Setelah melakukan pemanasan di Gunung Argopuro Jawa Timur maka mulailah pergerakan diarahkan ke target besar lainnya yaitu gunung-gunung di Jawa Tengah. Berikut ini cerita selanjutnya 'Kisah Pendakian Estafet 7 Gunung di Penghujung Tahun 2008 dan Awal Tahun 2009 Bersama LaPenDoS-LelakiPenuhDosananSunyi (Bagian 2)'.
GUNUNG SLAMET
Gunung Slamet merupakan gunung tertinggi di Jawa Tengah dan merupakan gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa setelah Gunung Semeru dengan ketinggian 3.432 m dpl. Gunung Slamet merupakan target pendakiat estafet kedua dan didaki melalui jalur sebelah timur Bambangan. Kami bertiga mendaki bersama anak Mamira, Pecinta Alam dari FMIPA UNSOED Purwokerto yang sedang menempuh pengembaraan untuk menjadi Anggota Panuh (AP).
KISAH PENDAKIAN GUNUNG SLAMET VIA JALUR BAMBANGAN
Sabtu, 20 Desember 2008 pukul 16.30 WIB kami berangkat dari kampus UNSOED bersama PA Mamira yang berjumlah 12 orang. Kami sangat tertolong kebaikan PA Mamira sehingga kendala transportasi dapat teratasi. Kami ikut menumpang kendaraan carteran mereka. Pukul 18.30 WIB kami telah sampai di Bambangan. Kami beristirahat dan melengkapi sisa logistik yang masih kurang serta makan malam sebelum berangkat. Kami memulai perjalanan pukul 20.15 WIB dengan total rombongan 15 orang.
Perjalanan malam ini begitu menggoda dan menyenangkan setelah seharian santai di sekretariat Jagraweçya FE UNSOED. Namun suasana enjoy ini tidak berlangsung lama karena lambat laun perjalanan malam ini menjadi tidak nyaman. Hal in disebabkan medan yang belum terkenali sebelumnya, licin dan gelap serta alat penerangan yang tidak maksimal. Hujan pun turut menambah suasana menjadi semakin tidak kondusif. Kami pun terhenti sejenak untuk mengenakan jas hujan hingga sampai memasuki beberapa bagian dari hutan aku teringat kalau tas kecilku tertinggal di tempat berhenti untuk mengenakan jas hujan dimana harta bendaku tersimpan disana-Kamera, Harddisk eksternal, dompet dan beberapa benda penting lainnya. Kuminta Indra dan Hendy untuk berhenti. Indra menunggu sedangkan aku dan Hendy turun ke bawah mencari tas kecilku. Rupanya gelap membuatku sulit mengenali tempat semula dan karena khawatir Indra menunggu terlalu lama aku memutuskan kembali ke tempat Indra menunggu dan mendirikan tenda saja. Begitu pikirku yang terbaik menghadapi situasi seperti ini. Sesampai di tempat Indra menunggu ternyata teman-teman Mamira balik turun lagi karena mereka mengambil kesimpulan bahwa jalur yang sejak tadi dilalui keliru. Kami semua bergegas turun lagi dan dalam perjalanan turun itu tas kecilku tertemukan. Jam 23.00 WIB di suatu tempat yang cukup untuk mendirikan 3 tenda kamipun memutuskan berhenti dan bermalam.
Minggu, 21 Desember 2008 di sebuah pagi yang cerah dan tentunya juga karena Mas Rois mencerahkan kami melalui petunjuk jalur yang diberikannya pada kami. Mas Rois merupakan orang lokal dimana rumahnya tepat di depan Base Camp Slamet jalur Bambangan. Aku terkesan akan kepeduliannya pada para pendaki Gunung Slamet. Hanya butuh 6 jam seluruh anggota rombongan sampai di Pos 5: Sahyang Rangkah.
Pos 5: Sahyang Rangkah merupakan suatu tempat hentian yang sangat representatif untuk sekedar istirahat, memasak dan makan, mengambil air dan tentunya bermalam karena terdapat pondok yang bisa melindungi diri dari angin dan hujan. Setelah makan siang pukul 15.00 WIB aku dan Andik-salah satu anak Mamira-berangkat ke puncak untuk melihat sunset. Hanya butuh sekitar 2 jam untuk sampai di Puncak Slamet. Kami berdua mendapatkan sunset yang sangat sempurna namun tersiksa akibat terjangan angin dan dingin. Aku dan Andik mengalami gejala hipotermia karena tidak membawa jaket hangat. Aku hanya membawa jas hujan dan Andik membawa jaket tipis dan bersandal jepit. Tangan dan kaki Andik sudah tidak mampu lagi merasakan sentuhan. Hanya ngilu dan ngilu setiap terantuk batu dan kerikil sehingga perjalanan untuk turun menjadi sangat lama dan menyiksa karena harus menahan terjangan angin dan dingin. Tetapi akhirnya kami bisa sampai di Pos 5: Sahyang Rangkah dengan selamat dan sehat. Kesekian kalinya aku mendapat pelajaran untuk tidak pernah meremehkan gunung.
Senin, 22 Desember 2008 di sebuah pagi yang tidak kalah cerah dengan kemarin aku mendaki lagi bersama kawan yang lain ke Puncak Slamet. Setelah berpuas diri dengan matahari terbit di Pos 7 dan sambil menunggu kawan yang lain, aku bergegas menuju puncak. Di Pelawangan Indra terlihat duduk menelpon Gemblung. Kamipun mendaki bersama ke Puncak. Menembus angin dan kabut. Karena tidak ada teman yang mengetahui dimana letak puncak sejati maka aku pun turun dan berkeliling mencari puncak sejati. Dengan metode feeling aku menemukan tumpukan batu dengan sebuah In Memoriam Masrukhi dan kawan-kawan. Setelah memainkan kamera Canon-ku di beberapa objek aku pun bergegas balik ke tempat kawan-kawan berkumpul.
Kawan-kawan Mamira memutuskan turun setelah se-jam-an di puncak sedangkan aku, Indra dan Hendy masih duduk menikmati apa yang ada. Di area puncak Gunung Slamet aku merasa berada di pangkuan Ibuku. Memang begitulah suasana yang kurasakan setiap berada di gunung. Duduk di beberapa tempat seperti berada di pangkuan Ibuku. Sampai saat ini jika jiwaku butuh serapan energi maka hanya 2 tempat yang akan kutuju: pulang ke Rumah Lamongan (orang tua) dan atau mendaki gunung. Kedua tempat ini merupakan obat ketika aku merasa Sakaw!
Jalur pendakian Gunung Slamet melalui Bambangan sebenarnya jalur yang telah dikelola dengan baik dan banyak didaki. Hal ini terlihat dari penanda jalan yang cukup lengkap. Pendaki yang kurang cermat kemungkinan keliru di pertigaan persis di seberang Gapura Bambangan dan di ladang penduduk. Waktu yang dibutuhkan untuk turun juga cukup singkat kurang lebih 3-4 jam.
Sanjungan untuk Slamet
Aku menghirup udara dan jadilah aku hanya tinggal selongsong nafas
Kulit dan tulangku begitu bergantung dari udara yang bersemayam di belantaramu
Punggungku menjadi tegak meski berliter-liter beban di atasnya
Kyai Slamet begitu angkuh karenanya aku pun ikut angkuh
Meniru fitrah gunung yang angkuh
Kyai Slamet begitu misterius dengan jutaan simpanan
Aku pun menjadi sulit dikenali
Karena harapanku hanyalah menjadi penjaga pemilik harapan
Aku bersatu dalam pangkuan Ibuku, Gunung!
Dan mewarisi karakteristik purbanya yang penyayang!
GUNUNG MERBABU
Aku bertemu dengan Om Jawul dan kawan-kawan di Terminal Giwangan Yogyakarta setelah menempuh perjalanan Purwokerto-Yogyakarta via bus. Puncak Gunung Merbabu kami tempuh dari Thekelan (Kopeng/Salatiga) dan turun kembali lewat jalur selatan (Selo/Boyolali). Pemandangan yang sangat indah kami saksikan di sepanjang perjalanan tersebut di antaranya Gunung Merapi, Gunung Telomoyo, Gunung Ungaran. Gunung Merbabu ini membentuk garis deretan gunung berapi ke arah utara Merapi-Merbabu-Telomoyo-Ungaran.
KISAH PENDAKIAN GUNUNG MERBABU VIA THEKELAN SELO
Bumi masih berputar baik secara rotasi maupun revolusi sehingga aku pun terus bergerak mengikuti fitrahku mencari jati diri dari jalan merambah hutan dan mendaki gunung.
Bertolak dari Purwokerto di sebuah sore menuju Yogyakarta sampai malam via bus ekonomi diantar kawan-kawan Jagraweçya FE UNSOED. Sesampai di Yogyakarta aku diamankan kawan dari pecinta alam Sastra UGM, Ipang! Oleh Ipang aku diajak mampir di Sekretariat Bersama Lembaga Eksekutif Mahasiswa FIB UGM, melewatkan malam bersama kawan-kawan di SEKBER dan kemudian istirahat di tempatnya Ipang. Pagi harinya aku meluncur kembali ke Terminal Giwangan menyusul Om Jawul dan kawan-kawan.
Kamis, 25 Desember 2008 Om Jawul mengusulkan untuk mencarter taksi saja agar cepat sampai ke Kopeng. Setelah bernegoasiasi akhirnya kami mendapatkan harga 236 ribu rupiah dan berangkat dengan Toyota Avansa dengan supir Bapak Supari jam 09.30 WIB. Sesampai di Kopeng kami meminta Bapak Supari untuk mengantar langsung ke Thekelan karena kami akan menghabiskan banyak waktu jika menunggu angkutan pedesaan. Jam 12.00 WIB kami telah sampai di Base Camp Thekelan (1.596 m dpl).
Setelah beristirahat dan makan siang kami mulai pendakian Gunung Merbabu ini pada pukul 14.00 WIB. Baru saja melewati ladang penduduk aku dan kawan-kawan langsung kesengsem dengan panorama alam yang ditawarkan Gunung Merbabu di sepanjang perjalanan ini.
Pos Pending (1.800 m dpl) ditunjukkan oleh sebuah bangunan berukuran 5 X 10 m tanpa dinding penutup. Depan pos ini merupakan tebing yang sangat dalam dan curam. Tiba di Pos Pending terdapat 2 jalur menyimpang ke kiri dan ke kanan. Kami mengabil jalur kiri dimana merupakan jalur tebing yang licin dan curam.
Hidupku tidak sempurna tanpa meluangkan waktu bersama belantara dan pegunungan. Menjadi pendaki yang santun, sederhana, sabar dan penuh etika. Menjadi pendaki nomer wahid. Aku belum pernah hidup seperti ini. Sebuah gejala pencerahan mulai menyergapku. Kutulis di sepanjang perjalanan pendakianku. Hidupku. Kerinduan akibat ketagihan. Ketagihan karena pernah mencoba. Dan berakhirlah kemalangan ini di sebuah gunung dengan daya mistik yang kuat. Gunung Merbabu!
Menjelang petang kita berada di sebuah punggungan Gunung Watu Tulis di bawah menara pemancar. Kami memutuskan bermalam di sebuah tempat yang kami rasa aman dari terjangan angin kencang.
Jumat, 26 Desember 2008 menjelang matahari terbit kami melanjutkan perjalanan sambil terus bersyukur karena kami diberikan pagi yang cerah.
Hari ini berturut-turut kami lalui Gunung Watu Tulis, Kawah Mati, Jembatan Setan, Puncak Syarif (Gunung Pregodalem) dan Puncak Gunung Kenteng Songo untuk kemudian bergegas turun menuju Selo. Dalam rangkaian perjalanan menuju puncak itu kami beristirahat lama di Geger Sapi (Persimpangan Puncak Syarif dan Puncak Gunung Kenteng Songo). Seluruh anggota Tim belum pernah ada yang mendaki ke Gunung Merbabu sebelumnya sehingga untuk menentukan arah yang benar ke Jalur Selo didasarkan pada informasi yang diunduh dari internet. Untuk memastikan arah selatan Om Jawul mengeluarkan Kompas penunjuk arah sehingga kita yakin terhadap arah jalur yang dipilih.
Sore hari kami telah sampai di Base Camp Selo dan melanjutkan perjalanan menuju Base Camp Merapi. Menjelang petang kita sudah ada di meja makan warung dekat dengan Polsek Selo. Bersyukurlah kita!
GUNUNG MERAPI
Merapi berasal dari dua kata "meru" yang artinya gunung, dan "api" yang berarti gunung berapi. Merapi adalah salah satu gunung berapi yang teraktif di dunia. Mendengar nama Merapi akan terbayang sesuatu yang mengerikan, gunung ini masih aktif mengeluarkan asap berbau belerang dan sesekali menyemburkan lahar panas. Kami mendaki dari Utara (Selo) wilayah Boyolali.
KISAH PENDAKIAN GUNUNG MERAPI VIA SELO
Bagiku mendaki Gunung Merapi seperti melakukan rekreasi seperti biasa di akhir pekan. Suasana medan menantang dan panjang yang aku bayangkan ternyata seperti pepatah api jauh dari panggang. Apalagi setelah mengetahui bahwa hanya dalam tempo beberapa jam saja puncak sudah terdaki semakin membuatku kecewa dengan nama besar Gunung Merapi.
Aku hanya membawa daypack yang berisi air dan roti beserta Bendera Merah Putih dan piranti lainnya. Untuk antisipasi turunnya hujan aku juga membawa jas hujan.
Sabtu, 27 Desember 2008, dengan berjalan kaki di pukul 02.00 WIB dari Rumah Joglo kita disambut cuaca yang cukup bersahabat. Di depan dan di belakang terdapat rombongan lain yang juga dalam pendakian Gunung Merapi.
Pendakian kali ini merupakan pendakian pertamaku ke Merapi. Kesan pertama ini sungguh membuatku merasa ditipu nama besar Gunung Merapi yang ternyata hanyalah gunung teraktif di dunia sesudahnya hanyalah tempat rekreasi saja.
Pukul 04.30 WIB kita bersembunyi di salah satu batu besar di Pasar Bubrah untuk berlindung dari angin yang menusukkan pisau dingin. Di saat matahari terbit kami melakukan seremonial pengabadian momen dengan kamera yang kami bawa. Setelah itu kami bergegas ke Puncak Garuda setelah seorang guide memberikan penjelasan mengenai jalur yang benar menuju Puncak Garuda.
Aku tidak sabar ingin melihat puncak Garuda sehingga aku tidak lagi memperhatikan speed kawan-kawan yang lain. Akhirnya aku sampai dengan metode feeling dan insting seorang pemuja puncak sejati. Setengah jam kemudian kawan-kawan yang lain berteriak memanggil. Kuakui pagi ini kabut sangat tebal. Semburan gas di area Puncak Garuda juga memperpendek jarak pandang kami. Dalam jangkauan puluhan meter di area puncak kawan-kawan yang lain tidak mampu melihat wujudku yang berdiri di Puncak Garuda. Kupandu kawan-kawan yang lain dengan teriakkan sehingga akhirnya sampai juga di Puncak Garuda. “Ah, lama benar kemana saja?” ucapku bercanda. Kutahu kawan-kawan sudah ngos-ngosan karena kemarin baru saja turun dari Gunung Merbabu.
Aku dan kawan-kawan agak kecewa, Puncak Garuda tinggal separuh. Informasinya sih pecah ketika kemarin Gunung Merapi meletus.
NB: Tulisan ini murni pendapat pribadi
Blog ini representari dari rasa syukur atas kesehatan dan kesempatan dalam hidup ini untuk berbagi waktu dengan gunung dan belantara.
Senin, 02 Februari 2009
Jumat, 30 Januari 2009
Kisah Pendakian Estafet 7 Gunung di Penghujung Tahun 2008 dan Awal Tahun 2009 Bersama LaPenDoS-LelakiPenuhDosananSunyi (Bagian 1)
Overview
telah 2 hari ini kami idam-idamkan, Warung Makan!! Untuk sementara selesailah derita ini.
Pendakian estafet ini menyuguhkan ragam rintangan dan variasi tantangan yang berbeda dari pendakian-pendakian sebelumnya. Persahabatan, derita, luka, semangat, kesabaran, dan makna hidup memenuhi dimensi ruang dan waktu petualangan ini.
Awal mula keinginan melakukan pendakian estafet ini adalah disebabkan aku ingin mengakhiri kegemaran mendaki gunung dengan sebuah petualangan yang mengesankan. Adalah kehendakNya aku bisa menyelesaikan petualangan ini dengan hasil yang sangat memuaskan dari sisi batiniahku serta kesehatan dan kelapangan ruang dan waktu dari sisi lahiriahku. Akhirnya apa yang kuperkirakan terjadi juga, yaitu pendakian estafet ini harus kulalui tanpa teman perjalanan di Gunung Lawu. Namun meski begitu tetap saja aku tiada merasa seorang diri karena ini adalah aktivitas pengkajianku terhadap makna pendakian sebagaimana hipokrisi (kemunafikan) dan hipotesisku bahwa hanya pada gunung dan belantara udara paling murni bersemayam dan segala definisi hidup terurai.
Petualangan ini mencapai puncak 1) Argopuro, 2) Slamet, 3) Merbabu, 4) Merapi, 5) Sumbing, 6) Sindoro, 7) Ungaran, dan 7) Lawu. Namun Puncak Ungaran tidak terhitung karena tidak termasuk target awal petualangan sehingga hanya dianggap sebagai bonus perjalanan saja. Sedangkan kawan-kawan yang menyertai petualangan ini adalah campuran dari berbagai kelompok pendaki/pecinta alam dan pendaki freelance baik yang sudah janjian dulu maupun yang bertemu di perjalanan yang selalu tergugah kalbunya setiap mendengar nama gunung disebut serta tersentuh nuraninya setiap kisah perjalanan pendakian gunung diceritakan oleh lidah-lidah dalam mulut yang pernah menebal oleh dingin yang membekukan cita-cita.
Atas nama saling memberi, saling berbagi dan saling menguatkan kuucapkan:
Terima kasih untuk kawan-kawan yang menyertaiku ke Argopuro: Gemblung, Indra, Hendy dan Jali Ulun. Pendakian 5 hari di Gunung Argopuro dengan logistik 3 hari mampu meneguhkan ketahanan tubuh dan kesabaranku. Ketenanganku dalam menyikapi situasi yang fluktuatif diuji dan akhirnya benar-benar teruji di gunung ini.
Dua saudaraku yang setia menemaniku ke Slamet setelah juga berpayah dan berkelaparan ria di Gunung Argopuro: Indra dan Hendy. Aku yakin dengan sedikit treatment dan tambahan beberapa ritual lagi (pendakian) kalian berdua akan melampauiku. Dan merupakan suatu kehormatan bagiku bisa disertai dan menyertai kalian mencapai masa on fire dalam kegemaran merambah belantara dan mendaki gunung.
Jagraweçya FE UNSOED yang telah menunjukkan arti persahabatan yang begitu memukauku sehingga berat dan sedih ketika harus berpisah untuk melanjutkan perjalanan ke gunung berikutnya. Konser Raggae-nya sungguh berkesan. Voucher yang kuperoleh dari konser anniversary anak Program Diploma Bahasa Inggris UNSOED akan terus kusimpan semampuku. Seremonial perayaan ulang tahunku juga tidak terbayangkan sebelumnya. Pertama kalinya aku mendapatkan perayaan ulang tahun yang semeriah itu. Aku benar-benar merasa sangat tersanjung dan terharu. Aku merasa hidupku tidak akan sempurna jika aku belum membalas kebaikan kalian. Oleh karena itu segeralah buat acara petualangan ke gunung Jawa Timur atau hanya sekedar mampir ke Surabaya/Lamongan. Semoga saat itu aku diberikan keluasaan ruang dan waktu sehingga aku menjadi manusia yang mengerti dan mampu membalas budi.
Mamira FMIPA UNSOED yang menyediakan tempat untuk kami numpang nimbrung dan mengekor di belakang perjalanan kalian serta akhirnya menjadi teman pengembaraan ke Gunung Slamet sehingga kami dapat mencapai Puncak Slamet untuk pertama kalinya. Tanpa Mamira kami yakin akan lambat di transportasi dan rute perjalanan. Cerianya kawan-kawan di sepanjang perjalanan menyemarakkan dan menculikku dari lamunan yang merupakan kebiasaanku melalui rute pendakian.
Kelompok Merbabu-Merapi. Om Jawul-guru sekaligus kawan pendakian-yang tiada habis dalam memberikan uraian hikmah pendakian gunung. Sulit bagiku menandingi luapan semangat Om Jawul dalam setiap pembicaraan dan kegiatan pendakian gunung. Sugiharto, Koko, Ayub, Mashudi, dan Erik yang menyemarakkan Merbabu-Merapiku.
Kawan baikku yang berdomisili di kaki Gunung Sumbing (Garung), Ghani. Meski baru kenal di suasana maghrib itu Anda sudah menyediakan dimensi ruang dan waktu serta komputer untukku mentransfer data dokumentasi sehingga ruang dokumentasi untuk gunung yang lain di memory card-ku menjadi lebih luas. Suatu bentuk pertolongan yang tiada terkira berartinya bagi kesuksesanku dalam mengabadikan perjalanan ini.
Kawan baikku yang berdomisili di kaki Gunung Sumbing (Garung), Ghani. Meski baru kenal di suasana maghrib itu Anda sudah menyediakan dimensi ruang dan waktu serta komputer untukku mentransfer data dokumentasi sehingga ruang dokumentasi untuk gunung yang lain di memory card-ku menjadi lebih luas. Suatu bentuk pertolongan yang tiada terkira berartinya bagi kesuksesanku dalam mengabadikan perjalanan ini.
Saudara-saudaraku dari Semarang yang bertemu dalam pendakian Gunung Sumbing: P Kholid, P Lookman, P Mul, P Salim, Mas Gesang, Mas Wahab, Mas Malik, Mas Khafid, dan Mas Najik. Keakraban dan keramahan serta nuansa kekeluargaan yang sulit kutemukan tandingannya tersaji di sepanjang perjalanan dan sewaktu mampir ke Semarang. Betapa indahnya keseharian sebuah keluarga besar.
Teman-teman dari Solo ‘BTSLOPALA’ dan Pekalongan yang bertemu di pendakian Sindoro. Especially, Toni dan P Bambang ‘Tole’ yang menjadikan Solo begitu ramah dan serasa seperti di rumah sendiri. Tanpa kemurahan hati P Bambang ’Tole’ sulit rasanya mendapatkan malam tahun baru di Gunung Ungaran. Beragam kerepotan yang kutimbulkan tak sedikitpun mengurangi keramahan dan kesabaran Anda berdua. Bersahabat dengan Anda berdua serasa menembus batas/sekat dimensi ruang-waktu dan mencapai puncak-puncak pemahaman persahabatan dan persaudaraan.
Sahabat-sahabat dari Tawangmangu yang bersapa ria sewaktu di puncak Lawu ‘Argodumilah’ dan melewati malam dengan api unggun yang menghangatkan tubuh yang tinggal selongsong nafas ini. Fisik yang tinggal separuh tiba-tiba kembali utuh dalam menjalani turunan Cemoro Sewu yang angkuh. Joke khas Tawangmangu begitu me-refresh fisik dan mentalku yang sayah.
Pihak-pihak yang tidak dapat disebutkan secara detail dan formil seperti penguasa Base Camp di setiap gunung yang kudaki dan sapaan-sapaan pendaki lain baik yang naik maupun yang turun. Sukses pendakian estafet ini tentu tidak terlepas dari kontribusi semuanya.
NB: Urutan ucapan terima kasih ini hanya didasarkan pada waktu pertemuan bukan karena skala prioritas.
Kegiatan ini dimulai dari tanggal 12 Desember 2008 dan berakhir pada 6 Januari 2009 (26 hari). Lamanya waktu yang dihabiskan bukan karena medan pendakian gunung akan tetapi karena misi dibalik kegiatannya ini adalah menjalin persahabatan dan meneguhkan persaudaraan bagi teman-teman di Jawa Tengah yang telah bertemu sebelumnya maupun yang baru berjumpa dalam pendakian ini. Oleh karenanya hampir seperempat bagian waktu digunakan untuk tujuan tersebut berupa mampir ke Base Camp kawan-kawan. Berikut ini hasil tabulasi kegiatan.
Activity Tabulation Results
No
|
Nama Gunung
|
Waktu
|
Personil
|
Rute Transportasi (dari Surabaya)
|
1
|
Argopuro
(3.088 m dpl)
|
12 – 16/12/08
|
LaPenDoS-LelakiPenuhDosananSunyi, Gemblung, Jali-Ulun, Indra, Hendy
|
T Purabaya à Besuki à Baderan (Pos Perijinan) à Bremi à T Probolinggo à T Purabaya
|
2
|
Slamet
(3.432 m dpl)
|
20 – 23/12/08
|
LaPenDoS, Gemblung, Indra, Hendy, Mamira
|
St. Gubeng (SBY) à St. Purwokerto à T. Purbalingga à Serayu à Bambangan
|
3
|
Merbabu
(3.145 m dpl)
|
25 – 26/12/08
|
Om Jawul, LaPenDoS, Ayub, P Sugi, Koko, Mashudi n Erik
|
St. Gubeng (SBY) à St. Yogyakarta à Magelang à Kopeng à Thekelan
|
4
|
Merapi
(2.968 m dpl)
|
27/12/08
|
Om Jawul,LaPenDoS, Ayub, P Sugi, Koko, Mashudi n Erik
|
St. Gubeng (SBY) à St. Yogyakarta à Boyolali à Selo
|
5
|
Sumbing
(3.371 m dpl)
|
28 - 29/12/08
|
LaPenDoS, Kelompok Semarang
|
St. Gubeng (SBY) à St. Yogyakarta à Wonosobo à dsn Garung
|
6
|
Sindoro
(3.150 m dpl)
|
30 – 31/12/08
|
LaPenDoS, BTSLOPALA (Belakang Terminal Solo Pecinta Alam)
|
St. Gubeng (SBY) à St. Yogyakarta à Magelang à Temanggung à Kledung
|
7
|
Lawu
(3.265 m dpl)
|
04 – 06/01/09
|
LaPenDoS, Tawangmangu Genk
|
St. Gubeng (SBY) à St. Jebres Solo à Tawangmangu Cemorokandang
|
Activity Description
GUNUNG ARGOPUROGunung Argopuro adalah salah satu gunung yang memiliki rute pendakian yang cukup panjang. Diyakini merupakan rute terpanjang di Jawa (lebih dari 30 km). Gunung Argopuro juga menawarkan sisi entertainment bernilai tinggi. Skenario pendakian kali ini adalah start dari Baderan (Kab. Situbondo) dan finish di Bremi (Kab. Probolinggo). Secara umum rute pendakian yang dimiliki Gunung Argopuro penuh dengan bonus karena banyak jalan tolnya dengan ruas jalan beraspal padang rumput kering (savana rumput) dan rawa mati. Meskipun juga terkenal dengan 9 bukit penyiksaan.
KISAH PENDAKIAN GUNUNG ARGOPURO VIA BADERAN à BREMI
1. Sebagai awal mula pendakian estafet ini dipilih Gunung Argopuro. Selain untuk pemanasan, domisili gunung ini berada di Jawa Timur jadi dekat dengan tempat tinggal kami. Jumat, 12 Desember 2008 pukul 00.30 WIB kami berlima meluncur dari Terminal Purabaya Surabaya dengan Bus Ekonomi Jurusan Surabaya-Probolinggo. Ternyata jam segitu Bus Jurusan Surabaya-Situbondo sudah tidak ada. Jam 03.00 WIB sampai di Terminal Probolinggo dan ganti Bus ke Besuki Situbondo. Pukul 05.00 WIB kami telah sampai dan menunggu angkutan pedesaan sampai jam 06.30 WIB untuk menuju Pos Perijinan Baderan. Setelah hampir 2 jam kami bergelut dengan aroma khas ikan yang dikeringkan (digerêh) tidak sempurna akibat musim hujan sampailah kami di Baderan. Ternyata Pak Sugiono (Polisi Hutan) tidak ditempat sehingga kami menulis daftar nama yang mendaki di selembar kertas dan menyelipkannya di bawah pintu kemudian terus cabut (mendaki).
2. Pukul 08.30 WIB kami meluncur, berjalan melewati ladang-ladang yang segar dengan beragam tanaman. Musim penghujan ini benar-benar dimaksimalkan oleh penduduk di area ini. Suasana yang sungguh kontras dengan saat aku pertama kali kesini (Awal Juni-Musim Kemarau) yang hanya didominasi tembakau. Aku cukup kesulitan mengingat rute yang dulu pernah kulewati, tetapi dengan bantuan beberapa petani yang kami temui di sepanjang perjalanan sehingga kami tetap di jalur yang benar.
3. Kondisi jalan yang licin dan becek serta perut yang belum terisi menyebabkan perjalanan ini begitu lambat. Di sebuah gubuk kami berhenti cukup lama dan begitu pun di jam 10.30 WIB saat kami temui gubuk yang lain. Kami beristirahat hampir 2 jam!
4. Perjalanan dengan perut kosong terus berlanjut sampai akhirnya kami tiba di Pos Air 1 pukul 15.00 WIB. Kami memasak mie dan karena hujan turun maka kami putuskan mendirikan tenda bersama cacing-cacing tanah yang menggila jumlahnya. Hieeeek!!!
Terbuat dari apakah alam ini?
Semua begitu indah dan menyenangkan
Meski malam-malam sesekali riuh dan ribut oleh angin dan pohon tumbang
Aku begitu kerasan dengan suasana ini
Entah sampai kapan aku akan terhenti dari petualangan ini!!
5. Sabtu, 13 Desember 2008 di sebuah pagi yang cerah setelah semalaman turun hujan kami isi waktu dengan memasak dan menanti jemuran agak kering sehingga kulit tidak kaget menerima sentuhannya jika nanti dipakai lagi. Setelah melakukan senam pagi dengan diiringai musik ajeb-ajeb siaran radio lokal, pukul 09.00 WIB kami memulai perjalanan.
6. Butuh 3 jam untuk sampai di aloon-aloon kecil. Untuk sampai di Cikasur kami harus melalui kurang lebih 5 padang rumput lagi dengan masing-masing bukitnya. Inilah sisi entertainment yang selalu kurindukan. Hamparan rumput memutih di kala musim kemarau dan menghijau di kala musim hujan seperti ini sungguh menyentuh sisi hatiku yang terdalam. Pukul 15.00 WIB kami tiba di Cikasur dan setelah memasak untuk makan siang hujan turun sehingga kami memutuskan mendirikan tenda di dalam shelter Cikasur yang kehilangan dinding-dinding kayunya.
Cikasur
Pengalaman pribadi untuk kedua kalinya di tempat ini tetap saja suasana hati terasa haru sendu. View yang tersaji sangat unik dan futuristik. Di awal Bulan Juni 2008 lalu dominasi warna putih begitu kental. Cahaya pagi yang menyambar dipantulkan rerumputan kering menyalak putih keperakan dan kini warna hijau begitu dominan.
Di sudut utara terlihat pola rerumputan yang unik dimana warna kuning melingkari pohon kecil. Kami berlima bercengkerama sambil menikmati hujan yang turun. Aku jadi ingat lagu hujan milik Utopia Band. Bercerita tentang pengalaman masing-masing merambah hutan dan mendaki gunung. Jali Ulun bercerita tentang pendakian Gunung Gde-Pangrango. Penuh semangat Gemblung mendeskripsikan pendakian Semeru di Bulan Agustus 2008 lalu dan dipertegas oleh Indra dan Hendy, juga aku karena kita mendaki bersama-sama waktu itu.
Sampai pukul 20.00 WIB hujan tak kunjung reda. Kami bermain kartu di dalam tenda yang hangat. Satu tenda untuk berlima sedangkan tas karier kami taruh di luar dengan dibungkus plastik agar tidak basah kebetulan juga angin bertiup sepoi-sepoi. Malam berlangsung begitu sendu namun syahdu. Kurasakan seperti di rumah sendiri. Cikasur memang tempat yang luarbiasa-indah namun penuh dengan misteri. Kawan-kawan mulai terlelap dan aku asyik menikmati dan merenungi apa yang ada.
7. Minggu, 14 Desember 2008 pukul 08.00 WIB kami bergegas meninggalkan Cikasur. Setelah melewati tanjakan pertama kemudian bertemu dengan padang rumput sekelompok Merak menyambut kami dengan berlari cepat (kabur) sebelum Kamera Canon PowerShot A460-ku mengabadikan rupa dan bentuk mereka. Pukul 11.30 WIB kami sampai di Cisentor dimana terdapat sungai kecil dan shelter yang masih utuh dengan hiasan/tulisan vandalisme di seluruh bagiannya. 1,5 jam kemudian kami sampai di Rawa Embik yang diyakini sebagai bekas tempat Dewi Rengganis mengembalakan ternaknya (Kambing yang suka ngembik). Di Rawa Embik juga terdapat sungai kecil dan cocok untuk tempat terakhir mengambil air sebelum ke puncak. Pukul 15.30 WIB kami sampai di persimpangan dimana jika kami mengambil ke arah kanan berarti menuju Puncak Abadi Argopuro dan jika mengambil ke arah kiri menuju Puncak Abadi Dewi Rengganis. Setelah beristirahat setengah jam kami memutuskan ke Puncak Abadi Argopuro yang hanya membutuhkan waktu tidak sampai setengah jam untuk sampai di triangulasi berbentuk tumpukan batu sebagai penanda puncak dan jam 17.00 kami turun ke persimpangan dan kemudian naik ke Puncak Abadi Dewi Rengganis untuk bermalam disana.
8. Malam ini kami diberikan cuaca yang sangat bersahabat, kontras dengan 2 malam sebelumnya. Angin bertiup sepoi-sepoi dan langit memperlihatkan bintang dan bulan yang tinggal separuh. Kawan-kawan tertidur pulas sedangkan aku mengalami sedikit gangguan pencernaan sehingga di malam gulita harus mendadak terbangun.
9. Senin, 15 Desember 2008 pukul 05.00 WIB setelah menyiapkan segelas berisi air campuran Milo, Energen dan Susu, aku bergegas ke tempat favoritku ketika pertama kali ke Puncak Abadi Dewi Rengganis untuk melihat matahari terbit. Segala puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala nikmat yang telah diberikan kepada kami. Pagi ini kami dianugerahkan sunrise yang begitu indah. Muncul dari sisi selatan Gunung Raung yang terangkai dengan gunung yang lain-Merapi, Meranti, Kawah Ijen, Suket. Kami juga berlama-lama di sebuah tumpukan batu yang diyakini sebagai makam Dewi Rengganis. Setelah memasak mie dan nasi terakhir, pukul 08.00 WIB kami berjalan turun, melewati Rawa Embik dan sampai di Cisentor pukul 10.00 WIB. Kami mengisi persediaan air secukupnya. Sebenarnya ada sungai lagi di perjalanan pulang menuju Bremi namun karena ragu kami mengisi air di Cisentor. Dan benar saja, setengah jam perjalanan kami menemui sungai kecil namun airnya kurang bersih dan rimbun oleh tanaman ‘surprise’ yang kami biasa panggil ‘Jancukan’. Karena salah satu fisik kawan drop maka target untuk sampai di Pos Perijinan Bremi harus tertunda sampai besok. Berada pada malam yang gelap gulita dalam dekapan hutan-dekat taman hidup-kami terhenti dan bermalam dengan perut kosong.
10. Selasa, 16 Desember 2008 pukul 07.00 WIB kami bergegas menuju ke sebuah danau yang dikenal dengan nama Taman Hidup. Karena perut kosong menyebabkan kondisi fisik menjadi lemah kami memutuskan tidak berlama-lama di Taman Hidup. Selama berjam-jam lambungku terus demo, miscall dan aksi lainnya. Hal ini juga dirasakan kawan yang lain. Pukul 11.30 WIB kami akhirnya sampai di Bremi dan segera menuju suatu tempat yang
telah 2 hari ini kami idam-idamkan, Warung Makan!! Untuk sementara selesailah derita ini.
Rabu, 10 Desember 2008
## Makhluk Tuhan Yang Paling Ekstrem ##
## Makhluk Tuhan Yang Paling Ekstrem ##
Dalam petualangan ini yang dimaksud makhluk Tuhan yang paling ekstrem adalah kami:
1. Gunung Raung jalur Kalibaru
2. Saiful 'Sunyi'
3. Nyong 'Regas's'
4. Joyo 'Regas's'
Sebuah perjalanan adalah rangkaian pembuktian. Bukti diri, bukti alam dan bukti takdir Tuhan. Bukti diri terlihat dari penyelesaian masalah yang ditemui. Bukti alam ditunjukkan dari keragaman kendala. Dan bukti takdir Tuhan tersurat dari apa yang sama sekali tidak terduga sebelumnya.
Perjalanan mendaki Raung pada awal Nopember 2008 sangat mencerminkan rangkaian pembuktian tersebut. Ketiga bukti yang dipahami Pendaki ini menginspirasi tulisan ini.
#Raung, Makhluk Tuhan Yang Paling Ekstrem
Tidak dapat dipungkiri bahwa Gunung Raung merupakan salah satu gunung dengan tingkat kesulitan yang cukup tinggi untuk didaki. Apalagi sejak dibukanya jalur pendakian dari Kalibaru Banyuwangi semakin menasbihkan eksistensi Gunung Raung sebagai salah satu makhluk (baca: gunung) Tuhan yang paling ekstrem. Oleh karena itu masih terhitung sedikit pendaki Gunung Raung yang mencoba keragaman petualangan yang ditawarkan Gunung Raung dari jalur ini. Ambil contoh turun ke lautan pasir atau segoro wedi dan naik ke bibir sumur atau dapur magma kawah. Jangankan turun ke dapur magma kawah, untuk mencapai Puncak Sejati saja sudah benar-benar menguras tenaga, mental dan waktu serta logistik sehingga kebanggaan pendaki hanya pada menggapai Puncak Sejati (3344 m dpl). Dan ini wajar!
#Akulah Yang Paling Edan
Manusia adalah makhluk yang sulit untuk diukur. Apalagi mengukur mental seseorang maka akan ditemukan data dengan tingkat keragaman yang sangat mencolok. Namun untuk pencilan atas (up skewness) orang dengan tingkat keberanian tinggi sangat sedikit sekali ditemukan. Begitupun mental para pendaki, hanya beberapa pendaki saja yang berupaya terus mencari keragaman petualangan dalam melakukan kegiatan gunung-hutan. Meski tidak ada data pasti berapa pendaki yang pernah melakukan pendakian solo, memanjat dan menuruni tebing tanpa peralatan panjat dan sebagainya, namun yang jelas perbincangan dari mulut ke mulut mengenai aktivitas tersebut masih sedikit.
Pendakian ke Raung di awal bulan Nopember 2008 ini sebagai penebus kekecewaan penulis (Saiful 'Sunyi') karena berbarengan dengan kegiatan nguli sehingga tidak bisa mengikuti TWKM-Temu Wicara Kenal Medan PATAGA yang diselenggarakan tanggal 18 - 23 September 2008. Penulis tidak bisa melihat langsung situasi yang terjadi sebagai bahan pembelajaran dimana penulis sangat ingin mendapatkan referensi (baca: ilmu) dari para pendaki lain yang kabarnya adalah orang lama di kancah persilatan pendakian gunung-hutan. Celaka tiga belas, penulis hanya bisa melihat rekaman dan foto-foto dokumentasi serta cerita dari kegiatan itu, ihiks!
Skenario yang direncanakan dalam pendakian di awal bulan Nopember ini adalah mencapai Puncak Sejati pada hari kedua dan mendirikan tenda disana sebagai bukti terdapat peningkatan dibandingkan pendakian pertama penulis pada pertengahan bulan Mei 2008. Pendirian tenda di Puncak Sejati belum pernah dilakukan pendaki lain sehingga kesan yang diperoleh akan sangat mendalam dan merupakan memori indah ketika penulis pensiun dari aktivitas gunung-hutan pada saatnya nanti.
Sehari sebelumnya setelah menempuh perjalanan via KA Sritanjung bersama Joyo untuk menemui Nyong agar ikut bergabung, tanggal 1 Nopember 2008, di pagi hari pukul 07.30 WIB yang sendu kami bertiga telah melaju dengan kecepatan sedang dari Pos 1 menuju Pos 2. Di tengah perjalanan sempat bermain dengan puluhan Pacet 'Kopasus' yang mencoba memperlancar peredaran darah kami, tepat pukul 09.15 WIB kami sampai di Pos 2. Setelah mengkondisikan suasana, pukul 09.45 WIB kami meluncur ke Pos 3. Malang tak dapat ditolak, untung tak bisa diminta setelah melewati separuh perjalanan menuju Pos 3 hujan turun dengan deras, saat menjelang sampai di jalur pohon tumbang. Ijtihad kami mengatakan untuk menunggu hujan, siapa tahu segera reda. Namun yang terjadi hujan tidak juga berhenti. Diam basah, jalan pun juga basah (kami malas membuka tenda atau covernya dan memakai jas hujan hehehee). Dua pilihan yang sama-sama basah maka kami pun memutuskan berjalan dalam kondisi hujan ini. Tepat di sebuah Pos Bayangan sebelum mencapai Pos 3 ketahanan tubuh mulai kendor. Tubuh kami mulai menggigil kedinginan, bobot tas kami terus bertambah seiring air yang masuk ke dalamnya. Sempat terlintas untuk buat tenda di Pos ini namun penulis memutuskan untuk terus berjalan menuju Pos 3 karena gelap masih sangat lama. Tepat pukul 02.30 kami sampai di Pos 3 dan segera membuka tenda karena masih saja turun air langit ditambah kabut tebal yang menyelimuti suasana. Lekas-lekas seluruh pakaian yang basah kami tanggalkan dan mengurung diri di dalam tenda dengan celana dalam basah dan dalam dekapan sleeping bag (SB) serta menikmati segelas kopi hitam manis. Ah nikmatnya!
Pagi hari di tanggal 2 Nopember 2008 kami agak nyantai menunggu jemuran agar bisa diterima di kulit badan karena tidak mungkin bisa lekas kering. Pukul 08.00 WIB kami start menuju Pos 4, rute favoritku! Pukul 11.30 WIB kami sampai di Pos 4, karena gerimis kelihatannya berpotensi menjadi hujan maka cover tenda kami bentangkan sebagai tempat berteduh sementara kami istirahat sambil merebus air. Setelah mengkondisikan sampah di Pos 4 sisa dari TWKM, pukul 13.00 WIB kami meluncur melewati batas vegetasi menuju Kaldera Raung yang menyajikan tantangan bagi orang yang paling edan seperti aku, eh kami! Kami bertiga sudah sangat kesetanan!
Perjalanan ini begitu menyenangkan, meski dengan suasana mencekam-kabut tebal menutupi jarak pandang, dan rute maut-kami masih terus saja saling melempar canda-tawa dan bergantian mengambil gambar ekstrem. Semakin ekstrem semakin kami ceria! Apalagi ketika harus melewati salah satu titik terawan sebelum ke Puncak 17 dan menuruni turunan setelah puncak 17 hati ini semakin bersemangat. Jembatan Siratal Mustakim benar-benar tiada duanya!
Di sebuah aliran air hujan setelah menuruni lereng terjal kami menemukan air sehingga kami berupaya mengumpulkan air untuk pendaki-pendaki berikutnya yang kemungkinan besar kehabisan stok air. Cukup lama kami mengumpulkan air sekitar 10 botol Aqua ukuran 1500 mL dan aku sendiri menyempatkan diri membersihkan gigi dan membasahi muka untuk membuat kenangan bahwa ada orang yang gosok gigi dan cuci muka di Kaldera Raung, suatu cerita langka!
Akhirnya pukul 15.30 WIB kami mendirikan tenda di Puncak Tusuk Gigi-dimana dari sini cukup perjalanan 5 menit untuk sampai ke Puncak Sejati. Kami masih melihat situasi karena ini pertama kalinya Puncak Tusuk Gigi didirikan tenda jadi belum ada referensi mengenai tingkat kelayakan dan keamanan untuk dijadikan tempat bermalam, ih ngeri! Kami mengkhawatirkan kecepatan angin dan hujan lebat serta longsornya bebatuan! Dan memang benar, kabut tebal dan hujan mengguyur meski yang lama adalah gerimisnya dan itu cukup membuat kami khawatir.
3 Nopember 2009 menyajikan pagi yang penuh dengan kabut pekat. Seperempat jam di luar tenda sudah cukup untuk membuat jaket Nyong basah kuyup. Sinar matahari tak mampu menembus putih dan pekatnya kabut, meski begitu kami tetap memaksakan diri untuk melihat puncak sejati (pukul 06.00 WIB) dan tidak lama kemudian turun lagi masuk ke dalam tenda. Penulis yakin pada pagi ini awan lentikular adalah yang terlihat di Puncak Gunung Raung bila disaksikan dari pemukiman. Jenis awan yang mengindikasikan cuaca sedang tidak bersahabat. Untuk yang kedua kalinya kami ke Puncak Sejati lagi setelah kabut tidak setebal sejam yang lalu.
#Siapa Aku?
Kami menghabiskan waktu di Puncak Sejati dengan perbincangan mengenai skenario berikutnya yang kami inginkan. Pertama-tama ide yang muncul adalah membawa tenda ke Puncak Sejati karena ada tempat yang kalau diberikan sentuhan sedemikian rupa bisa cukup rata untuk tempat mendirikan satu tenda. Usai itu terus cabut pulang-turun gunung. Akhirnya kami balik dan ambil tenda di Puncak Tusuk Gigi dan memberikan sentuhan 'ketok magic' di sebuah tempat tepat di atas tebing Raung sebelah baratnya penanda Puncak Sejati yang dengan jelas kami bisa menyaksikan segoro wedi dan kepulan sumur kawah Raung dari situ. Tidak butuh waktu lama kerja bakti kami telah menghasilkan hamparan tempat yang luar biasa, berdirilah tenda sejarah ini! Keinginan berikutnya, ketika peresmian tempat camp telah selesai dengan nama JOSINYO-Joyo, Saiful dan Nyong, maka Joyo melakukan hal yang sungguh membuatku kagum dengan menuruni tebing tepat di bawah penanda Puncak Sejati untuk mendapatkan gambar tenda yang nangkring di sebuah tebing yang di tinggi dan curam.
Aku adalah aku dan ketika aku bukanlah aku maka ke-Aku-anku akan lenyap sehingga tidak ada namanya akar, dahan, ranting, dan daun beserta bunga dan biji (buah). Yang ada hanyalah pohon! Nyong menyibukkan diri dengan menyiapkan hamparan tempat pendirian tenda yang lain (untuk pendaki berikutnya yang datang dengan dua buah tenda) dan Joyo terus menganalisa kemungkinan adanya jalur menuju ke lautan pasir. Sedangkan aku terus tenggelam dalam nyamannya suasana Puncak Sejati yang begitu indah dan menakjubkan-langit terang, angin semilir, awan berarak dan sumur/dapur pabrik kawah yang terus mengepul-petunjuk adanya kontinyuitas kegiatan produksi magma!
Di sela-sela lamunanku, Joyo terus mengusik dengan permintaan untuk melihat jalur menuju lautan pasir. "Kalau ada ya syukur, tapi jika tidak ketemu ya kita balik lagi, piye?" pintanya yang terus kucuekin!
Setiap melihat ke bawah-lautan pasir, segara wedi-pikiranku mengatakan hanya hayalan saja untuk bisa sampai ke sana apalagi peralatan panjat tidak ada dan kondisi logistik sungguh memperihatinkan-tinggal satu setengah bungkus roti dan kopi susu untuk sekali sruput! Memang planning-nya hari ini kami pulang (skenario pendakian untuk logistik selama 3 hari). Andaikan jika beruntung bisa sampai ke lautan pasir, apakah yakin bisa pulang selamat. Terdapat banyak bahaya mengancam: hujan yang beresiko terjadi longsor besar-besaran, kepleset dan jatuh ke jurang bebatuan, tersedot pasir hidup, kena semburan gas beracun kawah dan kekahawatiran lain. Ah, ini ide gila!
Kulihat Nyong tenggelam dalam kegiatan menyiapkan tempat tenda yang lain. Kududuk dan memandang ke arah lautan pasir dan Kawah Raung. Tiba-tiba ku lihat wajah yang tersenyum ramah seakan ingin menyambut jika aku datang dan suara hatiku berkata, "Wahai Pria Paling Sunyi Di Muka Bumi, berangkatlah, kapan lagi engkau akan menemukan dirimu?".
Seketika aku bangkit, mengambil tas slempang eiger kecilku dan berseru kepada Nyong untuk meninggalkan kegiatannya untuk segera berangkat turun ke Kawah Raung dan kulihat Joyo tersenyum penuh arti keyakinan dan keberhasilan. Waktu itu menunjukkan pukul 10.00 WIB.
Masih lekat dalam ingatanku, aku berlari menyapu tebing dan melompati puncak demi puncak dan ketika antar puncak terputus maka kami menuruni tebing yang curam di satu sisi dan di sisi lain mendaki sampai ke puncak lagi untuk memastikan rute sudah benar. Begitu terus berulang-ulang sampai kami melihat aliran longsoran bebatuan yang kami yakini bisa menerima bobot tubuh kami ketika menuruninya dan tentunya mengantarkan kami ke Segoro Wedi!
Oh, akulah makhluk Tuhan yang paling edan, makhluk Tuhan yang paling ekstrem. Aku mengalahkan diriku sendiri. Aku menghancurkan pintu ketakutanku. Pecundang itu telah lenyap dari permukaan bumi dan kini ia sedang menikmati kejayaannya sebagai Pecinta Alam Sunyi Sejati yang tidak mempedulikan perih, linunya sendi, jaremnya kaki dan kramnya perut serta pusingnya kepala ketika menuruni jurang yang lebih dari 500 meter ini. Segoro Wedi, terima kasih telah menerima dan menyambut kedatangan kami.
#Hati dan Nurani: Kontemplasi
Dalam sebuah perbincangan mengenai berbagai hal, Cak Huda keukeuh dengan pendapatnya mengenai rumus hati dan nurani. Rupanya beliau tertarik dengan muara konsep sebelum meperoleh kebijaksanaan sejati maka kunci yang harus dipegang adalah hati dan nurani. Untuk mendapatkan hati dan nurani yang sempurna maka diperlukan agama, filsafat, watak, tabiat, prinsip, doktirn, dogma dan sebagainya. Akan tetapi kesemuanya itu tidak memberikan garansi akan dipetiknya buah berupa hati dan nurani yang sempurna (insan kamil).
Dalam petualangan ini yang dimaksud makhluk Tuhan yang paling ekstrem adalah kami:
1. Gunung Raung jalur Kalibaru
2. Saiful 'Sunyi'
3. Nyong 'Regas's'
4. Joyo 'Regas's'
Sebuah perjalanan adalah rangkaian pembuktian. Bukti diri, bukti alam dan bukti takdir Tuhan. Bukti diri terlihat dari penyelesaian masalah yang ditemui. Bukti alam ditunjukkan dari keragaman kendala. Dan bukti takdir Tuhan tersurat dari apa yang sama sekali tidak terduga sebelumnya.
Perjalanan mendaki Raung pada awal Nopember 2008 sangat mencerminkan rangkaian pembuktian tersebut. Ketiga bukti yang dipahami Pendaki ini menginspirasi tulisan ini.
#Raung, Makhluk Tuhan Yang Paling Ekstrem
Tidak dapat dipungkiri bahwa Gunung Raung merupakan salah satu gunung dengan tingkat kesulitan yang cukup tinggi untuk didaki. Apalagi sejak dibukanya jalur pendakian dari Kalibaru Banyuwangi semakin menasbihkan eksistensi Gunung Raung sebagai salah satu makhluk (baca: gunung) Tuhan yang paling ekstrem. Oleh karena itu masih terhitung sedikit pendaki Gunung Raung yang mencoba keragaman petualangan yang ditawarkan Gunung Raung dari jalur ini. Ambil contoh turun ke lautan pasir atau segoro wedi dan naik ke bibir sumur atau dapur magma kawah. Jangankan turun ke dapur magma kawah, untuk mencapai Puncak Sejati saja sudah benar-benar menguras tenaga, mental dan waktu serta logistik sehingga kebanggaan pendaki hanya pada menggapai Puncak Sejati (3344 m dpl). Dan ini wajar!
#Akulah Yang Paling Edan
Manusia adalah makhluk yang sulit untuk diukur. Apalagi mengukur mental seseorang maka akan ditemukan data dengan tingkat keragaman yang sangat mencolok. Namun untuk pencilan atas (up skewness) orang dengan tingkat keberanian tinggi sangat sedikit sekali ditemukan. Begitupun mental para pendaki, hanya beberapa pendaki saja yang berupaya terus mencari keragaman petualangan dalam melakukan kegiatan gunung-hutan. Meski tidak ada data pasti berapa pendaki yang pernah melakukan pendakian solo, memanjat dan menuruni tebing tanpa peralatan panjat dan sebagainya, namun yang jelas perbincangan dari mulut ke mulut mengenai aktivitas tersebut masih sedikit.
Pendakian ke Raung di awal bulan Nopember 2008 ini sebagai penebus kekecewaan penulis (Saiful 'Sunyi') karena berbarengan dengan kegiatan nguli sehingga tidak bisa mengikuti TWKM-Temu Wicara Kenal Medan PATAGA yang diselenggarakan tanggal 18 - 23 September 2008. Penulis tidak bisa melihat langsung situasi yang terjadi sebagai bahan pembelajaran dimana penulis sangat ingin mendapatkan referensi (baca: ilmu) dari para pendaki lain yang kabarnya adalah orang lama di kancah persilatan pendakian gunung-hutan. Celaka tiga belas, penulis hanya bisa melihat rekaman dan foto-foto dokumentasi serta cerita dari kegiatan itu, ihiks!
Skenario yang direncanakan dalam pendakian di awal bulan Nopember ini adalah mencapai Puncak Sejati pada hari kedua dan mendirikan tenda disana sebagai bukti terdapat peningkatan dibandingkan pendakian pertama penulis pada pertengahan bulan Mei 2008. Pendirian tenda di Puncak Sejati belum pernah dilakukan pendaki lain sehingga kesan yang diperoleh akan sangat mendalam dan merupakan memori indah ketika penulis pensiun dari aktivitas gunung-hutan pada saatnya nanti.
Sehari sebelumnya setelah menempuh perjalanan via KA Sritanjung bersama Joyo untuk menemui Nyong agar ikut bergabung, tanggal 1 Nopember 2008, di pagi hari pukul 07.30 WIB yang sendu kami bertiga telah melaju dengan kecepatan sedang dari Pos 1 menuju Pos 2. Di tengah perjalanan sempat bermain dengan puluhan Pacet 'Kopasus' yang mencoba memperlancar peredaran darah kami, tepat pukul 09.15 WIB kami sampai di Pos 2. Setelah mengkondisikan suasana, pukul 09.45 WIB kami meluncur ke Pos 3. Malang tak dapat ditolak, untung tak bisa diminta setelah melewati separuh perjalanan menuju Pos 3 hujan turun dengan deras, saat menjelang sampai di jalur pohon tumbang. Ijtihad kami mengatakan untuk menunggu hujan, siapa tahu segera reda. Namun yang terjadi hujan tidak juga berhenti. Diam basah, jalan pun juga basah (kami malas membuka tenda atau covernya dan memakai jas hujan hehehee). Dua pilihan yang sama-sama basah maka kami pun memutuskan berjalan dalam kondisi hujan ini. Tepat di sebuah Pos Bayangan sebelum mencapai Pos 3 ketahanan tubuh mulai kendor. Tubuh kami mulai menggigil kedinginan, bobot tas kami terus bertambah seiring air yang masuk ke dalamnya. Sempat terlintas untuk buat tenda di Pos ini namun penulis memutuskan untuk terus berjalan menuju Pos 3 karena gelap masih sangat lama. Tepat pukul 02.30 kami sampai di Pos 3 dan segera membuka tenda karena masih saja turun air langit ditambah kabut tebal yang menyelimuti suasana. Lekas-lekas seluruh pakaian yang basah kami tanggalkan dan mengurung diri di dalam tenda dengan celana dalam basah dan dalam dekapan sleeping bag (SB) serta menikmati segelas kopi hitam manis. Ah nikmatnya!
Pagi hari di tanggal 2 Nopember 2008 kami agak nyantai menunggu jemuran agar bisa diterima di kulit badan karena tidak mungkin bisa lekas kering. Pukul 08.00 WIB kami start menuju Pos 4, rute favoritku! Pukul 11.30 WIB kami sampai di Pos 4, karena gerimis kelihatannya berpotensi menjadi hujan maka cover tenda kami bentangkan sebagai tempat berteduh sementara kami istirahat sambil merebus air. Setelah mengkondisikan sampah di Pos 4 sisa dari TWKM, pukul 13.00 WIB kami meluncur melewati batas vegetasi menuju Kaldera Raung yang menyajikan tantangan bagi orang yang paling edan seperti aku, eh kami! Kami bertiga sudah sangat kesetanan!
Perjalanan ini begitu menyenangkan, meski dengan suasana mencekam-kabut tebal menutupi jarak pandang, dan rute maut-kami masih terus saja saling melempar canda-tawa dan bergantian mengambil gambar ekstrem. Semakin ekstrem semakin kami ceria! Apalagi ketika harus melewati salah satu titik terawan sebelum ke Puncak 17 dan menuruni turunan setelah puncak 17 hati ini semakin bersemangat. Jembatan Siratal Mustakim benar-benar tiada duanya!
Di sebuah aliran air hujan setelah menuruni lereng terjal kami menemukan air sehingga kami berupaya mengumpulkan air untuk pendaki-pendaki berikutnya yang kemungkinan besar kehabisan stok air. Cukup lama kami mengumpulkan air sekitar 10 botol Aqua ukuran 1500 mL dan aku sendiri menyempatkan diri membersihkan gigi dan membasahi muka untuk membuat kenangan bahwa ada orang yang gosok gigi dan cuci muka di Kaldera Raung, suatu cerita langka!
Akhirnya pukul 15.30 WIB kami mendirikan tenda di Puncak Tusuk Gigi-dimana dari sini cukup perjalanan 5 menit untuk sampai ke Puncak Sejati. Kami masih melihat situasi karena ini pertama kalinya Puncak Tusuk Gigi didirikan tenda jadi belum ada referensi mengenai tingkat kelayakan dan keamanan untuk dijadikan tempat bermalam, ih ngeri! Kami mengkhawatirkan kecepatan angin dan hujan lebat serta longsornya bebatuan! Dan memang benar, kabut tebal dan hujan mengguyur meski yang lama adalah gerimisnya dan itu cukup membuat kami khawatir.
3 Nopember 2009 menyajikan pagi yang penuh dengan kabut pekat. Seperempat jam di luar tenda sudah cukup untuk membuat jaket Nyong basah kuyup. Sinar matahari tak mampu menembus putih dan pekatnya kabut, meski begitu kami tetap memaksakan diri untuk melihat puncak sejati (pukul 06.00 WIB) dan tidak lama kemudian turun lagi masuk ke dalam tenda. Penulis yakin pada pagi ini awan lentikular adalah yang terlihat di Puncak Gunung Raung bila disaksikan dari pemukiman. Jenis awan yang mengindikasikan cuaca sedang tidak bersahabat. Untuk yang kedua kalinya kami ke Puncak Sejati lagi setelah kabut tidak setebal sejam yang lalu.
#Siapa Aku?
Kami menghabiskan waktu di Puncak Sejati dengan perbincangan mengenai skenario berikutnya yang kami inginkan. Pertama-tama ide yang muncul adalah membawa tenda ke Puncak Sejati karena ada tempat yang kalau diberikan sentuhan sedemikian rupa bisa cukup rata untuk tempat mendirikan satu tenda. Usai itu terus cabut pulang-turun gunung. Akhirnya kami balik dan ambil tenda di Puncak Tusuk Gigi dan memberikan sentuhan 'ketok magic' di sebuah tempat tepat di atas tebing Raung sebelah baratnya penanda Puncak Sejati yang dengan jelas kami bisa menyaksikan segoro wedi dan kepulan sumur kawah Raung dari situ. Tidak butuh waktu lama kerja bakti kami telah menghasilkan hamparan tempat yang luar biasa, berdirilah tenda sejarah ini! Keinginan berikutnya, ketika peresmian tempat camp telah selesai dengan nama JOSINYO-Joyo, Saiful dan Nyong, maka Joyo melakukan hal yang sungguh membuatku kagum dengan menuruni tebing tepat di bawah penanda Puncak Sejati untuk mendapatkan gambar tenda yang nangkring di sebuah tebing yang di tinggi dan curam.
Aku adalah aku dan ketika aku bukanlah aku maka ke-Aku-anku akan lenyap sehingga tidak ada namanya akar, dahan, ranting, dan daun beserta bunga dan biji (buah). Yang ada hanyalah pohon! Nyong menyibukkan diri dengan menyiapkan hamparan tempat pendirian tenda yang lain (untuk pendaki berikutnya yang datang dengan dua buah tenda) dan Joyo terus menganalisa kemungkinan adanya jalur menuju ke lautan pasir. Sedangkan aku terus tenggelam dalam nyamannya suasana Puncak Sejati yang begitu indah dan menakjubkan-langit terang, angin semilir, awan berarak dan sumur/dapur pabrik kawah yang terus mengepul-petunjuk adanya kontinyuitas kegiatan produksi magma!
Di sela-sela lamunanku, Joyo terus mengusik dengan permintaan untuk melihat jalur menuju lautan pasir. "Kalau ada ya syukur, tapi jika tidak ketemu ya kita balik lagi, piye?" pintanya yang terus kucuekin!
Setiap melihat ke bawah-lautan pasir, segara wedi-pikiranku mengatakan hanya hayalan saja untuk bisa sampai ke sana apalagi peralatan panjat tidak ada dan kondisi logistik sungguh memperihatinkan-tinggal satu setengah bungkus roti dan kopi susu untuk sekali sruput! Memang planning-nya hari ini kami pulang (skenario pendakian untuk logistik selama 3 hari). Andaikan jika beruntung bisa sampai ke lautan pasir, apakah yakin bisa pulang selamat. Terdapat banyak bahaya mengancam: hujan yang beresiko terjadi longsor besar-besaran, kepleset dan jatuh ke jurang bebatuan, tersedot pasir hidup, kena semburan gas beracun kawah dan kekahawatiran lain. Ah, ini ide gila!
Kulihat Nyong tenggelam dalam kegiatan menyiapkan tempat tenda yang lain. Kududuk dan memandang ke arah lautan pasir dan Kawah Raung. Tiba-tiba ku lihat wajah yang tersenyum ramah seakan ingin menyambut jika aku datang dan suara hatiku berkata, "Wahai Pria Paling Sunyi Di Muka Bumi, berangkatlah, kapan lagi engkau akan menemukan dirimu?".
Seketika aku bangkit, mengambil tas slempang eiger kecilku dan berseru kepada Nyong untuk meninggalkan kegiatannya untuk segera berangkat turun ke Kawah Raung dan kulihat Joyo tersenyum penuh arti keyakinan dan keberhasilan. Waktu itu menunjukkan pukul 10.00 WIB.
Masih lekat dalam ingatanku, aku berlari menyapu tebing dan melompati puncak demi puncak dan ketika antar puncak terputus maka kami menuruni tebing yang curam di satu sisi dan di sisi lain mendaki sampai ke puncak lagi untuk memastikan rute sudah benar. Begitu terus berulang-ulang sampai kami melihat aliran longsoran bebatuan yang kami yakini bisa menerima bobot tubuh kami ketika menuruninya dan tentunya mengantarkan kami ke Segoro Wedi!
Oh, akulah makhluk Tuhan yang paling edan, makhluk Tuhan yang paling ekstrem. Aku mengalahkan diriku sendiri. Aku menghancurkan pintu ketakutanku. Pecundang itu telah lenyap dari permukaan bumi dan kini ia sedang menikmati kejayaannya sebagai Pecinta Alam Sunyi Sejati yang tidak mempedulikan perih, linunya sendi, jaremnya kaki dan kramnya perut serta pusingnya kepala ketika menuruni jurang yang lebih dari 500 meter ini. Segoro Wedi, terima kasih telah menerima dan menyambut kedatangan kami.
#Hati dan Nurani: Kontemplasi
Dalam sebuah perbincangan mengenai berbagai hal, Cak Huda keukeuh dengan pendapatnya mengenai rumus hati dan nurani. Rupanya beliau tertarik dengan muara konsep sebelum meperoleh kebijaksanaan sejati maka kunci yang harus dipegang adalah hati dan nurani. Untuk mendapatkan hati dan nurani yang sempurna maka diperlukan agama, filsafat, watak, tabiat, prinsip, doktirn, dogma dan sebagainya. Akan tetapi kesemuanya itu tidak memberikan garansi akan dipetiknya buah berupa hati dan nurani yang sempurna (insan kamil).
Sebenarnya dikotomi hati dan nurani tidak diperlukan lagi kalau kesadaran telah menyatu dalam setiap pikiran, ucapan dan perbuatan. Namun dikotomi ini diperlukan semata-mata untuk memperjelas dan mempermudah pemahaman. Hati sangat berkaitan dengan kesadaran ke dalam. Artinya kesempurnaan kerajaan spiritual adalah tolok ukur kesadaran ke dalam. Sedangkan nurani berkaitan dengan kesadaran ke luar. Maksudnya terjaganya muamalah sehingga kedewasaan sosial tercapai. Teguh menampilkan keteladanan dalam berakhlak. Dengan kata lain kesuksesan kerajaan dunia dimana meski jasad memiliki dunia tetapi hati tidak terikat padanya dan jika tidak memiliki kerajaan dunia maka hati tidak lantas rindu dendam.
Oh, Ya Allah 'Azza wa jalla berikanlah kekuatan untuk mengamalkan pemahaman ini!
Pukul 12.30 WIB akhirnya kami telah berjalan riang di tengah lautan pasir/segoro wedi Raung. Setelah diri ini sujud syukur dan memasukkan nur sanjungan hati hanya kepada Allah subhanallahu ta'ala kami pun beranjak menuju bibir Sumur atau Pundan Kawah Raung dengan kepulan asapnya.
Maha Suci Allah dengan segala kehebatan-Nya. Di depan kami menganga sebuah sumur besar dengan jari-jari (r) lebih dari 200 m (estimasi). Dengan dasar sumur yang sulit untuk dilihat dengan mata biasa meluncur asap dan gas dengan kecepatan tinggi membuat gentar tubuh ini. Jepretan kamera tak mampu memberikan hasil gambar yang diinginkan dan akhirnya kami menancapkan bendera merah di bibir sumur kawah dan merekam tantangan untuk pendaki lain agar melihat kebesaran Tuhan ini. Real!
Oh, Ya Allah 'Azza wa jalla berikanlah kekuatan untuk mengamalkan pemahaman ini!
Pukul 12.30 WIB akhirnya kami telah berjalan riang di tengah lautan pasir/segoro wedi Raung. Setelah diri ini sujud syukur dan memasukkan nur sanjungan hati hanya kepada Allah subhanallahu ta'ala kami pun beranjak menuju bibir Sumur atau Pundan Kawah Raung dengan kepulan asapnya.
Maha Suci Allah dengan segala kehebatan-Nya. Di depan kami menganga sebuah sumur besar dengan jari-jari (r) lebih dari 200 m (estimasi). Dengan dasar sumur yang sulit untuk dilihat dengan mata biasa meluncur asap dan gas dengan kecepatan tinggi membuat gentar tubuh ini. Jepretan kamera tak mampu memberikan hasil gambar yang diinginkan dan akhirnya kami menancapkan bendera merah di bibir sumur kawah dan merekam tantangan untuk pendaki lain agar melihat kebesaran Tuhan ini. Real!
Bagaimana kisah kembali ke Puncak Sejati dan turun ke Pos 1?
Selasa, 14 Oktober 2008
Rest in peace
Hari demi hari terus berganti. Seperti aliran sungai di sepanjang punggungan raung
ketika ku mendaki di senja itu. Senja Sandikala. Awal ihwal perjalanan para dedemit.
Terbukanya lembah para lelembut.
Sepanjang perjalanan itu aku terus mengucapkan sumpah serapah bahwa tiada yang dapat
menghentikan perjalanan ini. Kakiku telah mengeras. Pundakku telah membatu. Tenagaku
seperti gajah sewu. Aku lupa janji untuk pulang. Menemuimu yang menunggu.
Kedamaian telah kutemukan. Hanya punggungan dan tebing yang menyemarakkan lamunanku.
Hanya puncak dan puncak yang mampu membuatku menjadi lelaki. Kematian tidak terhiraukan.
Gejala sakit tidak terasakan. Aku menjadi lelaki rimba. Pecinta alam 'Sunyi". Puncak abadi.
Tempat para Dewa berkelakar.
Aku malu berada dalam hidup anti klimaks. Kebanggaanku ada pada cerita derita. Lembah sunyi.
Tempat yang tepat untuk meletakkan punggung ini. Tentunya pada rerumputan yang hijau.
Tebing hening. Tempat menanggalkan keraguan dan ketakutanku. Tentunya pada bebatuan putih.
Menahun. Purba.
ketika ku mendaki di senja itu. Senja Sandikala. Awal ihwal perjalanan para dedemit.
Terbukanya lembah para lelembut.
Sepanjang perjalanan itu aku terus mengucapkan sumpah serapah bahwa tiada yang dapat
menghentikan perjalanan ini. Kakiku telah mengeras. Pundakku telah membatu. Tenagaku
seperti gajah sewu. Aku lupa janji untuk pulang. Menemuimu yang menunggu.
Kedamaian telah kutemukan. Hanya punggungan dan tebing yang menyemarakkan lamunanku.
Hanya puncak dan puncak yang mampu membuatku menjadi lelaki. Kematian tidak terhiraukan.
Gejala sakit tidak terasakan. Aku menjadi lelaki rimba. Pecinta alam 'Sunyi". Puncak abadi.
Tempat para Dewa berkelakar.
Aku malu berada dalam hidup anti klimaks. Kebanggaanku ada pada cerita derita. Lembah sunyi.
Tempat yang tepat untuk meletakkan punggung ini. Tentunya pada rerumputan yang hijau.
Tebing hening. Tempat menanggalkan keraguan dan ketakutanku. Tentunya pada bebatuan putih.
Menahun. Purba.
Renungan Ramadan 1429 H
Bismillah!
Mengapa setiap kejadian selalu memberikan pelajaran bagi makhluk yang berpikir?
Karena makhluk yang berpikir adalah makhluk terbaik.
Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Teliti. Tiada satupun yang terlewat dari segala perhitunganNya.
Kesalahan besar bagi penganggap segala peristiwa adalah kumpulan serpihan-serpihan kejadian
yang berupa bentuk kebetulan. Pendapat yang diprakarsai penganut evolusi Darwin laknattullah 'alaih.
Mengapa hidupku seperti ini? Setiap detik waktu kuhabiskan dalam lamunan pencarian makna hidup.
Segala peristiwa yang bertautan beraturan maupun acak sungguh menggerakkan nurani untuk selalu beranalisis.
Tidak terhitung segala yang tiba kemudian beranjak terlupa sehingga tepatlah jika aku adalah lebih hina
dari keledai. Tak mampu mengambil hikmah perjalanan hidup.
Sudah menjadi iradahNya manusia akan selalu dijejali dengan permasalahan. Setiap dimensi ruang dan waktu
adalah manifestasi dari segala permasalahan dengan sudut pandang manusia masing-masing. Layaklah jika otak
ini begitu tumpul karena segala data yang tersaji tak mampu merangkum pengetahuan secara menyeluruh.
Aku tetap aku 25 tahun yang lalu (24 Desember 1982).
Ampunilah aku Tuhan!
Ramadan kali ini pun tak mampu mentransformasi kehambaanku dan kemanusiaanku. Hamba ini masih digelayuti
kecongkakan dan keangkuhan setiap melihat ciptaanMu yang lain. Mata ini begitu tajam menyaksikan itu semua.
Senyuman sinis selalu menghiasi wajah-wajah keseharianku. Sungguh aku adalah kawan sejati Iblis laknattullah 'alaih.
Kabar yang beredar. Aroma yang berembus. Bisikan yang menyalakan hasrat. Semua keinderaan melahirkan persepsi
negatif terhadap segala persoalan. Yang dermawan tak lebih baik dari si kikir. Yang berilmu tak berubah jauh
dari pada yang sedikit wawasannya.
Suatu ketika aku membaca dan aku pun terenyuh oleh realita bacaan itu.
Pada waktu tertentu aku melihat dokumentasi dan hatiku hancur oleh kesewenangan takdir hidup.
Hari ini aku merasa geram dan jengkel terhadap segala yang menyertai perjalananku.
Ketamakan yang kubenci. Kekikiran yang selalu kucaci. Menganugerahkan aku jiwa kepengecutan.
Pandir aku jadinya. Hanya mengkritik. Lebih sering mencemooh dan menggunjing atas tindakan seseorang.
Itu membuatku semakin jauh dari fitrah lahir batinku yang suci dan penuh tanggung jawab.
Aku heran dan terus bertanya apa gerangan ini!
Mengapa setiap kejadian selalu memberikan pelajaran bagi makhluk yang berpikir?
Karena makhluk yang berpikir adalah makhluk terbaik.
Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Teliti. Tiada satupun yang terlewat dari segala perhitunganNya.
Kesalahan besar bagi penganggap segala peristiwa adalah kumpulan serpihan-serpihan kejadian
yang berupa bentuk kebetulan. Pendapat yang diprakarsai penganut evolusi Darwin laknattullah 'alaih.
Mengapa hidupku seperti ini? Setiap detik waktu kuhabiskan dalam lamunan pencarian makna hidup.
Segala peristiwa yang bertautan beraturan maupun acak sungguh menggerakkan nurani untuk selalu beranalisis.
Tidak terhitung segala yang tiba kemudian beranjak terlupa sehingga tepatlah jika aku adalah lebih hina
dari keledai. Tak mampu mengambil hikmah perjalanan hidup.
Sudah menjadi iradahNya manusia akan selalu dijejali dengan permasalahan. Setiap dimensi ruang dan waktu
adalah manifestasi dari segala permasalahan dengan sudut pandang manusia masing-masing. Layaklah jika otak
ini begitu tumpul karena segala data yang tersaji tak mampu merangkum pengetahuan secara menyeluruh.
Aku tetap aku 25 tahun yang lalu (24 Desember 1982).
Ampunilah aku Tuhan!
Ramadan kali ini pun tak mampu mentransformasi kehambaanku dan kemanusiaanku. Hamba ini masih digelayuti
kecongkakan dan keangkuhan setiap melihat ciptaanMu yang lain. Mata ini begitu tajam menyaksikan itu semua.
Senyuman sinis selalu menghiasi wajah-wajah keseharianku. Sungguh aku adalah kawan sejati Iblis laknattullah 'alaih.
Kabar yang beredar. Aroma yang berembus. Bisikan yang menyalakan hasrat. Semua keinderaan melahirkan persepsi
negatif terhadap segala persoalan. Yang dermawan tak lebih baik dari si kikir. Yang berilmu tak berubah jauh
dari pada yang sedikit wawasannya.
Suatu ketika aku membaca dan aku pun terenyuh oleh realita bacaan itu.
Pada waktu tertentu aku melihat dokumentasi dan hatiku hancur oleh kesewenangan takdir hidup.
Hari ini aku merasa geram dan jengkel terhadap segala yang menyertai perjalananku.
Ketamakan yang kubenci. Kekikiran yang selalu kucaci. Menganugerahkan aku jiwa kepengecutan.
Pandir aku jadinya. Hanya mengkritik. Lebih sering mencemooh dan menggunjing atas tindakan seseorang.
Itu membuatku semakin jauh dari fitrah lahir batinku yang suci dan penuh tanggung jawab.
Aku heran dan terus bertanya apa gerangan ini!
No one in my mind
Aku menatap segala. Pikiran memproses. Ingatan merekam. Hati menyimpan.
Andai ada dan tiada membentuk scene tersendiri tentu aku akan berpaling padanya.
Andai benci dan cinta bersatu dalam aliansi kebebasan pasti aku akan bersamanya.
Dualisme kehidupan selalu berdiri sendiri-sendiri namun tidak pernah terpisahkan.
Mengikuti apa yang telah digariskan Tuhan.
Kebimbangan menggelayuti sehingga hanya pencarian dan pencarian saja yang mampu
mengobati.
Tulang-tulangku remuk. Otot dan sendiku terurai dari jalinan fungsinya.
Namun pencarian hanya bisa berhenti jika telah menemu.
Aku mencari sampai menemu.
Mencari sesuatu yang belum tersimpan dihatiku.
Mencari sesuatu yang belum terekam dalam ingatanku.
Mencari sesuatu yang belum terproses oleh pikiranku.
Dan mencari sesuatu yang belum pernah terlihat oleh mataku.
Namun bibirku telah menyebut-nyebut-Nya. Lidahku terus-terusan membanggakan-Nya.
Air liurku sampai kering tiada sisa.
Keridlaan-Nya. Tuhanku.
Andai ada dan tiada membentuk scene tersendiri tentu aku akan berpaling padanya.
Andai benci dan cinta bersatu dalam aliansi kebebasan pasti aku akan bersamanya.
Dualisme kehidupan selalu berdiri sendiri-sendiri namun tidak pernah terpisahkan.
Mengikuti apa yang telah digariskan Tuhan.
Kebimbangan menggelayuti sehingga hanya pencarian dan pencarian saja yang mampu
mengobati.
Tulang-tulangku remuk. Otot dan sendiku terurai dari jalinan fungsinya.
Namun pencarian hanya bisa berhenti jika telah menemu.
Aku mencari sampai menemu.
Mencari sesuatu yang belum tersimpan dihatiku.
Mencari sesuatu yang belum terekam dalam ingatanku.
Mencari sesuatu yang belum terproses oleh pikiranku.
Dan mencari sesuatu yang belum pernah terlihat oleh mataku.
Namun bibirku telah menyebut-nyebut-Nya. Lidahku terus-terusan membanggakan-Nya.
Air liurku sampai kering tiada sisa.
Keridlaan-Nya. Tuhanku.
Nafsu
Memilih adalah ulah nafsu, karena nafsu
selalu menghendaki kepuasaan, kesenangan, kebanggaan, identitas diri, pembengkakan dari si
aku. Tentu saja kita dalam kehidupan ini mempunyai sesuatu, baik mempunyai orang lain
sebagai keluarga, sebagai isteri atau suami, sebagai anak-anak, sanak keluarga, sahabat atau
harta benda dan kedudukan. Akan tetapi, Mempunyai bukan dalam arti kata Memiliki
Mempunyai secara lahiriah, tidak memiliki secara batiniah. Batin haruslah bebas kalau kita
tidak ingin dilanda duka. Batin harus mengerti dengan penuh keyakinan bahwa sengala
sesuatu adalah milik Tuhan! Bahkan tubuh kita sendiri bukanlah milik kita, sekali waktu akan
rusak dan binasa.
selalu menghendaki kepuasaan, kesenangan, kebanggaan, identitas diri, pembengkakan dari si
aku. Tentu saja kita dalam kehidupan ini mempunyai sesuatu, baik mempunyai orang lain
sebagai keluarga, sebagai isteri atau suami, sebagai anak-anak, sanak keluarga, sahabat atau
harta benda dan kedudukan. Akan tetapi, Mempunyai bukan dalam arti kata Memiliki
Mempunyai secara lahiriah, tidak memiliki secara batiniah. Batin haruslah bebas kalau kita
tidak ingin dilanda duka. Batin harus mengerti dengan penuh keyakinan bahwa sengala
sesuatu adalah milik Tuhan! Bahkan tubuh kita sendiri bukanlah milik kita, sekali waktu akan
rusak dan binasa.
Langganan:
Postingan (Atom)






