Rabu, 19 April 2017

Apakah Pendaki penyembah pohon?

Pernahkan meluangkan waktu sejenak untuk menatap dan berpikir lama pada sebuah pemandangan, yakni pohon besar di pinggir jalan protokol ibukota? Sebuah pohon yang rindang, berdaun hijau kehitaman karena tempelan asap dan debu polusi. Batangnya terdapat tempelan tulisan dan gambar iklan dan bekas tancapan pakunya masih terlihat di bagian batang lain, namun tak mengurangi kekokohannya. Makhluk yang tangguh dan mengagumkan bagi yang mau berpikir. Tahan terik panas matahari dan baik hati meneduhkan jasad manusia dari panas.

Demikianlah kenapa banyak Pendaki yang mengagumi sebatang pohon. Setiap pohon hidup sendiri dan mengurusi dirinya sendiri. Mereka bahkan bermanfaat atau memberikan manfaat untuk menunjang kenyamanan manusia. Dari hasil tanaman dan seluruh bagian dari pohon bermanfaat bagi manusia. Pohon kelapa misalnya. Dari mulai batang, daun, dan buahnya dimanfaatkan oleh manusia. Ada sebagian Pendaki merasakan hal ini, dan sebagai ungkapan rasa syukurnya ia memberikan pakaian, sarung pada pohon ini. Dan kadang lama ia duduk, juga berdiri di bawah dan/atau berdiri di samping pohon. Bahkan saking besarnya ungkapan rasa terima kasihnya, ia sampai merendahkan kepalanya (bersujud) pada pohon tersebut.
Anehnya Pendaki lain yang tidak mengerti tentang apa yang ia rasakan menuduh bahwa ia menyembah pohon. Padahal ia tidak ‘bersujud’ kepada pohon karena meminta sesuatu. Ia merasakan manfaat besar dari pohon tersebut, oleh karenanya ia ‘bersujud’ syukur terhadap pohon tersebut.

Dahulu, leluhur Pendaki yang dituduh sebagai penganut animisme dikarenakan melakukan hal serupa. Menciptakan semacam peraturan yang tidak tertulis bahwa barang siapa akan menebang pohon mesti membuat sesajen. Terutama pohon-pohon besar. Kenapa? Karena para leluhur Pendaki merasakan manfaat adanya pohon-pohon rindang. Selain membuat udara tambah segar juga akar-akarnya mampu menyimpan air. Tidak heran di setiap pohon besar yang rindang sering ditemukan mata air. Banyak Pendaki lain yang memanfaatkan air dari mata air tersebut. Akarnya juga memeiliki kekuatan menahan tebing agar tidak longsor. Menyadari bahwa keberadaan pohon memberikan manfaat pada manusia dan juga membuat tanah tidak longsor, para leluhur Pendaki mempersulit orang untuk menebang pohon. Praktek demikian yang selama ini Pendaki lain anggap menyembah pohon. Betul jika dikatakan laku fisiknya menyembah, tetapi yang diminta adalah agar pohon dapat hidup dengan subur.
Kasih sayang Pendaki terhadap pohon dibuktikan oleh beberapa peneliti. Ada suatu penelitian yang menarik dilakukan penelti asal Jepang, Masaru Emoto. Memang tidak meneliti pohon secara langsung. Yang dilakukan oleh Masaru Emoto adalah meneliti tentang dampak doa, ucapan baik, dan ucapan buruk pada air. Perlu dicatat bahwa sebagian besar pohon terdiri dari air. Hasil penelitian terbukti bahwa molekul-molekul air dari sumber air yang diberikan doa dan ucapan terima kasih menghasilkan bentuk kristal yang indah.

Jadi air memiliki kekuatan merekam segala sesuatu yang dipikirkan manusia. Pikiran manusia bervibrasi dalam bentuk gelombang. Getaran ini tertangkap dan direkam oleh air. Pohon yang sebagian besar terdiri dari air sehingga tidak mengherankan ia mampu menangkap pikiran orang yang akan menyakitinya.

Suatu alat khusus ditemukan oleh seorang ahli untuk mendeteksi efek dari pikiran terhadap pohon. Dan ternyata dari hasil penelitian membuktikan bahwa sebatang pohon bisa merasakan niat orang. Suatu pohon didekati oleh orang yang tidak punya maksud apa-apa terhadap pohon. Sebutkan sebagai orang pertama. Orang kedua adalah yang sayang terhadap pohon tersebut. Terakhir adalah orang yang akan menebang pohon. Dari alat yang ditempelkan pada batang pohon tersebut, terlihat efek dari ketiga orang yang berbeda tujuannya. Yang paling ditakutkan pohon adalah efek dari orang yang akan menebang pohon tersebut. Jadi, bisa dikatakan bahwa pikiran adalah energi. Semua energi mengandung getaran yang bervibrasi. So, tolong jangan menyepelekan pikiran. Badan Pendaki 70 % terdiri dari air. Pikiran buruk Pendaki akan melukai diri sendiri sebelum merusak alam dan orang lain.

Deforestasi semena-mena terjadi ketika kearifan lokal tidak lagi dipahami. Nenek moyang Pendaki sadar dan tahu pesan semesta. Pohon adalah sumber kehidupan manusia. Tanpa pohon, dijamin manusia sengsara. Mulai tanaman musiman semacam padi saja-kemudian-kelapa (tanaman tahunan), dll. Ketika penghormatan terhadap pohon dianggap penyembahan terhadap berhala maka banyak pohon ditebang semena-mena. Akhirnya berbagai bencana seperti banjir, tanah longsor dan kekeringan, serta yang paling mengerikan-climate change-tidak dapat dihindarkan.

Kearifan leluhur mengajarkan kehidupan yang selaras dengan alam. Saling memberi. Pendaki (manusia) memelihara pohon, dan pohon memberikan manfaat pada pendaki. Wahai Pendaki lain, masih ragu atau tidak percaya?

Cobalah berjalan di siang hari mengelilingi lautan pasir Bromo. Atau silahkan bertowaf (berkeliling dari puncak macan, glenmore dan sejati, juga puncak barat) di Kaldera Raung yang melingkupi 3 kabupaten (Banyuwangi, Jember dan Bondowoso). Rasakan betapa tiada pohon terasa panas membakar jasad. Setelah itu pasti semua akan sepakat untuk ‘menyembah’ pohon.
 

Sabtu, 15 April 2017

Idjen-Wurung Crater 8-9 July 2016



Hari ini akhirnya bisa juga mengawinkan Kawah Idjen dan Kawah Wurung. Sebelumnya selalu gagal, entah karena kecapekan, cuaca tidak mendukung seperti saat Juna usia 2 tahun 2 bulan dan tersesat (lokasi tidak ketemu) saat membawa Juna di usia 8 bulan.

Saat mudik lagi nanti sangat ingin camping di Kawah Wurung.

Perjalanan di mulai pada malam hari (8 Juli 2016) jam 21:30 WIB dari Srono-Banyuwangi. Sampai di Desa Tamansari Kecamatan Licin pukul 22.45 WIB. Di desa ini ada cegatan dengan membayar karcis untuk kas desa per motor Rp 5,000. Pada kesempatan ini kami manfaatkan istirahat, terutama Juna dan Mamanya yang didera kantuk berat. 

Pukul 23.15 WIB kami melanjutkan perjalanan dan tiba di Paltuding jam 12 kurang. Perjalanan kali ini lebih lancar dari biasanya karena sebelumnya menggunakan motor matic yang tidak sanggup untuk melewati tanjakan Erek-erek dan sekitarnya. Sehingga motor harus dituntun dan sempat mogok. Namun kali ini dengan motor baru Supra X 125 semua bablas termasuk perjalanan turun dengan memainkan gigi satu dan dua sangat membantu. Rasa was-was seperti saat perjalanan turun dengan matic seperti sebelumnya tidak lagi terasa.

Setelah bebersih dan membeli tiket masuk, pukul 00.30 kami memulai perjalanan ke Kawah Idjen dari Paltuding. Seperti yang sudah-sudah, Juna tidur dalam gendongan. 

Dengan tertatih-tatih pukul 3 dini hari sampailah kita bertiga di bibir kawah Idjen. Kami sempatkan turun setengah untuk mengabadikan blue fire. Selanjutnya naik lagi untuk mencari celah perlindungan dari dingin. Rasa dingin mendera kami sampai pukul 6.30. Maklum, sisi timur Kawah Idjen terhalang Gunung Merapi sehingga hangat mentari pagi baru dapat kami nikmati pukul 7 pagi.

Dua jam bersama mentari pagi kami nikmati dengan sarapan dan berfoto ria. Pukul 09.30 kami bergegas turun kembali ke Paltuding. Perjalanan jadi lebih ringan karena Milo telah terbangun sehingga bisa berjalan sendiri. Dasar anak kecil, gayanya ingin mandiri dengan tidak mau dipegangi dan berusaha mencari jalur sendiri.

Pukul 11:00 WIB kita bertiga tiba di Paltuding dan langsung melanjutkan perjalanan menuju ke Kawah Wurung setelah sebelumnya diwarnai perdebatan dan diskusi apakah akan langsung pulang atau mampir dulu ke Kawah Wurung.

Perjalanan ke Kawah Wurung dari Paltuding hanya memerlukan waktu 30 menit. Setelah mengisi perut dengan mie instan (warung belum menyediakan nasi) kita bertiga menuju puncak Wifi Kawah Wurung.

 
 

Kamis, 13 April 2017

Pulau Flores: Sang Nusa Giri

Pulau Flores merupakan salah satu pulau yang terletak di kawasan indonesia timur, tepatnya di propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Banyaknya turis asing yang datang menikmati eksotisme pulau Flores menandakan bahwa keindahan pulau Flores telah terkenal sampai ke seantero dunia. Sebagai informasi, pulau Flores berasal dari bahasa portugis “Flores“ yang berarti “bunga“. Nama ini diberikan karena keindahan pulau Flores yang sangat memukau bagaikan bunga yang baru mekar sehingga pulau Flores mendapatkan julukan “Nusa Bunga“. Adapun julukan lain dari pulau Flores yaitu “Nusa Nipa“, yang artinya “Nusa Ular“. Ini disebabkan karena bentuk pulau Flores yang panjang bagaikan ular.

Saya sendiri berkesempatan mengunjungi pulau Flores dengan menjelajahi hampir 400 km mulai dari Bandara Komodo di Labuan Bajo sampai dengan kota Ende (Bandara H. Hasan Aroeboesman). Kesan begitu mendalam dan memang tak terbantahkan bahwa pulau Flores memang pantas dijuluki Nusa Bunga dan Nusa Nipa karena begitu mempesonanya.

Namun sebagai pendaki gunung, tidak salah bila saya memberikan julukan tambahan pada pulau Flore, yakni "Nusa Giri" dikarenakan selama 4 hari menelusuri pulau Flores yang nampak adalah gunung-gunung dan bukit-bukitnya. Mata ini begitu dimanja dengan hampir semua penjuru mata angin menampilkan sosok yang begitu akrab: gunung.

Hutan-hutannya. Gas belerangnya. Jurang-jurangnya. Tebing-tebingnya. Terutama dinginnya kota Ruteng dan Bajawa begitu meninggalkan kesan yang dalam dan akan selalu memberikan panggilan khusus pada diri ini untuk segera kembali ke pulau Flores.

Dan tidak kalah penting adalah mempelajari kearifan lokalnya selama bertemu dengan warga dimana diantaranya adalah Tetua Suku/Adat. Bagaimana mereka mengambil keputusan. Cara mereka mengharmonisasikan diri dengan alam. Dan jalan yang mereka tempuh untuk selalu bisa memaknai segala kondisi dari sisi kemanusiaan.

Gunung dan kearifan lokal adalah dua hal yang akan selalu melekat dalam setiap perjalananan saya. Karena di gunung kualirkan air keringat untuk menyehatkan jasmani dan pada kearifan lokal kualirkan air mata untuk membugarkan hati dan nurani ini.
Keterangan: Selamat Pagi kawan-kawan semua. Mari kita Ngopi di Gunung Inerie (2,245 mdpl). Gunung ini merupakan salah satu gunung berapi yang ada di Pulau Flores. Terletak di Kabupaten Ngada dan di kaki bukitnya ada kampung adat yang terkenal bernama Kampung Bena. Namun spot terbaik untuk menyaksikan view gunung yang kelihatan tidak tinggi ini dibanding gunung-gunung yang ada di Jawa adalah di Manulalu Bed&Breakfast yang bisa ditempuh selama 40 menit kota Bajawa via kendaraan pribadi. Dari Manulalu Bed&Breakfast kita akan menyaksikan Gunung Inerie dengan begitu jelas. Nama gunung Inerie sendiri diambil dari kata "Ine" yang artinya ibu, dan "Rie" yang artinya cantik. Jadi Gunung Inerie berarti ibu yang cantik. Gunung ini masih aktif dan catatan terakhir meletus pada tahun 1970.
 
Keterangan: (Sumber: Wikipedia) Gunung Ebulobo, juga dikenal sebagai Emburombu atau Puncak Nage Keo, adalah gunung stratovolcano yang terletak bagian selatan dari Kabupaten Nagekeo di Pulau Flores Nusa Tenggara Timur, Indonesia.
Gunung Ebulobo menjulang di atas Kecamatan Boa Wae, yang terletak di bawah lereng barat laut gunung tersebut. Bentuk gunung simetris dengan ketinggian 2124 m, dengan bagian atas kubah lava berbentuk datar. Sejarah letusannya, yang tercatat sejak 1830, antara lain berupa lelehan lava di lereng utara serta letusan-letusan eksplosif pada puncak kawahnya.

Senin, 13 Maret 2017

Pendaki, Simbol Anti-Kemapanan


Zona nyaman adalah dambaan seluruh umat manusia. Karir yang jelas. Tempat kerja yang nyaman. Atasan yang baik hati. Gaji yang memadai. Setiap aspek resiko kehidupan ada jaminan asuransinya. Rekan kerja yang suportif dan kolaboratif. Sandang, pangan dan papan yang terjamin. Habis itu mati dan masuk surga.

Pernah mendengar istilah anti-kemapanan? Pasti pemahaman yang ada adalah anti hidup mapan. Menjalani kehidupan yang jauh dari kenyamanan. Padahal bukan itu artinya, anti-kemapanan tidak ada kaitannya dengan kenyamanan dan kemapanan finansial. Apalagi kecukupan sandang, pangan dan papan. Anti-kemapanan juga bukan karena kondisi seseorang yang tidak mampu mencapai tingkat kesejahteraan tertentu dan mencari kebenaran dengan cara membenci hal yang sudah mainstream (pemikiran kritis berbasis negative thinking).

Menurut tafsir para pendaki, anti-kemapanan adalah suatu pandangan bahwa tidak ada sistem atau tradisi yang benar-benar mapan di dunia ini. Semua selalu harus diperbaharui. Tradisi dan sistem yang abadi adalah yang bisa melebur dalam siklus perubahan itu sendiri. Para filsuf gunung dan belantara melihat anti-kemapanan mirip dengan post-modernisme, yakni kritik terhadap modernisme yang dianggap telah mapan. Post-modernisme menolak segala bentuk pembakuan aturan. Hal ini disebabkan keyakinan bahwa pembakuan akan menghalangi inovasi dan perubahan (revolusi).

Anti-kemapanan secara frontal dan ini yang banyak dimaknai penganutnya, adalah sikap atau pemberontakan (rebel) atau juga rusuh (riot) terhadap hal-hal yang bersifat materi atau kekayaan berlebih (glamouritas), tanpa perduli nasib orang-orang minoritas atau orang miskin (vulnerable group), sok pamer dan menginjak hak orang miskin karena mereka lebih kaya dari orang-orang disekitarnya. Anti-kemapapan juga penolakan terhadap penyalahgunaan kekuasaan dari para pemegang otoritas (pemerintah, organisasi kemasyarakatan yang mapan). Hal inilah yang mendasari munculnya slogan “Fuck the Authority”. Anti kemapanan itu ada dan lahir untuk membuat hal-hal tersebut terlihat lebih alamiah, sederhana (no rules) dan hidup apa adanya saja meski tidak ada larangan punya apa saja.

Banyak pendaki pendaki yang pada akhirnya menyimpulkan dan menganut definisi anti-kemapanan sebagai sebuah ideologi akan kebebasan dan menolak dimapankan oleh sebuah sistem, dikungkum oleh takhayul dan diikat oleh sebuah aturan tanpa siklus perbaikan dan transparansi. Namun bukan berarti pendaki tak punya aturan, disini pendaki bebas menentukan jalan hidupnya, bebas membuat aturan untuk diri sendiri asal tak merampas hak individu lainnya dan kode etik yang ada.

Pendaki berhak mengatur hidupnya sendiri tanpa harus diatur oleh orang lain dan aturan hidup pendaki tidak melanggar atau merampas hak-hak hidup orang lain. Anti-kemapanan menjadi siklus proses dimana pendaki menolak semua aturan, membebaskan diri dari segala peraturan yang mengikat, dan bebas menentukan Jalan hidup.

Pendaki meluangkan waktu untuk menjauh dari kota. Membuang jauh sikap ‘sok sibuk’, mengabaikan prinsip ‘waktu luang begitu mahal’, dan menghapus paham ‘time is money’ dengan berbagi waktu dengan alam. Disini pendaki ingin menyelipkan semacam semangat kesetaraan di dalam kehidupan. Kehidupan yang sering digunakan orang-orang kaya untuk memamerkan kemewahannya, juga harus bisa menjadi ruang bagi rakyat jelata. Dan itu dicontohkan oleh pendaki ketika menjauh dari kota.

Berikut ini beberapa contoh bentuk anti-kemapanan yang diinisiasi pendaki, rakyat dan tokoh yang bisa menjadi inspirasi dari bentuk perlawanan terhadap penindasan, ketidakadilan, keabsurdan dan pemaksaan/pembakuan terhadap kebenaran, sistem dan tradisi.

1.   Pendaki begitu sinis terhadap mereka yang tampil parlente di kota. Mereka yang berpenampilan klimis untuk menutupi kebusukan hati. Penampilan untuk mengaburkan tindakan korupsi dan manipulasi hasil pembangunan serta ketidakpedulian terhadap nasib rakyat jelata. Dan pendaki pergi ke gunung dengan celana robek dan bolong serta dipenuhi banyak emblem dari nama gunung dan organisasi serta tampil awur-awuran. Di gunung para pendaki begitu akrab dengan masyarakatnya. Mengabarkan kebijakan dan kemajuan bangsa. Menyemangati rakyat di kaki-kaki gunung meski kehidupan mereka seharusnya bisa lebih sejahtera bila tidak ada garong-garong “koruptor” yang menghisap dana pembangunan untuk wilayah pelosok. Para pendaki menyibukkan waktu untuk menimba kearifan lokal untuk dibawa dan diterapkan di kota. Mentok penampilan rapi pendaki dengan baju flannel dan seragam lapangan (PDL).

2.     Pada masa kolonialisme, rakyat yang terjajah memakai celana cingkrang hampir menyentuh lutut sebagai bentuk perlawanan terhadap penjajah yang memakai celana sampai mata kaki. Mereka yang pria banyak yang bertelanjang dada atau memakai baju yang tidak dikancingkan untuk menunjukkan bahwa mereka masih punya jiwa, berbeda dengan para penjajah dan para antek-anteknya yang rapi dengan baju-baju berlapis yang menutup dada dan tak memberi ruang rongga hatinya untuk dimasuki rasa kemanusiaan.

3.    Di India dan Afrika, Mahatma Gandhi menyerukan dan mengajarkan ahimsa (perlawanan tanpa kekerasan) untuk mengusir penjajah dan mewujudkan kemandirian bangsa yang sedang terjajah. Selain itu Gandhi juga mencontohkan satyagraha untuk mereka yang ingin teguh dalam mencari kebenaran tanpa terjebak dalam kebenaran nisbi dan tak berkompromi dengan pemilik kebenaran absolut (penjajah) sebagai sarana ahimsa. Memerintah diri sendiri, mengatur keluarga sendiri dan memenuhi keperluan sendiri untuk mewujudkan kemandirian melalui swadesi dan tentunya suatu ketika pengklaim kebenaran, sistem dan tradisi baku harus diberi pelajaran dengan hartal atau mogok nasional untuk menyadarkan mereka bahwa kebenaran, sistem dan tradisi harus disepakati bersama akan pemaknaan dan pengimplementasiannya dalam kehidupan bermasyarakat.

Jadi tetaplah kritis wahai para pendaki!!! Jangan pernah berhenti untuk tidak merasa mapan. Karena anti kemapanan itu adalah penyelamat kita dari sergapan ketertinggalan dan keabsurdan.

Akankah ada suatu masa malah pendaki yang akan melestarikan paham kemapanan?

Sabtu, 18 Februari 2017

"Penafsir Gunung dan Belantara"

Memulai laku menjadi Penafsir Gunung dan Belantara harus dengan landasan niat yang lurus. Niat yang ditujukan untuk mengoptimalkan kinerja dulur kembar papat, kakang kawah dan adi ari-ari serta menemukan dirinya sendiri (pancer) untuk menyempurnakan penghambaannya kepada Sang Pencipta. Dengan demikian (niat tersebut) apabila di kemudian hari ada cibiran, tiada perhatian, dan lingkungan yang tidak mendukung maka laku tak akan berubah dan hati tak akan kecewa dan kemudian mundur dari laku!

Kekuatan niat teraktivasi dengan melafadzkannya, meneriakkannya sehingga menjadikan sendi, otot dan tulang serta aliran darah menjadi berdaya juang!

Niat menjadi penentu.

Mari menjadi Penafsir Gunung dan Belantara dengan niat "menyempurnakan kehambaan dengan cara mendaki gunung dan menempuh belantara".

-Puncak Rengganis, Pegunungan Iyang (Argopuro)-
 

Selasa, 07 Februari 2017

Kehadiran Media Sosial Bagi Pendaki, Gunung dan Produsen Gear Pendakian: Berkah atau Kutukan?

Berkat kehadiran media sosial (medsos) seperti facebook, twitter, instagram, linkedin, path dan medsos lainnya denyut nadi pergerakan dunia pendakian menjadi semakin semarak dan bahkan bisa dikatakan menjadi booming. Dunia pendakian kini tidak lagi sepi. Istilah lonely mountain sepertinya sudah hilang, terlupakan dan terkubur hidup-hidup. Perjalanan ke gunung untuk mencari hikmah, kesunyian dan kesendirian menjadi sesuatu yang sulit didapatkan. Terlebih pada akhir pekan atau libur panjang.

Postingan di medsos baik berupa keindahan alam, keunikan flora dan fauna, pengalaman dengan tantangannya (petualangan) dan lain sebagainya sukses menghipnotis banyak kalangan untuk bergeser dari mall, pantai, museum, café, club dan lain-lain menuju ke gunung dan belantara. Memikat para ahli backpacker dari kota-kota, gang-gang dan lorong-lorong untuk berhijrah ke puncak-puncak, tebing-tebing, ngarai-ngarai, lembah-lembah, jurang-jurang dan belantara. Medos sukses menggeser dunia pendakian dari sesuatu kegiatan yang anti mainstream menjadi suatu aktivitas yang umum. Medsos berhasil membuat pendaki yang mendaki sebelum jaman Medsos terhenyak dan gagu melihat kenyataan orang ke gunung secara berbondong-bondong seperti bermigrasi dari desa ke kota. Antara senang dan gundah-gulana karena menyaksikan keramaian manusia yang bahagia dan secara bersamaan melihat sampah dengan ragam jenisnya berserakan dimana-mana. Antara meradang hingga riang gembira melihat secara paralel eksistensi kemanusiaan begitu mendalam, namun filosofi agung pendakian menjadi tak tentu arah dan keimanan terhadap gunung dan belantara sebagai tempat dimana udara paling murni bersemayam dan segala definisi hidup terurai terancam ditinggalkan. Inilah ketika berkah dan kutukan bersatu seperti dua sisi mata uang. Tak terpisahkan!
Namun, sebagaimana keimanan para pendaki sejati bahwa gunung dan belantara berawal dari sesuatu yang asing dan ekslusif, sehingga nanti pada saatnya akan kembali menjadi hening dan aneh. Entah kapan!

Selain dampak kehadiran medsos terhadap pendaki dan gunung, medsos juga diyakini menjadi pemicu pergeseran dan mungkin juga revolusi dunia pendakian dari sisi peralatan (gear). Para produsen turut terbantu dengan adanya media sosial dalam perlombaan teknologi (desain, bahan dan jahit), distribusi maupun pemasaran. Terjadi saling susul-menyusul produk outdoor dengan teknologi terkini. Medos menyajikan berbagai referensi bagi produsen terkait produk outdoor yang unggul dan diminati.  Pujian dan kritikan terhadap produk outdoor bertebaran di wall akun pribadi dan group. Review dan esai terkait produk tersaji dengan melimpah ruah. Pengalaman menggunakan produk outdoor langsung di-share saat itu juga sehingga memudahkan produsen dan calon konsumen untuk mendapatkan struktur preferensi terkait produk. Menemukan kesenjangan antara ekspektasi dan kenyataan dari produk yang ada di pasar.
Terima kasih Medos. Jasamu abadi!!!
 

Percobaan Marshmallow: Pembelajaran Krusial Untuk Pendaki Gunung dan Penempuh Hutan Belantara

Percobaan Marshmallow merupakan salah satu penelitian ilmiah yang sangat terkenal tentang psikologi dan perilaku manusia. Marshmallow adalah makanan ringan yang sangat disukai anak-anak kecil. Teksturnya kenyal, rasanya manis asam.

Percobaan ini membuat gempar karena mengungkap karakteristik apa yang harus dimiliki seseorang jika ingin sukses dalam kehidupan termasuk dalam dunia pendakian dataran tinggi dan perambahan hutan belantara. Didalam https://id.wikipedia.org/wiki/Percobaan_marshmallow_Stanford dijelaskan dengan gamblang mengenai Eksperimen Marshmallow. Berikut ini cuplikan narasi aslinya.

“Percobaan Marshmallow Stanford adalah sebuah percobaan yang dilakukan oleh Walter Mischel dari Universitas Stanford untuk mempelajari mengenai kepuasan tertunda. Percobaan ini dilakukan Mischel pada tahun 1960an dan sejak itu percobaan ini pun sering dilakukan ulang oleh peneliti lain. Mischel mengetes beberapa anak berumur empat dan lima tahun di Taman Kanak-kanak Bing di dalam kampus Universitas Stanford. Masing-masing dari anak tersebut dibawa ke dalam suatu ruangan dan sebuah marshmallow ditaruh di meja di depan anak tersebut. Mereka diberitahu bahwa mereka boleh memakan marshmallow tersebut sekarang, tetapi apabila mereka menunggu 20 menit, Mishcel akan kembali dan memberikan mereka tambahan satu marshmallow. Hasil dari percobaan tersebut adalah sepertiga dari anak-anak tersebut memakan marshmallow dengan segera, sepertiga lainnya menunggu hingga Mischel kembali dan mendapatkan dua marshmallow dan sisanya berusaha menunggu tetapi akhirnya menyerah setelah waktu yang berbeda-beda. Tujuan awal dari percobaan ini adalah untuk mengetahui proses mental yang membuat seseorang menunda kepuasaannya saat ini untuk mendapatkan kepuasan yang lebih pada masa mendatang.

Namun, hasil yang mengejutkan dari percobaan ini justru didapatkan setelah anak-anak yang ikut dalam percobaan beranjak dewasa dan telah memasuki sekolah menengah. Beberapa tahun kemudian, Mischel yang memiliki tiga orang anak perempuan yang dulu juga bersekolah di Bing, bertanya mengenai keadaan teman-teman anaknya dari taman kanak-kanak. Ia kemudian menyadari bahwa terdapat perbedaan antara anak-anak yang berhasil menunggu dan yang tidak dalam nilai akademis mereka. Kemudian, pada tahun 1981, Mischel mengirimkan kuesioner kepada orang tua, guru dan pembimbing akademis dari anak-anak yang dulu ikut berpartisipasi dalam percobaan ini. Ia bertanya mengenai sifat mereka, kemampuan mereka untuk berencana dan mengatasi masalah serta berhubungan dengan teman-teman. Ia juga meminta nilai SAT (Red: Ujian Standar Akademik dan Berpikir Kritis) mereka. Ia lalu menemukan bahwa anak-anak yang dapat menunggu memiliki nilai rata-rata 201 poin lebih baik dari mereka yang tidak bisa menunggu.”
 
Kesimpulan tersebut mendapat konfirmasi bila kita lihat dalam kejadian dan kondisi lain sehari-hari, terutama dalam kehidupan persilatan pendakian gunung dan penempuhan rimba belantara. Seorang pendaki yang hendak memulai pendakian pertamanya punya dua pilihan, menurutkan kesenangan sekarang dengan berleha-leha, atau menunda kesenangan dan berusaha menyiapkan fisik, mental dan SKA (Skill, Knowledge and Attitude) sebaik mungkin sampai kesenangan yang sesungguhnya tiba (menggapai puncak dan pulang selamat serta hikmah perjalanan). Bagi yang masih sekolah dengan bergabung dan mengikuti pendidikan dan latihan dasar yang diselenggarakan Sispala di sekolahnya. Bagi yang mahasiswa dengan mengikuti Mapala. Dan bagi masyarakat umum yang tidak berkesempatan di Sispala dan Mapala bisa membentuk dan mengasah fisik, mental dan SKA-nya di PDW dan SPG Wanadri, Indonesian Green Ranger dan lainnya. Atau sah juga membentuk komunitas dan menyelenggarakan pendidikan dan latihan dasar di dalamnya. Semua sama, demi aman dan nyaman bermain di medan gunung dan hutan belantara serta mendapatkan hikmah perjalanan.

Bahwa kekuatan menunda kesenangan (Delayed Gratification) adalah skill yang amat krusial sebagai penentu kehidupan sesorang di kemudian hari dan khususnya pendaki gunung dan penempuh hutan rimba.

       Jika Pendaki dapat menunda kesenangan dari merokok dan lebih memilih untuk lari tiap pagi mungkin akan lebih sehat sekarang dan tidak gagal dalam menggapai puncak impian.

       Jika Pendaki dapat menunda kesenangan dari bersosmed ria dan lebih memilih membaca buku mungkin anda akan lebih pintar dan tercerahkan sekarang. Bisa mengisi materi-materi tentang pendakian dengan baik dan komprehensif.

       Jika Pendaki bisa menunda kesenangan dari membeli barang-barang konsumtif dan mensisihkan uangnya untuk ditabung dan mengkoleksi gear pendakian yang dibutuhkan tentu saat mendaki tidak perlu kesana-kemari mencari gear pinjaman.

       Jika Pendaki bisa bisa menunda kesenangan dengan setiap bulan mengambil waktu sehari penuh untuk belajar materi-materi dasar maka misalkan ada 14 materi dasar yang harus dikuasai maka kurang dari setahun setengah tanpa disadari ia sudah menguasai materi dasar tersebut (1. Navigasi Darat; 2. Survival; 3. Mountaineering; 4. P 3 K; 5. Manajemen Perjalanan/Pendakian; 6. Iklim, Medan dan Ilmu Penaksiran; 7. Komunikasi Lapangan; 8. Sejarah Pendakian dan Organisasi yang relevan; 9. Hakekat Berkegiatan Alam Bebas dan Kepencitaalaman; 10. Reportase dan Fotografi Perjalanan/Pendakian; 11. Sosiologi Pedesaan; 12. Keorganisasian; 13. Kepemimpinan; 14. Konservasi dan Etika Pendakian).

       Jika… silahkan ditambahkan wahai para pendaki, kesenangan apa yang bisa ditunda untuk menggapai kesenangan yang lebih wahid lagi (sesungguhnya).

Semua contoh diatas ditentukan karena Kekuatan Menunda Kesenangan Sementara (delayed gratification). Kita seringkali gagal mengatasi distraksi kesenangan-kesenangan sementara yang begitu menggoda. Dan sayangnya, dalam era smartphone ini, kita begitu mudah terjebak dalam kesenangan sesaat yang begitu distraktif (cek beranda FB, cek pemberitahuan WA, baca berita-berita online, mengikuti hoax yang sesuai dengan keyakinan, dst). Padahal kita tahu: jika kita ingin sukses dalam dunia persilatan pendakian, kita wajib untuk mempunyai fisik, mental dan SKA yang memadai. Kedisiplinan dan terus fokus terhadap tindakan dan pencapaian kita.

Ayo diimani, setiap Pendaki pasti punya the power of delayed gratification yang sekokoh karang, dan tidak mudah tertipu dalam kesenangan singkat yang begitu melenakan.