudah bersiap menyambut gelap. Akhirnya kami memutuskan untuk mendaki yang lebih dekat, yaitu Gunung Kembar 1 dan malam ini kami menghabiskan waktu di Lembah Kematian.
Semalaman kami kedinginan. Keliatannya Andi terlalu banyak menghirup debu sehingga berkali-kali bersin di sepanjang malam. Atau mungkin juga masuk angin karena tidak ada matras dan sleeping bag tidak bisa dipakai karena basah kena air dari jirigen yang bocor. Nasib yang sama juga dialami H-yi dan Santo. Bahkan Santo berkali-kali seperti Handphone yang ditelpon tapi tidak pernah diangkat (bergetar terus e e e). Hanya aku yang beruntung bisa tidur dalam sleeping bag tanpa alas matras.
Lagi-lagi Santo yang memegang kendali waktu membangunkan kami pukul 05.00 WIB. Selain sarapan, pagi yang cerah ini kami habiskan dengan mengeksplor sunrise. Mengabadikan momen terindah sebagai kenangan pribadi dan oleh-oleh buat kawan-kawan di Surabaya. Pukul 06.30 WIB kami mulai mendaki Gunung Kembar 1.
Gunung Kembar 1
Seluruh anggota tim belum pernah ada yang mendaki ke Gunung Kembar 1. Namun dari keterangan seorang Penambang Belerang yang meminta obat sakit perut maka yakinlah kami untuk membuat sendiri rute pendakian. Kami tidak mengalami kesulitan membuat jalur ke Gunung Kembar 1 karena saat berada di Puncak Welirang kami telah melihat Puncak Gunung Kembar 1.
Benar saja, sejam kemudian kami telah berdiri di Puncak Gunung Kembar 1. Puncak Gunung Kembar 1 juga memiliki semburan gas yang menyebar hampir di semua titik puncak dan terbesar tepat di puncaknya. Sempat ngeri juga ketika mengambil gambar diri di puncak sedangkan kondisi puncak rawan longsor yang terlihat dari menurunnya lipatan batu dari semburan gas.
Puncak Gunung Kembar 1 memberikan ruang pandang yang jelas untuk mencapai Puncak Gunung Kembar 2. Hal ini meningkatkan kepercayaan diri kami. Bahkan kami mulai optimis akan mendapatkan Puncak Gunung Arjuna.
Gunung Kembar 2
Kami melakukan potong kompas untuk sampai di kaki Gunung Kembar 2. Dan benar saja, sesampai di Lembah Pelana Kuda kami menemukan jalur menuju Puncak Gunung Kembar 2. Setelah terengah-engah di sepanjang jalur menanjak akhirnya kami sampai di puncak pukul 09.00 WIB.
Area Puncak Gunung Kembar 2 lebih tinggi dibandingkan Puncak Kembar 1. Berdasarkan alat pengukur ketinggian yang dibawa H-yi (GPS MAP) tinggi Gunung Kembar 1 hanya 2.980 m dpl sedangkan tinggi Gunung Kembar 2 mencapai 3.180 m dpl.
Puncak Arjuna dari Puncak Gunung Kembar 2 terlihat sangat jelas. Mulai dari Lembah Kidang, Alas Lali Jiwo, Lembah Babi dan Lembah Pramuka, Dieng, sampai Puncak Ogal-agil. Menggapai Puncak Kembar 2 memberi kami keyakinan untuk mampu sampai ke Puncak Arjuna lebih cepat dengan melakukan potong kompas untuk sampai di jalur resmi menuju Puncak Arjuna. Sebagai patokan adalah turun menuju lembah kecil, yakni Lembah Pramuka.
Jalur potong kompas ini memiliki kemiringan lebih dari 70 derajat. Kami mensiasati dengan membuat rute zig-zag namun tetap saja beberapa bagian harus kami lalui dengan jatuh bebas. Berguling-guling. Tapi kami melaluinya dengan perasaan gembira dan tertawa-tawa ketika terjatuh maupun terperosok. Andi sempat kepergok ular namun tidak sampai digigit. Sesampai di Lembah Pramuka kami beristirahat dan sesekali geleng-geleng kepala melihat betapa curamnya jalur yang kami lalui. Kami sempatkan berdoa di sebuah penanda yang menunjukkan adanya kuburan sebelum melanjutkan perjalanan ke Puncak Arjuna.
Gunung Arjuna
Pukul 10.30 WIB kami melanjutkan perjalanan menuju Puncak Arjuna dengan menggunakan jalur yang telah ada. Pukul 12.25 WIB kami bertemu dengan 3 anak Unair dari Jurusan Psikologi yang memperkenalkan kelompoknya dengan sebutan 'Abimapala' kependekan dari Arek Biasa Macak Pecinta Alam. Sebenarnya di Pondokan Belerang kami sudah bertemu mereka namun mereka mendaki ke puncak dengan sistem estafet agar bisa menghemat tenaga. Separuh mendaki, separuh jaga base camp. Ternyata kawan dari Unair ini melihat kami berjumpalitan menuruni Gunung Kembar 2 ketika mereka menapaki jalur menuju puncak Arjuna.
Sisa-sisa tenaga yang kami miliki ternyata masih mampu mencapai Puncak Arjuna 3.339 m dpl tepat pukul 13.30 WIB. Kami memfokuskan diri di area Singgasana Arjuna. Sebuah batu yang menyerupai tempat duduk. H-yi menceritakan bahwa Prabu Airlangga mendaki ke Puncak Arjuna untuk menentukan letak Ibu Kota Kahuripan yang sekarang tempat semburan lumpur panas, Porong.
Kulihat wajah-wajah gosong namun berbinar-binar menyiratkan kebahagiaan tiada tara dari kawan-kawan. Kawan-kawan memiliki ekspresi yang cukup unik. Santo berkali-kali berteriak. Andi bersujud syukur. H-yi tidak kuat menahan sakit perut akhirnya boker di area puncak. Dan aku hanya menjadi saksi ekspresi kawan-kawan karena aku hampir tidak percaya bisa menjadi team leader yang berhasil mencapai 4 puncak. Hal ini dikarenakan profil anggota tim ini tidak begitu menyakinkan untuk bisa mencapai 4 Puncak. Andi baru pertama kali mendaki maka kami membuatkan seremonial kecil namun mistis dan hikmat sebagai tanda bahwa Andi telah menjadi pendaki seperti kami dan nilai diklatnya adalah cum laude!
Tidak lupa kami kabarkan keadaan kami dan sukses kami mencapai 4 puncak pada kawan-kawan yang telah mendoakan misi ini. Andi juga menelpon beberapa kawan. Ternyata sinyal Indosat lebih kuat dibandingkan sinyal Telkomsel. Jam 14.20 WIB perjalanan turun dimulai.
Perjalanan Turun
Fisik rentan cidera ketika melakukan perjalanan turun gunung. Dan kini cidera mulai terasa sampai di Pos Air Lembah Kidang kami benar-benar butuh recovery. Namun karena waktu yang mepet karena target malam ini harus sampai di Pos Perijinan maka kami hanya berhenti sejam untuk masak, makan dan istirahat. Fiuh, ini benar-benar disebut petualangan: limit waktu, limit tenaga dan limit-limit yang lain namun target harus dapat.
Kami melakukan perjalanan gelap sejak Pos Air Lembah Kidang. Dan ketika sampai di jalur berbatu kejenuhan kembali muncul. Menjelang sampai di Kop-kopan pisau belati Santo diketahui jatuh. Aku dan Santo kembali naik ke atas untuk mencari pisau itu. Syukurlah pisau itu bisa diketemukan. Sesampai di Kop-kopan kami langsung di sambut anak Unair yang menanyakan ransum. Kami langsung geleng kepala karena seumur-umur belum pernah daki gunung bawa ransum. Setelah mendengar penjelasan anak Unair itu ternyata mereka dalam kesulitan. Dua dari 4 yang ada di Kop-kopan sakit dan salah satunya tergolong parah. Cewek itu kena komplikasi (kram perut, hipertmia, kolaps, muntah-muntah, kondisi sedang datang bulan). Apalagi emosi mereka lagi di ubun-ubun. Ternyata mereka ditinggal oleh 3 kawan yang lain dan semua makanan ikut terbawa turun.
Kami dengan sigap merebus air untuk buat energen dan mie agar mereka ada tenaga untuk melalui malam ini. Memberikan obat dan konterpin untuk mengurangi kram dan sakit perut. Dua jam kemudian keadaan mulai terkendali dan kami tinggalkan blue gas, mie instan dan roti agar mereka esok hari ada tenaga untuk turun.
Karena kaki kami semua sudah tidak karuan rasanya maka perjalanan dari Kop-kopan yang dimulai dari jam 23.30 WIB sampai di Perijinan jam 01.30 WIB. Jadi agak lama. Total waktu yang dibutuhkan misi ini mulai perjalanan dan sampai lagi ke Pos Perijinan Tretes adalah 53 jam. Namun kami bersyukur karena akhirnya kami bisa sampai Surabaya pukul 04.30 WIB dan aku sendiri sampai di kosan jam 05.00 WIB. Sementara H-yi masuk dinas sebagai PNS di Jombang, Santo dan Andi bertugas untuk menjaga Ujian, aku dengan nyaman terlelap seharian di kamar kosan. Inilah masa ternikmat memiliki kebebasan waktu.
Terima kasih Tuhan atas karuniamu ini!
NB: Terima kasih khusus kusampaikan kepada kawan yang sudah seperti saudara: H-yi, Santo dan Andi. Mendaki bersama kalian membuatku semakin percaya diri bahwa aku mampu melihat kemampuan rekan seperjalanan dan mensinergikan itu semua untuk melahirkan sebuah tim yang tangguh.
Minggu, 08 Maret 2009
Diklat SAR Banyuwangi Independent II
Permulaan
Adalah kemuliaan ketika kita bisa melahirkan manusia-manusia yang memiliki kepedulian dan
skill ketika suatu bencana melanda. Oleh karenanya ketika aku mendapatkan undangan dari
Banyuwangi SAR Independent (BSI) untuk turut serta berpartisipasi dalam Kawah Candradimuka (Diklat) yang akan melahirkan manusia-manusia tanggap bencana hati ini sunguh berbahagia. Meski pemberitahuan tersebut hanya berselisih 3 jam dari jadwal keberangkatan kereta api (KA) ekonomi Sritanjung Surabaya-Banyuwangi namun itu sama sekali tidak menghalangiku untuk bisa meluncur bersamanya dengan persiapan maksimal.
Aku berangkat dari Stasiun Gubeng di Sabtu Sore, 28 Februari 2008 dan sampai pukul 22.00 WIB di Stasiun KA Temuguruh Sempu Banyuwangi.
Lokasi TKP (Tempat Kejadian Perkara) yang menjadi Kawah Candradimuka Diklat Banyuwangi SAR Independent adalah Mangaran yang masih berada di kaki Gunung Raung. Untuk sampai di tempat aku dijemput saudara alamku, Pepeng.
Apa yang terjadi?
Bagiku, diklat adalah salah katalisator utama merestrukturisasi segala potensi dan kekurangan diri. Hal ini disebabkan dua unsur utama yang ingin dicapai dalam kegiatan diklat adalah perubahan cara pandang-sikap (tidak kasat mata) dan kemampuan teknis (kasat mata). Oleh karena itu diklat harus didesain sedemikian rupa sehingga kedua unsur tersebut tercapai.
Perbincangan intens dengan Ketua Umum Banyuwang SAR Independent, saudara alam sekaligus guru alamku, Evil Face menginginkan proses diklat yang bersifat alamiah (bukan situasional). Mengalir namun terencana. Hidup dan fluktuatif.
Bagaimanapun tidak dapat dipungkiri bahwa operasi SAR/kegiatan SAR adalah reactive operation/reactive activity. Hal ini disebabkan kejadian bencana selalu bersifat dadakan (stealing) sehingga diklat SAR harus juga menganut filosofi 'bencana datang tanpa permisi'. Jadi sewaktu-waktu kita harus siap (standby).
Berdasarkan kenyataan bahwa bencana selalu datang secara mendadak meski bisa diprediksi maka konsep diklat ini ditekankan pada aspek responsif dan reaktif peserta diklat. Tidak ada pemberitahuan jadwal kegiatan secara menyeluruh/terperinci sehingga peserta diklat akan bertanya-tanya dalam hati kegiatan selanjutya. Aspek kewaspadaan juga ditekankan meliputi kewaspadaan diri, kawan, lingkungan, dan korban.
Prinsip "Jangan sampai yang nge-SAR malah di-SAR (baca: yang nyari malah dicari dan yang mau menyelamatkan malah diselamatkan)" menjadi doktrin. Suatu ironi bila hal ini terjadi pada tim SAR!
Agar tidak terjadi kesenjangan (gap) antara teori dan praktek maka peserta diberikan simulasi yang hampir menyerupai kondisi nyata ketika suatu operasi SAR dilakukan.
Simulasi?
Peserta diberikan simulasi bahwa telah hilang dua orang penjelajah di area tebing antara dua pegunungan yang kemungkinan tebing tersebut dibawahnya merupakan aliran sungai melihat dari karakteristik wilayah yang ada di Peta. Dengan informasi terbatas dan peralatan terbatas (serba limit) serta medan yang berat (hutan, hujan, terjal, tebing, sungai) para peserta bergerak untuk melakukan operasi SAR.
Tidak dapat dipungkiri bahwa kita panitia terlalu overestimate dengan memberikan medan yang terlalu berat. Maklum, para peserta adalah SISPALA (Siswa Pecinta Alam). Meski begitu para
peserta telah menunjukkan pertanda sebagai Penge-SAR sejati. Pantang menyerah meski diguyur hujan lebat. Tidak takut meski menuruni tebing curam. Dan tidak mengeluhkan fisik yang capek.
Sebuah permulaan yang baik!
Adalah kemuliaan ketika kita bisa melahirkan manusia-manusia yang memiliki kepedulian dan
skill ketika suatu bencana melanda. Oleh karenanya ketika aku mendapatkan undangan dari
Banyuwangi SAR Independent (BSI) untuk turut serta berpartisipasi dalam Kawah Candradimuka (Diklat) yang akan melahirkan manusia-manusia tanggap bencana hati ini sunguh berbahagia. Meski pemberitahuan tersebut hanya berselisih 3 jam dari jadwal keberangkatan kereta api (KA) ekonomi Sritanjung Surabaya-Banyuwangi namun itu sama sekali tidak menghalangiku untuk bisa meluncur bersamanya dengan persiapan maksimal.
Aku berangkat dari Stasiun Gubeng di Sabtu Sore, 28 Februari 2008 dan sampai pukul 22.00 WIB di Stasiun KA Temuguruh Sempu Banyuwangi.
Lokasi TKP (Tempat Kejadian Perkara) yang menjadi Kawah Candradimuka Diklat Banyuwangi SAR Independent adalah Mangaran yang masih berada di kaki Gunung Raung. Untuk sampai di tempat aku dijemput saudara alamku, Pepeng.
Apa yang terjadi?
Bagiku, diklat adalah salah katalisator utama merestrukturisasi segala potensi dan kekurangan diri. Hal ini disebabkan dua unsur utama yang ingin dicapai dalam kegiatan diklat adalah perubahan cara pandang-sikap (tidak kasat mata) dan kemampuan teknis (kasat mata). Oleh karena itu diklat harus didesain sedemikian rupa sehingga kedua unsur tersebut tercapai.
Perbincangan intens dengan Ketua Umum Banyuwang SAR Independent, saudara alam sekaligus guru alamku, Evil Face menginginkan proses diklat yang bersifat alamiah (bukan situasional). Mengalir namun terencana. Hidup dan fluktuatif.
Bagaimanapun tidak dapat dipungkiri bahwa operasi SAR/kegiatan SAR adalah reactive operation/reactive activity. Hal ini disebabkan kejadian bencana selalu bersifat dadakan (stealing) sehingga diklat SAR harus juga menganut filosofi 'bencana datang tanpa permisi'. Jadi sewaktu-waktu kita harus siap (standby).
Berdasarkan kenyataan bahwa bencana selalu datang secara mendadak meski bisa diprediksi maka konsep diklat ini ditekankan pada aspek responsif dan reaktif peserta diklat. Tidak ada pemberitahuan jadwal kegiatan secara menyeluruh/terperinci sehingga peserta diklat akan bertanya-tanya dalam hati kegiatan selanjutya. Aspek kewaspadaan juga ditekankan meliputi kewaspadaan diri, kawan, lingkungan, dan korban.
Prinsip "Jangan sampai yang nge-SAR malah di-SAR (baca: yang nyari malah dicari dan yang mau menyelamatkan malah diselamatkan)" menjadi doktrin. Suatu ironi bila hal ini terjadi pada tim SAR!
Agar tidak terjadi kesenjangan (gap) antara teori dan praktek maka peserta diberikan simulasi yang hampir menyerupai kondisi nyata ketika suatu operasi SAR dilakukan.
Simulasi?
Peserta diberikan simulasi bahwa telah hilang dua orang penjelajah di area tebing antara dua pegunungan yang kemungkinan tebing tersebut dibawahnya merupakan aliran sungai melihat dari karakteristik wilayah yang ada di Peta. Dengan informasi terbatas dan peralatan terbatas (serba limit) serta medan yang berat (hutan, hujan, terjal, tebing, sungai) para peserta bergerak untuk melakukan operasi SAR.
Tidak dapat dipungkiri bahwa kita panitia terlalu overestimate dengan memberikan medan yang terlalu berat. Maklum, para peserta adalah SISPALA (Siswa Pecinta Alam). Meski begitu para
peserta telah menunjukkan pertanda sebagai Penge-SAR sejati. Pantang menyerah meski diguyur hujan lebat. Tidak takut meski menuruni tebing curam. Dan tidak mengeluhkan fisik yang capek.
Sebuah permulaan yang baik!
Langganan:
Postingan (Atom)

