Rabu, 28 Desember 2016

Kita Adalah Pendaki Kategori Ketiga

Seorang Pendaki Kawakan ditanya tentang 2 kategori pendaki, mana yang lebih baik:

1.      Pendaki yang rajin berpetualang, namun minim knowledge, skill dan attitude.

2.      Pendaki yang jarang menempuh gunung dan belantara, namun knowledge, skill dan attitude begitu luas dan mendalam.

Lalu Sang Pendaki Kawakan menjawab. “Keduanya baik”. Bisa jadi suatu saat yang rajin berpetualang menemukan kesadaran tentang pentingnya knowledge, skill dan attitude. Ia lalu mengurangi kegiatan berpetualang dan memperbanyak waktu luangnya untuk mengakselerasi knowledge, skill dan attitude-nya sehingga lengkaplah pengalaman mendaki dan keluasan serta kedalaman knowledge, skill dan attitude-nya.

Dan pendaki dengan kategori yang kedua, bisa jadi dengan kedalaman dan keluasan knowledge, skill dan attitude -nya, ia mendapatkan sponsor dan menemukan waktu luang untuk mengaplikasikan knowledge, skill dan attitude dalam pendakian yang luar biasa.

Kemudian Sang Penanya tersebut bertanya lagi, “Lalu Pendaki yang seperti apa yang tidak baik keadaannya?”. Sang Pendaki Kawakan menjawab, “Pendaki yang tidak baik keadaannya adalah kita, Pendaki kategori ketiga yang selalu mampu menilai Pendaki lain, namun lalai dari menilai diri sendiri. Lupa bahwa pengalaman mendaki masih belum seberapa. Tidak sadar diri bahwa masih minim knowledge, skill dan attitude.


Sabtu, 10 Desember 2016

Menguji Kehandalan Motorola TLKR T80 Extreme di Jalur Ekstrim Sadel Gunung Salak 2-1

Pada peluncuran new product Motorola dalam acara Motorola Solution Community & Blogger Gathering, 10 November lalu, Komunitas Pendaki Gunung (KPG) Regional Jakarta Raya menerima tantangan dari Motorola untuk menguji kehandalan salah satu dari produk tersebut, yakni Motorola TLKR T80 Extreme di jalur ekstrim Sadel Gunung Salak 2 dan Salak 1.

Berlima, Izzun (team leader), Ricky Item (navigator), Dedoy (penebas/ buka jalur 1), Sofyan (penebas/ buka jalur 2) dan Abdul Ghoni (sweeper merangkap medis) menempuh ragam elevasi dan lebatnya belantara Gunung Salak 2 dan Salak 1 selama 3 hari (25 – 27/11/2016). Menembus cuaca yang tidak bersahabat. Hampir sepanjang pendakian diliputi kabut tebal dan hujan.
Keterangan (kiri-kanan): Dedoy, Abdul Ghoni, Ricky Item, Sofyan dan Izzun

Momen pendakian kali ini sangat tepat, selain untuk menguji kehandalan produk terbaru Motorola TLKR T80 Extreme, juga menguji skill, knowledge dan attitude serta sinergitas kelima personil yang tahun ini baru saja menjalani pendidikan dan latihan dasar kepencinta-alaman. Izzun baru pulang dari Diksar Wanadri dan keempat personil lainnya baru menjalani Diklatsar Giriwana I KPG Regional Jakarta Raya.
Keterangan: Diklatsar Giriwana I KPG Regional Jakarta Raya
Meeting point disepakati di stasiun Bogor karena pendakian dilakukan via jalur Curug Nangka. Sebelumnya telah dilakukan pertemuan-pertemuan baik membahas perihal administrasi dan logistik. Juga membedah aspek teknikal. Masing-masing personil telah mendapatkan tugas untuk menyiapkan peralatan kelompok seperti peta, kompas, buku catatan, kamera, tali dan alat panjat, golok tebas, kamera, P3K dan tentunya tidak ketinggalan Motorola TLKR T80 Extreme serta logistik pribadi.

Pukul 23:30 WIB (25/11/2016) kami berlima telah berkumpul di stasiun Bogor. Kami langsung menuju ke tempat mangkal angkutan umum yang menuju lokasi permulaan pendakian, yakni Curug Nangka. Pukul 01:15 WIB dini hari (26/11/2016) sampailah kami tiba di hutan Pinus dan memutuskan bermalam disini untuk menjaga stamina sebelum lanjut pendakian esok hari.
Pagi yang sejuk dan segar saat kami terbangun, dikelilingi pohon Pinus di hutan kaki gunung Salak kami menyiapkan sarapan. Setelah packing dan mempersiapkan gear pendakian seperti golok tebas, tali, dan tidak lupa alat komunikasi Motorola TLKR T80 Extreme yang akan menemani kami dalam sepanjang perjalanan dan dalam segala kondisi cuaca.

Pukul 07:00 kami awali perjalanan dengan do’a minta keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Motorola TLKR T80 Extreme teraktifkan. Satu unit Motorola TLKR T80 Extreme dipegang  team leader didepan dan satu unit Motorola TLKR T80 Extreme dipegang  sweeper diposisi paling belakang .
Jarak kami berlima kadang rapat kadang juga jauh terutama pada track turunan dan tanjakan tajam, kadang posisi team leader kami tidak terlihat karena tertutup lebatnya hutan. Di dalam hutan kami juga harus bisa menjaga suasana ekosistemnya dengan tidak berteriak-teriak untuk koordinasi. Kami tidak ingin satwa menjadi terganggu atau stres mendengar suara bising kami. Disinilah peran penting Motorola TLKR T80 Extreme untuk menjaga kerapatan posisi antar perrsonil dan mengkomunikasikan berbagai hal yang dihadapi selama perjalanan tanpa harus menimbulkan kegaduhan.

Kondisi jalur yang lebat, naik, dan berkabut membuat kami sering berhenti dan mengecek alat komunikasi kami Motorola TLKR T80 Extreme. Kami sangat kagum dengan performanya. Salah satu indikator baterai menunjukkan masih penuh dayanya. Benar-benar highly recommended buat kawan-kawan pendaki yang lain.
Pukul 10:54 WIB kami tiba di Pos 3 dimana kami memutuskan istirahat, makan dan minum. Istirahat siang juga kami isi dengan melakukan orientasi medan (ormed) dengan metode resection MPS (Menentukan Posisi Sendiri) dengan membidik beberapa puncakan. Titik koordinat menunjukkan posisi kami berada di 06 41’ 42”LS - 106 44’ 24”BT.
Satu jam lebih kami menghabiskan waktu di Pos 3 sebelum melanjutkan pendakian. Cuaca mendung kini bertambah dengan gemuruh geledek dan kilat menyambar. Hutan yang kami masuki semakin rapat sehingga siang hari serasa sudah seperti pukul  6 sore. Team leader tak bosan-bosannya selalu mengingatkan lewat walke talkies kami Motorola TLKR T80 Extreme agar kami tetap fokus dan berhati-hati dalam melangkah. Memastikan pijakan aman dalam setiap langkah. Angin semakin kencang  dan pertanda hujan akan turun, team leader meminta kami semua untuk segera mengenakan ponco untuk antisipasi jika hujan datang. Beberapa saat melanjutkan pendakian kembali, ternyata hujan turun dengan begitu derasnya di siang ini.
Pukul 14:20 WIB kami tiba di Pos 6 dan melepas ponco karena hujan mulai reda.
Istirahat sejenak dan mengecek Motorola TLKR T80 Extreme yang sangat nyaman dalam genggaman (compact) baik dalam kondisi telapak tangan kering dan basah. Sore hari mulai tiba, tak sabar rasanya ingin lekas mencapai puncak gunung Salak 2 dan istirahat disana. Pendakian kami lanjutkan kembali dan inilah jalur yang sangat luar biasa dari pos 6 menuju puncak. Dari pos 6 ini tenaga benar-benar terkuras habis. Semakin mendekati puncak jalur semakin terjal dimana dengkul bertemu dengan dada. Tepat pukul 17:45 WIB team leader menyampaikan kabar lewat wakie talkies Motorola TLKR T80 Extreme bahwa telah sampai di puncak Salak 2. Suara yang terdengar oleh personil paling belakang (sweeper) begitu jelas dan jernih walaupun terhalang lebatnya pohon dan elevasi ekstrim jalur pendakian. Sweeper memberikan instruksi dan semangat kepada personil yang lain agar tetap jaga jarak dan tidak lama kemudian kami semua tiba di puncak gunung  Salak 2 dengan selamat dan lengkap.
 
Isi keril kami bongkar dan berbagi tugas untuk masak, mendirikan tenda dan lainnya. Tenda menggunakan flysheet tidak lama telah berdiri.  Kami lanjutkan untuk  masak dan membuat minuman hangat. Cuaca makin dingin dan gerimis turun. Kopi hangat menemani obrolan ringan kami di malam ini. Malam mulai semakin larut  dan kami melepas lelah dengan sedikit saling lempar cerita lucu sebagai penghantar tidur.

Pagi  pukul 06:30 WIB (27/11/2016) di puncak gunung Salak 2 masih begitu dingin dan kabut tebal masih menyelimuti  tenda kami. Rasanya berat untuk bangun dan melepaskan selimut yang  terasa nyaman dan hangat (padahal sebenarnya tetap kedinginan).

Sarapan pagi dan secangkir kopi panas sudah kami nikmati. Saatnya melipat tenda dan packing peralatan. Setelah semua siap, kami plotting terlebih dahulu dimana posisi kami berada via MPS sebelum turun “nyadel”, dan titik koordinat dimana kami berada adalah 06 42’ 05”LS - 106 43’ 40”BT.
Pukul 09:18 WIB kami sudah siap untuk turun melewati  punggungan antara puncak gunung Salak 2 menuju puncak gunung Salak 1 yang kanan-kirinya jurang dan di  bawahnya mengalir sungai  Ciapus (jalur sadel).

Tali karmantel, figure eight, carabiner sudah siap dan tak lupa webbing untuk tali tubuh. Team leader menjadi pioneer. Setelah memasang tali karmantel, kemudian turun terlebih dahulu. Lewat Motorola TLKR T80 Extreme team leader menyampaikan untuk lekas bergantian turun. Satu persatu kami turun menggunakan tali karmantel. Setelah melalui tiga kali titik turunan jurang untuk menuju lembahan jalur “sadelan”, tibalah kami di jalur yang paling rapat untuk dilewati. Jalur yang sangat samar kami lewati. Kami terbantu dengan adanya marker tali rafia merah dari pendaki sebelumnya yang terikat di pohon.  Tak terasa perjalanan kami sampai di tengah jalur “sadelan” dan team leader menginstruksikan lewat walkie talkies Motorola TLKR T80 Extreme untuk istirahat sejenak. 
Setelah kami rasa cukup, kami melanjutkan kembali menuju puncak gunung Salak 1. Saat pukul 11:45 WIB kami memutuskan untuk  istirahat dan makan siang. Udara di lembahan ini sangat dingin walaupun di siang hari. Banyak tumbuhan langka yang kami jumpai, bunga Anggrek dan tumbuhan Kantung Semar tak luput kami abadikan lewat jepretan kamera.
Tak ingin berlama-lama di lembahan dikarenakan semua personil mulai terasa kedinginan. Team leader memberikan semangat dan instruksi untuk melanjutkan pendakian.
Waktu semakin sore dan cuaca kembali mendung. Angin dan kabut mulai kembali menyapa. Jalur yang kami lewati mulai mengecil dan setapak. Tepat disamping kiri kami jurang menganga yang tidak terlihat dasarnya. Disamping kanan kami juga jurang tapi masih ditumbuhi pohon. Melalui Motorola TLKR T80 Extreme, team leader selalu mengingatkan untuk berhati-hati, konsentrasi dan waspada pada pijakan dan pegangan. Bersyukur jalur tepian jurang sudah kami lewati. Hujan kembali turun dengan lebatnya. Sungguh luar biasa hutan gunung Salak ini. Jalur sangat rapat, curam dan cuaca ekstrim. Tak salah banyak pendaki yang tersesat karena tak mematuhi aturan atau himbauan.  

Di tengah-tengah suasana yang bagi kami sangat keramat dan membuat kami begitu khusyuk dalam langkah-langkah, tiba-tiba team leader menyampaikan berita yang sangat menggembirakan. Sesuatu yang telah kami idam-idamkan selama tiga hari ini. Misi yang kami sebut-sebut sejak 2 mingguan.
HORRRRRREEEEEEEE…. Terdengar suara teriakan lantang dari speaker walkie talkies Motorola TLKR T80 Extreme, suara memekik team leader, "Puncaaaaaaaaak Salaaaaaak Satuuuuuuuuuuuuuuuu". Puncak Salak 1 telah tergapai. Semua personil yang tersisa bersama sweeper seperti tersengat energi yang tiada habis. Nyaris tanpa berhenti semua bergerak dengan tempo lebih cepat. Tepat pukul 15:37 WIB kami semua tiba di Puncak Salak 1. Mission is accomplished. Salut untuk kekompakan tim. Highly recommended untuk performa Motorola TLKR T80 Extreme. Nyaman dalam genggaman tangan (compact), baterainya kuat (sampai Jakarta indikator baterai masih penuh), warna orange-nya sangat mencolok sehingga memudahkan penglihatan dalam kondisi malam dan rapatnya hutan, dan suaranya jelas serta kuat jaringannya (reliability). Misi pendakian berikutnya tidak boleh tidak tak bersamamu. Terimakasih kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas pencapaian ini. Kami berlima menjadi salah satu dari sedikit pendakian yang tercatat dengan skenario nyadel dari Salak 2 ke Salak 1.
Salam Pandawa Lima: Izzun, Ricky Item, Dedoy, Sofyan dan Abdul Ghoni.
 

Kamis, 05 Maret 2015

Pendakian Gunung Batur: Janji Menggapai Puncak Pertama untuk Si Juna (Setahun Dua Bulan)

Kuliah istri sedang memasuki masa liburan semester ganjil. Rencanya liburan kali ini akan dihabiskan dengan pulang kampung di Banyuwangi, Jawa Timur. Namun sebelum pulang kampung, kami memutuskan untuk melipir terlebih dahulu ke Bali.

Tiba di Bali pada Jumat petang (06/02/2015) kami bertiga dijemput keluarga Bali yang berdomisili di Canggu. Jumat malam kami manfaatkan untuk persiapan pendakian besok yang rencananya akan berangkat pada pukul 5 waktu Bali.

Sabtu (07/02/2015) pukul 3 pagi waktu Bali kami telah terbangun. Setelah persiapan selesai, tepat pukul 5 kami telah berada dalam perjalanan menuju Desa Batur, Kecamatan Kintamani. Setelah 2 jam perjalanan sampailah kami di Kintamani. Dikarenakan Driver-nya belum pernah mengantar orang ke titik lokasi pendakian maka kami pun bertanya pada orang yang kami temui di Kintamani. Dengan berbekal nama Pura Djati, akhirnya kami sampai di parkiran dan sekaligus loket perijinan pendakian Gunung Batur. Setelah sarapan dan berurusan dengan MCK, pukul 8 pagi kami memulai pendakian.

Sepanjang perjalanan kami temui kebun sayur, petaninya dan para turis serta guide-nya yang dalam perjalanan turun. Memang momen yang tepat untuk pendakian Gunung Batur adalah saat dinihari tepatnuya jam 3 atau jam 4 sehingga pas di atas dapat bertemu dengan view sunrise.

Setelah perjalanan 3,5 jam sampailah kami di warung dengan bangunan yang sangat kokoh karena berdinding semen. Disini view Gunung Batur tampak sempurna pesonanya. Sisi timur menghadirkan pemandangan Danau Batur. Sisi selatan menampakkan hitamnya batuan beku dari lelehan lahar dimana di tengahnya terdapat hijaunya pepohonan yang oleh Mamanya Juna dikomentari seperti pulau terapung di tengah laut hitam.

Mamanya Juna dan sepupunya ingin pendakian Gunung Batur hanya sampai disini. Lelah dan hari yang sudah siang menjadi alasannya. Namun, mengingat janji pada Juna bahwa pendakian kali ini harus menggapai puncak maka diputuskan Juna dan Papanya yang akan melanjutkan perjalanan ke puncak. Baru beberapa langkah, Juna menangis kencang karena tidak melihat Mamanya ikut. Mendengar Juna menangis maka Mamanya terlihat keluar dari warung dan memutuskan untuk ikut mendaki ke puncak.

Perjalanan ke puncak benar-benar mendebarkan. Jalur berpasir membuat langkah kaki menjadi berat. Kehati-hatian sangat diperlukan mengingat ada bayi yang digendong. Belum lagi ada kabut tebal dan hujan mulai turun. Beruntung, dengan semua keadaan ini Juna tidak terpengaruh. Bahkan sempat tertidur, kemudian bangun dan minum ASI. Juga sempat tersenyum pada kamera yang merekam langkah kaki di puncak Gunung Batur.
Setelah sejam lebih berjalan akhirnya tempat yang dituju terpijak juga. Alhamdulillah, Juna akhirnya mendapatkan puncak pertamnya setelah sebelumnya ‘hanya’ sampai di Kawah Idjen dan Kawah Ratu Gunung Salak. Setelah mengambil beberapa gambar dan video kami bertiga memutuskan turun. Gangguan monyet dalam jumlah puluhan menjadi penyebabnya. Mereka sempat mengambil biskuit Juna. Hujan yang turun tidak kami hiraukan menjadi teman dalam perjalanan turun ini.


Selasa, 03 Februari 2015

Gunung Dalam Al Qur’an

Al Qur’an menyebut gunung dengan dua perkataan bahasa Arab. Yang pertama kata jamak ‘jibal’ dan disebut sebanyak 33 kali, manakala kata tunggal ‘jabal’ disebut enam kali dan yang kedua kata ‘rawasi’ yang diulang sebanyak 10 kali. Begitu seringnya Al-qur’an menyebut gunung, mengisyaratkan betapa penting dan besarnya pengaruh gunung dan hikmah yang dikandungnya. Setidaknya ada beberapa hikmah yang tersirat dari sebuah gunung, diantaranya:
 
a. Karunia yang diberikan Allah SWT melalui gunung
1) Dan gunung-gunung sebagai pasak. (Q.S. An Naba' : 7)
2) Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S An Naml : 88)
3) … dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Dan kamilah yang melakukannya. (Q.S. Al Anbiyaa' : 79)
 
b.      Bencana yang diberikan Allah SWT melalui gunung
1) Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung, maka katakanlah: "Tuhanku akan menghancurkannya (di hari kiamat) sehancur-hancurnya, (Q.S. THaahaa : 105)
2) Dan gunung-gunung menjadi seperti bulu (yang berterbangan), (Q.S Al Ma´aarij :9)
3) Apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya, dan gunung-gunung dihancur luluhkan seluluh-luluhnya, maka jadilah ia debu yang beterbangan, (Q. S. Al Waaqi'ah : 4-6)

Berikut daftar Kota Volkano di Indonesia:
a. Dataran Dieng yang dihuni 1,5 juta jiwa lebih. Sumber ancaman: Kawasan pegunungan Dieng.
b. Ternate, berpenduduk 185 ribu orang lebih. Sumber ancaman: Gunung Gamalama.
c. Bitung, Sulawesi Utara, berpenghuni 187 ribu orang lebih. Sumber ancaman: Gunung Tangkoko
d. Kotamobagu, Sulawesi Utara, berpenduduk 107 ribu orang lebih. Sumber ancaman: Gunung Ambang.
e. Cimahi, Jawa Barat, berpenghuni 500 ribu lebih orang. Sumber ancaman: Gunung Tangkuban Parahu.
f. Garut, Jawa Barat, penduduk 136 ribu orang lebih. Sumber ancaman: Gunung Guntur, Papandayan, dan Galunggung.
g. Bogor, Jawa Barat, 950 ribu orang lebih. Sumber ancaman: Gunung Gede, Salak.
h. Menado, Sulawesi Utara, 410 ribu orang lebih. Sumber ancaman: Gunung Mahawu, Lokon-Empung.
i. Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan, 126 ribu orang lebih. Sumber ancaman: Gunung Dempo.
j. Sukabumi, Jawa Barat, berpenduduk 281 ribu orang lebih. Sumber ancaman: Gunung Gede, Salak.
k. Batu, Jawa Timur, berpenghuni 190 ribu lebih. Sumber ancaman: Gunung Arjuno-Welirang, Kelud.
l. Payakumbuh, Sumatera Barat, 116 ribu lebih orang. Sumber ancaman: Gunung Marapi.
m. Bukittinggi, Sumatera Barat, berpenduduk 111 ribu lebih orang. Sumber ancaman: Gunung Marapi dan Tandikat.
n. Boyolali, Jawa Tengah, hampir 60 ribu orang. Ancaman dari Gunung Merapi.
o. Bandung, Jawa Barat, lebih dari 2,3 juta penduduk. Ancaman dari Gunung Tangkuban Parahu.
p. Tasikmalaya, Jawa Barat, lebih dari 635 ribu penghuni. Ancaman dari Gunung Galunggung.
q. Cianjur, Jawa Barat, lebihd ari 140 ribu orang lebih. Ancaman dari Gunung Gede.
r. Magelang, Jawa Tengah, berpenduduk 118 ribu lebih. Sumber ancaman dari Gunung Sumbing dan Merapi.
s. Sleman, Yogyakarta, hampir 70 ribu penduduk. Sumber ancaman: Gunung Merapi.
t. Malang, Jawa Timur, dihuni 820 ribu lebih penduduk. Ancaman dari Gunung Arjuno-Welirang.
u. Blitar, Jawa Timur, penduduk 131 ribu orang lebih. Ancaman dari Gunung Kelud.
v. Lumajang, Jawa Timur, dihuni 95 ribu lebih penduduk. Ancaman dari Gunung Lamongan.
w. Purwokerto, Jawa Tengah, hampir 250 ribu penduduk. Ancaman dari Gunung Slamet.
x. Salatiga, Jawa tengah, lebih dari 170 ribu lebih orang. Ancaman dari gunung Merapi.
y. Klaten, jawa Tengah, penduduk 123 ribu orang lebih. Sumber ancaman: Gunung Merapi.
z. Cirebon, Jawa Barat, dihuni hampir 300 ribu orang. Sumber ancaman: Gunung Ciremai.
aa. Probolinggo, Jawa Tengah, berpenduduk 217 ribu orang lebih. Sumber ancaman: Gunung Lamongan.
bb.  Yogyakarta, dihuni 388 ribu orang lebih. Sumber : Ancaman Gunung Merapi (kompas.com 2012/11/16)

artikel terkait

Minggu, 01 Februari 2015

7 Prinsip Dasar Leave No Trace

Pertama, Persiapan dan Perencanaan.
Kedua, Berkemah dan berjalan di tempat dan alur yang sudah umum digunakan.
Ketiga, Buang air pada tempat dan kondisi yang tepat.
Keempat, Jangan merusak bagian alam dan lingkungan yang kamu temui.
Kelima, Minimumkan dampak dari api unggun.
Keenam, Jaga kelestarian dan jangan mengganggu tanaman dan binatang liar.
Ketujuh, Saling menghargai sesama petualang alam bebas.
 
Dirangkum dari buku "Leave No Trace" karangan Annete McGivney.
 
PERENCANAAN DAN PERSIAPAN
· Pelajari regulasi dan hal-hal khusus untuk daerah yang akan dituju
· Persiapkan diri untuk menghadapi cuaca yang buruk, bahaya dan keadaan darurat
· Jadwalkan perjalananan Anda untuk menghindari musim ramai kunjungan
· Datanglah dalam grup yang kecil, Jika dalam grup besar pecahlah menjadi beberapa grup kecil
· Bungkus ulang logistik makanan Anda, buang kotak yang tidak penting sehingga bisa mengurangi sampah
 
PERJALANAN DAN CAMP DI PERMUKAAN TANAH YANG KERAS
· Permukaan tanah yang keras termasuk diantaranya adalah jalan setapak yang sudah jelas dan camp-sites atau tempat mendirikan tenda, batu, kerikil, dan rerumputan kering.
· Lindungi daerah alami dengan cara camping setidaknya tidak terlalu dekat dengan danau dan aliran air.
· Temukan  camp-sites  yang baik, bukannya dibuat. Mengubah lokasi camp sangat tidak disarankan terutama sekali didaerah yang populer.
· Konsentrasikan kegiatan pada jalan setapak dan camp-sites yang sudah ada.
· Selalulah berjalan ditengah jalan setapak meskipun basah dan berlumpur. Hindari mengijak rumput yang tumbuh dipinggir jalan setapak.
· Jagalah camp-sites Anda agar tidak melebar. Di daerah yang masih asli alamnya, fokuskan aktifitas pada daerah yang tidak ada vegetasi tumbuhannya.
· Biasakan mengembalikan areal camp seperti semula saat setelah menggunakannya.
· Hindari menggunakan lokasi dimana efek terhadap alam baru saja terjadi.
 
BUANGLAH LIMBAH DENGAN BENAR
· Bungkus saat masuk, bungkus saat keluar. Periksa camp-sites Anda dan area sekellingnya apakah ada sampah atau makanan sisa. Bungkus dan bawa keluar semua sampah, makanan sisa dan kotoran lainnya.
· Timbunlah kotoran manusia dalam lubang yang digali dengan kedalaman 6 hingga 8 inchi dan paling tidak 60 meter dari sumber air, camp-sites, dan jalan setapak. Timbun dan samarkan bekas timbunan lubang tersebut setelah selesai menggunakannya.
· Bungkus pulang kertas tissu toilet dan produk pemakaian pribadi lainnya.
· Untuk mandi atau mencuci piring, bawalah air berjarak 60 meter dari aliran air atau danau dan gunakan sesedikit mungkin sabun berbahan biodegradable.
· Buanglah air buangan mencuci piring dengan cara memencarkanya.
 
BIARKAN APA YANG ANDA TEMUKAN
· Peninggalan masa lalu: periksa saja, tapi jangan disentuh susunan artifak dari peninggalan budaya atau sejarah.
· Biarkan batu, tumbuh-tumbuhan dan objek alam lainnya sebagaimana saat menemukannya.
· Hindarkan membawa atau mengenalkan sesuatu (tumbuhan, binatang dan lainnya) yang bukan berasal atau bukan habitat dari daerah tersebut.
· Jangan membangun apapun, yang bersifat permanen dan hindarkan membuat parit, jika benar-benar diperlukan timbun kembali parit tersebut setelah digunakan.
 
HORMATI KEHIDUPAN LIAR
· Amati saja kehidupan liar dari jarak jauh. Jangan mengikuti atau mendekati mereka.
· Jangan pernah memberi makan binatang. Memberi makan binatang akan merusak kesehatan mereka, merubah kebiasan alaminya dan akan merusak rantai kehidupan mereka.
· Lindungi kehidupan liar dan makanan anda dengan cara menyimpannya dalam wadah, juga simpan sampah anda dalam wadah yang aman jauh dari gangguan mereka.
· Hindari kehidupan liar selama waktu yang sensitif bagi mereka seperti musim kawin, musim bersarang, dan membesarkan anak.
 
BERTOLERANSI KEPADA PENGUNJUNG LAINNYA
· Hormati pengunjung lainnya dan lindungi kualitas dari pengalaman mereka di alam bebas.
· Berlaku sopan, bertegur sapa dengan pengguna jalan setapak lainnya.
· Saat menuruni jalan setapak dan berpapasan dengan yang mendaki, dahulukan mereka dengan memberi jalan pada mereka.
· Buatlah camp anda terpisah dari jalan setapak dan pengujung lainnya.
Biarkan suara alam mengalir, Hindari mengeluarkan suara keras dan bunyi-bunyian lainnya.
 

 

Hipokrisi Kode Etik Berkegiatan di Alam Bebas pada Pendaki Lugu, Pendaki Teroris dan Pendaki Munafik

Mari kita mulai dengan memperhatikan 3 kode etik berkegiatan di alam bebas dibawah ini:

Kode Etik Pertama, JANGAN MENINGGALKAN APAPUN KECUALI JEJAK (Leave nothing but foot print)
Kode Etik Kedua, JANGAN MENGAMBIL APAPUN KECUALI GAMBAR (Take nothing but pictures)
Kode Etik Ketiga, JANGAN MEMBUNUH APAPUN KECUALI WAKTU (Kill nothing but time)

Bagi saya, Pendaki Gunung yang getol memahami dan menerapkan secara buta ketiga kode etik diatas, secara gamblang saya kelompokkan menjadi 3 tipe:

Pertama: Pendaki Lugu


Pendaki Gunung dalam kelompok ini biasanya meyakini dan memahami pendakian dengan modal patuh tanpa ilmu apalagi wawasan kritis. Sehingga tidak melihat ada masalah pada ketiga kode etik diatas. Secara psikologis, sudah terpasang menara bawel dalam dirinya: "Ini kan kode etik. Kesepakatan global. Jadi harus diikuti 100%. Dan saya wajib meyakininya tanpa keraguan sedikit pun". Tapi sikap dan ekspresi kepatuhan kelompok ini biasanya hanya introvert-defensif. Tidak menunjukkan aksi yang reaktif di medan sosial. Hanya diam secara fisik. Tapi begitu yakin dalam hati. Dan biasanya pendaki dalam tipologi ini taat menjalankan anjuran dan nasehat keliru dari seniornya. Anjuran dan ajakan untuk menghabiskan sisa hidupnya, sisa hartanya, sisa tenaganya dan sisa-sisa yang lain untuk membuat jejak, mengambil gambar dan menghabiskan waktu di Gunung. Menjadi tua dan kesepian karena habis di Gunung dan Belantara. Dan setelah itu merasa menjadi Pendaki Gunung paling suci mengalahkan para nabi, filsuf dan Begawan!

Kedua: Pendaki Teroris

Kelompok ini merupakan tipologi Pendaki gembar-gembor. Pendaki sorak-sorai. Pendaki yel-yel demonstran. Atau kasarnya, dalam istilah saya: Pendaki preman jalanan. Hubungan mereka dengan gunung dan belantara lebih bersifat afiliasi ideologi. Semangat GENG. Semangat komunitas. Semangat kelompok. Bukan semangat terhadap "nilai-nilai yang bersifat abstrak Universal."
Untuk melacak Pendaki Gunung kelompok ini sangat gampang. Biasanya mereka gemar menyatakan kalimat seperti ini:

"Ini kode etik kami, kalian tidak punya kode etik ya?".

"Jangan sekali-kali menghina kode etik kami".

"Pribadi saya boleh anda hina, tapi jangan coba-coba kode etik saya".

"Selagi Anda mengkritik kode etik kami, kami tidak akan tinggal diam".

Dan sejenisnya.

Singkatnya, mereka gemar menggunakan kata-kata oposisi binner sambil mengacungkan tinju (baik tinju mental maupun tinju yang sebenarnya): "Ini kami. Itu kalian. Jangan coba cari-cari perkara dengan kami!"

Dalam kesehariannya, baik secara penghayatan batin, maupun konsistensi praktek ritualitas pendakian, rata-rata mereka biasanya juga tidak taat alias sering kencing sembarang, buang sampah seenaknya, dan mengambil edelweiss sebanyak-banyaknya. Tapi giliran ada pihak yang mengkritik kode etik, maka jangan harap mereka akan bisa tenang. Termasuk jika ada yang mengkritik ketiga kode etik diatas. Mereka akan langsung geram. Mereka siap bertarung apa saja. Baik secara online maupun offline. Mulai dari perang mulut, sampai adu tinju sangat gampang meledak. Dalam tinjauan saya, tipologi kelompok inilah yang berbakat untuk dipompa menjadi Pendaki teroris.


Ketiga: Pendaki Munafik


Yang masuk kategori ini biasanya getol membela jika ada pihak yang mengkritik ketiga kode etik tersebut. Meskipun ditunjukkan bahwa sikap intoleransi Pendaki Gunung, aksi anarkisme-teror Pendaki Gunung di gelanggang sosial memang dipicu (salah satunya) oleh ketiga kode etik diatas, tapi mereka tetap menolak bahwa ketiga kode etik diatas tidak bersalah. Yang salah adalah orang lain yang keliru menafsirkannya. Mereka sibuk untuk menafsirkan ketiga kode etik diatas, meskipun sebenarnya kode etik itu tidak butuh penafsiran karena sudah tidak up to date. Karena teksnya jelas-jelas mukham, denotatif. Bukan mutasyabihat-konotatif.

Tapi mereka sibuk membela ketiga kode etik tersebut bahwa semua itu ada asbabun nuzulnya. Ada latar kenapa ketiga kode etik itu disepakati secara global. Dan dalil yang paling populer bagi mereka adalah, bahwa saat itu dan saat ini posisi alam sedang terancam. Singkatnya, mereka bersikukuh membangun apologi. Membangun pembelaan. Meskipun pembelaan itu hanya kreatifitas mereka dalam berargumentasi, atau lebih tepatnya rasionaliasasi.

Tapi karena nafsu untuk membela, maka mereka tetap memulung dalil apa saja agar ketiga kode etik diatas bisa diakui oleh pihak lain, bahwa itu memang warisan leluhur para petualang yang layak diyakini kebenarannya. Bukan sebuah proyeksi primitif masyarakat pendaki dengan "stempel Global."

Secara garis besar, bagi saya itulah 3 kelompok Pendaki Gunung bila menyangkut ketiga kode etik diatas. Dan perlu digarisbawahi, ini adalah pendapat saya pribadi. Bukan fatwa apalagi
sabda Nabi. Anda wajib untuk tidak percaya. Karena itu Anda boleh berbeda pendapat dengan saya.  Mengapa begitu? Karena dalam pengamatan saya banyak yang mengagung-agungkan dan mendengung-dengungkan ketiga kode etik tersebut tetapi tetap saja sepanjang perjalanan tangannya mematahkan dahan dan daun, memakan buah arbei setiap ketemu, memaki-maki tumbuhan Jelantang bila tersengat, membunuh semut dan satwa kecil lainnya meski tanpa sadar, melongsorkan jalur, merusak shelter, dan membawa pulang batu, benda-benda, bunga Edelweiss, Cantigi dan lain-lain. Dan mereka lantang mengatakan kami hanya meninggalkan jejak, mengambil gambar dan membunuh waktu. Tai kucinglah!

So, apa yang Anda pikirkan?

 

 


Mendaki Gunung Ibarat Perang


Judul ini mungkin dipahami agak lebay terutama bagi pendaki yang sejak pertama mendaki telah merasakan servis dari produk ultralight gear, EO (Event Organizer) Pendakian atau jalur-jalur pendakian yang telah mapan. Tetapi sebaliknya bagi pendaki yang mendaki dengan gear yang sangat berat karena berbahan ‘non ultralight’ sebagai contoh rangka ransel yang terbuat dari alumunium bekas pengangkut barang tentara yang kasar dan berat. Tidak ada keril yang ringan seperti sekarang. Belum ada trek yang jelas bagi pendaki. Tim pendakian harus memotong semak belukar untuk membuka jalur. Alat - alat keselamatan seperti kantung tidur (sleeping bag)webbing dan pakaian berlapis polar juga belum ditemukan. Malam hari menjadi saat menyiksa terutama bila tidak api unggun.

Belum ada GPS (global positioning system) yang memandu perjalanan. Parang berat ditangan untuk menebas belukar cukup banyak berkontribusi pada pengurangan energi. Belum lagi makanan atau logistik yang monoton yang belum sevariatif saat ini dengan kandungan yang komplit. Survival Kit dan P3K Kit masih belum terlalu familiar. Paling jungle survival knife yang cukup berat yang setia menemani.
Maka mendaki gunung ibarat perang. Perhitungan cermat harus dilakukan, agar kegiatan pendakian tak menjadi ajang bunuh diri.