Blog ini representari dari rasa syukur atas kesehatan dan kesempatan dalam hidup ini untuk berbagi waktu dengan gunung dan belantara.
Rabu, 12 Februari 2014
Minggu, 08 Desember 2013
Sebuah Nama Sebuah Kecintaan (Keegoisan)
Umumnya dari kita suka memberi nama pada tempat, sebutan pada
teman dan tentunya memberi gelar pada diri sendiri meskipun telah memiliki nama
resmi pemberian dari orang tua. Termasuk juga aku, sejak 10 tahun ini tertarik
dengan sebutan atau panggilan yang berkaitan dengan kegemaran mendaki gunung
dan merambah belantara.
Tulisan ini tidak akan membeber dasanama aku akan tetapi ingin menceritakan ujung dari semua itu
yakni keegoisan aku dalam memberi nama anak.
Tiba-tiba saja terlintas ingatanku
pada salah satu anggota PGB memberi nama anaknya dengan nama yang unik, yakni Survival.
Padahal, sepertinya tidak cocok karena bahasa kurang pas dengan lidah Madura dan Jawa.
Egois memang kita, memberi nama anak-anak kita dengan sesuatu yang kita senangi.
Kita tak membayangkan kelak mereka menuntut kenapa Ayah memberiku nama “pekat
kabut”, kok bapak kasih nama aku “puncak bayangan”, Pa… kok namaku Sagarmatha (menjadi judul film besutan
anak negeri yang dibintangi Nadine), emang
gak ada nama lain yang lebih indah. Nah…,semoga kita siap jawabannya.
Sembari nyengir aku membayangkan jika
kelak, anggota group Penikmat Gunung dan Belantara memberi nama anaknya: Rowo Embik, Lembah Kidang atau Jurang Kuali, semakin geli lagi jika nanti ada yang memberi nama
anaknya Penikmat Gunung dan Belantara (PGB), pasti golongan darahnya bukan lagi O, B, A atau AB tapi
golongan darahnya “GB”, salut
kalau ada yang berani…
Lantas bagaimana kita akan memanggil anak-anak kita. “Embik dan Pacet…, sini!, Jurang
Kuali.. tolong bapak sebentar!, “Liman, sekolahmu gimana?. Bayangkan wajah anak-anak kita ketika di panggil. Padahal temen sebayanya
punya nama yang beken dan keren, Arlita, Diva, Jelita, Angel.
Bayangkan lagi kalo anak-anak ditanya oleh guru mereka, “Siapa namamu bocah
bagus?”, Namaku Angin
Berhembus bu.”, pastilah gurunya geli dan membayangkan bapaknya yang
kasih nama. Eh… kamu, namamu siapa! E….namaku Raung pak. Bayangkan lagi bagaimana mental anak-anak kita.
Bagi rekan-rekan PGB yang masih membujang (baca: belum laku di pasaran jodoh), kelak kalau kasih nama anaknya sebaiknya dipikirkan jauh ke depan. Bagi yang sudah terlanjur berbanggalah karena tak
ada yang menyamai nama anaknya. Seperti aku sendiri memberi nama anakku: Arjuna Restu Muhammad Tiwikrama. Nama ini karena kecintaan (keegoisan) aku
pada Gunung Arjuna, Nabi dan Cerita Pewayangan.
NB:
Liman adalah
nama salah satu puncak gunung Wilis, Rowo Embik adalah salah satu lokasi di
gunung Argopuro, Jurang Kuali dan Lembah Kidang adalah salah satu lokasi di
gunung Arjuno-Welirang.
Jumat, 06 Desember 2013
Pendakian Gunung Wilis
Sesungguhnya ‘’Dia’’ adalah diriku.
Meski berbeda secara kasat mata namun sama dalam kesejatian manifestasi Tuhan.
Gunung sejak dahulu adalah manifestasi yang selalu netral tak terkecuali Gunung
Wilis.
Kami mendaki berlima. Om Djawoel, Heru, Santo, Ayub dan Aku, Lapendos.
Kami adalah tim yang bertemu dan terbentuk karena alam. Jadi visi, misi dan filosofi pendakian kami hampir saling bisa diketahui dan dimengerti oleh satu sama lain. Cerita dan hikmah pendakian kami tidak cukup semalam untuk membicarakannya. Dan komunikasi kami akhir-akhir ini menjurus pada misi pendakian yang tidak tidak melulu pada gunung dengan ketinggian di atas 3.000 mdpl. Kami ternyata membutuhkan variasi pendakian. Maka Gunung Wilis menjadi tujuan yang paling ideal. Kami berusaha ekstra untuk menyatukan jadwal pendakian ini dan pada tanggal 17 Juli 2009 jadilah kami mendaki Gunung Wilis pada malam yang gelap gulita dengan tanpa seorang pun dari kami yang pernah mendaki gunung ini. Pioneer.
Dalam keadaan seperti ini energi tambahan-Tiwikramaku muncul, menyibak rerumputan ini dan melaju untuk sampai di pucuk punggungan yang meyakinkan bahwa kita bertemu dengan percabangan yang benar. Kami mengambil ke arah kanan dan sampailah pada pos yang bernama Sekartaji dimana terdapat situs persemedian dan sumber air yang sangat jernih dan mengalir. Jam menunjukkan lebih dari tengah malam alias dini hari kami pun menghamparkan tenda dan mendirikannya sesegera mungkin. Setelah mengisi sedikit rongga perut terlelaplah kami dalam impian rupa puncak gunung Wilis yang sejak perjalanan tadi kita tunjuk dengan berbagai argumentasi yang meyakinkan. Tetapi nanti kemudian kita bersama tahu bahwa kita keliru.
***
Pagi ini begitu cerah. Kami ucapkan selamat pagi pada Indonesia, Sang Pemilik Alam yang Indah ini dan khususnya alam wilis yang mempesonaku. Inilah sajian mata pagi ini. Hamparan rerumputan punggungan wilis menjadi ciri khas dari view gunung ini. Indah namun panas menjadi cepat merambat dan menyengat. Setelah mengisi energi dan menikmati semua yang ada di pagi ini kami bergegas merambat menempuh perjalanan muncak (summit attack) Gunung Wilis.
“Sekartaji yang cantik aku pergi sejenak ke atas buat melihat puncak yang juga turut mempesonamu”, ujarku dalam hati.
***
Biarlah berlalu apa yang seharusnya berlalu terkecuali kecintaanku pada gunung dan belantara. Sudahlah sudah pergi segala kepemilikanku tetapi jangan beranjak dari hati segala kekagumanku pada manifestasiNYA ini. Aku yakin inilah pengambil seluruh hatiku dan membuatku sanggup menerima kenyataan bahwa segalanya akan berlalu.
Kami benar-benar dibuat kepanasan oleh sengatan mentari Wilis. Kami benar-benar tiada menduga namun perjalanan panjang siang ini akhirnya menemukan titik perhentiannya sebuah penanda puncak
dari puncak gunung Wilis akhirnya kami temukan. Terima kasih atas kesabaran dan ketangguhan.
Kami mendaki berlima. Om Djawoel, Heru, Santo, Ayub dan Aku, Lapendos.
Kami adalah tim yang bertemu dan terbentuk karena alam. Jadi visi, misi dan filosofi pendakian kami hampir saling bisa diketahui dan dimengerti oleh satu sama lain. Cerita dan hikmah pendakian kami tidak cukup semalam untuk membicarakannya. Dan komunikasi kami akhir-akhir ini menjurus pada misi pendakian yang tidak tidak melulu pada gunung dengan ketinggian di atas 3.000 mdpl. Kami ternyata membutuhkan variasi pendakian. Maka Gunung Wilis menjadi tujuan yang paling ideal. Kami berusaha ekstra untuk menyatukan jadwal pendakian ini dan pada tanggal 17 Juli 2009 jadilah kami mendaki Gunung Wilis pada malam yang gelap gulita dengan tanpa seorang pun dari kami yang pernah mendaki gunung ini. Pioneer.
Dari Kota Mojokerto kami naik bus ke Nganjuk. Dilanjutkan
naik ojeg ke Rorokuning.
Perjalanan kaki di malam ini membuat kami bergerak dengan kecepatan sedang. Mengingat malam
pekat dan rute yang membuat kami merasa aneh karena terlihat tidak dilalui
orang dalam tempo yang cukup lama. Kami lama berada di jalur bamboo dan lebih
lama lagi berada di punggungan dengan rerumputan yang telah menutupi jalur.
Keliatannya jalur ini memang sudah ditutup hanya saja malam membuat kami tidak
bisa menganalisa dengan tepat ketika ada di percabangan itu. Dalam keadaan seperti ini energi tambahan-Tiwikramaku muncul, menyibak rerumputan ini dan melaju untuk sampai di pucuk punggungan yang meyakinkan bahwa kita bertemu dengan percabangan yang benar. Kami mengambil ke arah kanan dan sampailah pada pos yang bernama Sekartaji dimana terdapat situs persemedian dan sumber air yang sangat jernih dan mengalir. Jam menunjukkan lebih dari tengah malam alias dini hari kami pun menghamparkan tenda dan mendirikannya sesegera mungkin. Setelah mengisi sedikit rongga perut terlelaplah kami dalam impian rupa puncak gunung Wilis yang sejak perjalanan tadi kita tunjuk dengan berbagai argumentasi yang meyakinkan. Tetapi nanti kemudian kita bersama tahu bahwa kita keliru.
***
Pagi ini begitu cerah. Kami ucapkan selamat pagi pada Indonesia, Sang Pemilik Alam yang Indah ini dan khususnya alam wilis yang mempesonaku. Inilah sajian mata pagi ini. Hamparan rerumputan punggungan wilis menjadi ciri khas dari view gunung ini. Indah namun panas menjadi cepat merambat dan menyengat. Setelah mengisi energi dan menikmati semua yang ada di pagi ini kami bergegas merambat menempuh perjalanan muncak (summit attack) Gunung Wilis.
“Sekartaji yang cantik aku pergi sejenak ke atas buat melihat puncak yang juga turut mempesonamu”, ujarku dalam hati.
***
Biarlah berlalu apa yang seharusnya berlalu terkecuali kecintaanku pada gunung dan belantara. Sudahlah sudah pergi segala kepemilikanku tetapi jangan beranjak dari hati segala kekagumanku pada manifestasiNYA ini. Aku yakin inilah pengambil seluruh hatiku dan membuatku sanggup menerima kenyataan bahwa segalanya akan berlalu.
Kami benar-benar dibuat kepanasan oleh sengatan mentari Wilis. Kami benar-benar tiada menduga namun perjalanan panjang siang ini akhirnya menemukan titik perhentiannya sebuah penanda puncak
dari puncak gunung Wilis akhirnya kami temukan. Terima kasih atas kesabaran dan ketangguhan.
Kamis, 14 November 2013
Dialog dengan Pendaki Gunung Sufistik (PGS)
Penanya: Sejak
kapan Anda mendaki gunung?
PGS: Sejak
realitas tak mampu dijelaskan oleh panca indera. Sejak yang tersurat
mendominasi dan membutakan yang tersirat.
Penanya: Mengapa
Anda mendaki gunung?
PGS: mendaki
gunung adalah salah satu suluk (jalan) untuk menggapai kesejatian. Meleburkan diri
ke dalam Dia. Tiada lagi daun, akar, dahan dan buah. Lebur tiada yang nampak. Yang
ada adalah Pohon.
Penanya: Siapa
teman seperjalanan yang paling Anda inginkan ketika mendaki gunung?
PGS: Mereka-mereka
yang bisa menunjukkan dan menemani sampai ke puncak spiritualitas. Pemahaman tertinggi
bahwa semua ini hanya manifestasiNYA dan fana.
Penanya: Apa
yang Anda siapkan sebelum mendaki gunung?
PGS:
Keteguhan jiwa. Raga yang kokoh. Keril penyelamat. Waktu yang hening untuk
berkhalwat. Pemahaman yang kuat: Bahwa takdir bisa dihindari untuk menuju ke
takdir yang lain (baca: tidak memaksakan hasil/keinginan).
Penanya:
Kapan Anda akan berhenti mendaki gunung?
Minggu, 10 November 2013
Pendakian Penanggungan di Bulan Mei 2009
Mendaki bukan hanya untuk
menaklukkan (pembuktian) tetapi kadangpula karena untuk
menjalin silaturahim dengan kawan-kawan yang lain. Lama
tidak bersama dalam pendakian dengan kawan-kawan yang sudah seperti saudara menjadikan
alasan kenapa aku tidak perlu bertanya kemana dan akan berapa lama mendaki.
Apakah sudah sering mendaki gunung tersebut atau berpikir dengan
pertanyaan-pertanyaan yang tidak menjadi penting kalau sudah atas nama
perkawanan.
Mendaki Gunung Penanggungan di awal Bulan Mei 2009 sebenarnya sangat melelahkan mengingat seminggu yang lalu aku baru selesai mendaki 4 puncak (Welirang, Kembar 1, Kembar 2 dan Arjuno). Namun pendakian kali ini untuk me-restore kembali kemurnian nuraniku karena pendakian ini bersama dengan Om Jawul-kawan sekaligus guru-dan pendaki yang baru akan memulai pendakian pertamanya dimana sangat butuh berinteraksi dengan orang-orang yang telah banyak makan asam garam gunung dan belantara.
Jadilah Sabtu malam, 2 Mei 2009 kami berduabelas orang melintasi rute Tamiajeng menuju Puncak Penanggungan. Kemudian ketambahan 3 orang yang mengaku berasal dari Sidoarjo.
Suasana cerah secerah hati kami. Kerinduan untuk berbincang di sebuah perjalanan mendaki gunung tengah dilangsungkan. Om Jawul bercerita pendakian ke Penanggungan 3 minggu yang lalu. Hendy bercerita pendakian ke Arjuno 2 minggu yang lalu. Dan aku bercerita seminggu yang lalu mendaki 4 Puncak: Welirang, Kembar 1, Kembar 2 dan Arjuno. Serta yang lain juga turut menyumbang cerita lainnya. Pendakian Penanggungan ini seakan tiada kehabisan kisah untuk diceritakan dan tentunya bagi kawan-kawan yang baru pertama mendaki situasi ini tentunya sangat mengasyikkan karena dongeng gunung yang masih hangat disajikan secara cuma-cuma untuk mereka nikmati.
Dua jam lebih kemudian sampailah kita di Gubuk. Lho kok lebih 2 jam? Ya perjalanan ini agak lambat karena salah satu dari 3 kawan dari Sidoarjo yang baru bergabung adalah cewek. Tetapi itu bukan masalah bagi kami.
Seusai melepas lelah di Gubuk, perjalanan dilanjutkan melewati medan menanjak dan licin jadi rawan terpleset. Tidak lama kemudian sampailah di Puncak Bayangan dimana terdapat puluhan pendaki lain yang telah tiba lebih dulu. Kami juga menghabiskan waktu untuk beristirahat di Puncak Bayangan.
Perjalanan kembali dilanjutkan bersama rombongan yang telah lebih dulu tiba di Puncak Bayangan. Melewati tanjakan tanah berumput bencana itu terjadi. Di tengah duduk beristirahat Hendy kejatuhan batu tepat di bagian belakang kepala yang tak ayal membuat Hendy kelimpungan menahan rasa sakit. Ternyata kelompok lain yang lebih dulu ke atas kurang baik dalam menjejakkan kaki di batu. Setelah Hendy bisa melanjutkan perjalanan bencana berikutnya terjadi yakni Cherry kejatuhan batu yang lebih besar tepat di pahanya. Sejak kejatuhan batu tersebut otomatis masa depan Cherry suram sampai pulang ke rumah besok. Kenapa begitu, karena sejak kejatuhan batu itu kaki Cherry mengalami trauma otot yang serius sehingga mengakibatkan tidak bisa jalan normal dan ketika berjalan harus menahan rasa teramat sakit.
Setelah 2 jam sejak Cherry kejatuhan batu akhirnya tiba di Puncak Penanggungan sedangkan kawan yang lain telah tiba lebih dulu. Kami langsung mendirikan tenda mengingat malam telah dapat separuh yang berarti hawa dingin akan semakin menusuk. Melewatkan malam sebentar dengan makan malam dan berbincang sebentar dengan kawan-kawan yang lain sebelum kantuk menyerang dan terlelaplah untuk kemudian bangkit kembali sebelum matahari terbit tiba.
Minggu, 3 Mei 2009 kawan-kawan menyambut terbitnya matahari dengan antusias. Beruntung cuaca lagi cerah. Setelah mengabadikan momen dan sarapan kami pun bergegas packing untuk melakukan perjalanan turun lewat Jalur Jolotundo.
Sebelum turun kami memutar dulu mengelilingi puncak. Perjalanan turun lewat Jalur Jolontundo memang wajib waspada karena sangat curam dan licin sehingga rawan terpleset jatuh. Untuk itu berkali-kali Om Jawul mengingatkan untuk selalu waspada dan tidak terburu-buru apalagi lagi sampai turun dengan cara berlari.
sejam lebih kemudian sampailah kami di Candi Sinta. Sebuah situs peninggalan masa lalu. Kami berlama-lama di Candi Putri. Dan kemudian berusaha mencapai Wisata Jolotundo secepat mungkin karena siang sangat menyengat.
Dalam catatan ini patut kuberikan apresiasi atas ketahanan Cherry selama perjalanan turun.
Meski terseok-seok menahan rasa sakit kaki akibat kejatuhan batu malam sebelumnya tetapi tidak mengurangi semangat dan kemandirian dalam mendaki. Juga kawan-kawan yang lain yang kuyakini akan menjadi pendaki masa depan dan nantinya akan menceritakan banyak kisah pendakian hebat padaku ketika aku sudah tidak sanggup lagi melakukan pendakian hebat.
Diceritakan oleh
Saiful Darwi "www.pendakirewel.blogspot.com"
Mereka yang ada dalam peristiwa ini: Om Djawoel, Hendy, Laksa, Cherry, Dio, Agung, Alfian, Aan Firash, Mashudi, Willy Kuswanto, Heru
Mendaki Gunung Penanggungan di awal Bulan Mei 2009 sebenarnya sangat melelahkan mengingat seminggu yang lalu aku baru selesai mendaki 4 puncak (Welirang, Kembar 1, Kembar 2 dan Arjuno). Namun pendakian kali ini untuk me-restore kembali kemurnian nuraniku karena pendakian ini bersama dengan Om Jawul-kawan sekaligus guru-dan pendaki yang baru akan memulai pendakian pertamanya dimana sangat butuh berinteraksi dengan orang-orang yang telah banyak makan asam garam gunung dan belantara.
Jadilah Sabtu malam, 2 Mei 2009 kami berduabelas orang melintasi rute Tamiajeng menuju Puncak Penanggungan. Kemudian ketambahan 3 orang yang mengaku berasal dari Sidoarjo.
Suasana cerah secerah hati kami. Kerinduan untuk berbincang di sebuah perjalanan mendaki gunung tengah dilangsungkan. Om Jawul bercerita pendakian ke Penanggungan 3 minggu yang lalu. Hendy bercerita pendakian ke Arjuno 2 minggu yang lalu. Dan aku bercerita seminggu yang lalu mendaki 4 Puncak: Welirang, Kembar 1, Kembar 2 dan Arjuno. Serta yang lain juga turut menyumbang cerita lainnya. Pendakian Penanggungan ini seakan tiada kehabisan kisah untuk diceritakan dan tentunya bagi kawan-kawan yang baru pertama mendaki situasi ini tentunya sangat mengasyikkan karena dongeng gunung yang masih hangat disajikan secara cuma-cuma untuk mereka nikmati.
Dua jam lebih kemudian sampailah kita di Gubuk. Lho kok lebih 2 jam? Ya perjalanan ini agak lambat karena salah satu dari 3 kawan dari Sidoarjo yang baru bergabung adalah cewek. Tetapi itu bukan masalah bagi kami.
Seusai melepas lelah di Gubuk, perjalanan dilanjutkan melewati medan menanjak dan licin jadi rawan terpleset. Tidak lama kemudian sampailah di Puncak Bayangan dimana terdapat puluhan pendaki lain yang telah tiba lebih dulu. Kami juga menghabiskan waktu untuk beristirahat di Puncak Bayangan.
Perjalanan kembali dilanjutkan bersama rombongan yang telah lebih dulu tiba di Puncak Bayangan. Melewati tanjakan tanah berumput bencana itu terjadi. Di tengah duduk beristirahat Hendy kejatuhan batu tepat di bagian belakang kepala yang tak ayal membuat Hendy kelimpungan menahan rasa sakit. Ternyata kelompok lain yang lebih dulu ke atas kurang baik dalam menjejakkan kaki di batu. Setelah Hendy bisa melanjutkan perjalanan bencana berikutnya terjadi yakni Cherry kejatuhan batu yang lebih besar tepat di pahanya. Sejak kejatuhan batu tersebut otomatis masa depan Cherry suram sampai pulang ke rumah besok. Kenapa begitu, karena sejak kejatuhan batu itu kaki Cherry mengalami trauma otot yang serius sehingga mengakibatkan tidak bisa jalan normal dan ketika berjalan harus menahan rasa teramat sakit.
Setelah 2 jam sejak Cherry kejatuhan batu akhirnya tiba di Puncak Penanggungan sedangkan kawan yang lain telah tiba lebih dulu. Kami langsung mendirikan tenda mengingat malam telah dapat separuh yang berarti hawa dingin akan semakin menusuk. Melewatkan malam sebentar dengan makan malam dan berbincang sebentar dengan kawan-kawan yang lain sebelum kantuk menyerang dan terlelaplah untuk kemudian bangkit kembali sebelum matahari terbit tiba.
Minggu, 3 Mei 2009 kawan-kawan menyambut terbitnya matahari dengan antusias. Beruntung cuaca lagi cerah. Setelah mengabadikan momen dan sarapan kami pun bergegas packing untuk melakukan perjalanan turun lewat Jalur Jolotundo.
Sebelum turun kami memutar dulu mengelilingi puncak. Perjalanan turun lewat Jalur Jolontundo memang wajib waspada karena sangat curam dan licin sehingga rawan terpleset jatuh. Untuk itu berkali-kali Om Jawul mengingatkan untuk selalu waspada dan tidak terburu-buru apalagi lagi sampai turun dengan cara berlari.
sejam lebih kemudian sampailah kami di Candi Sinta. Sebuah situs peninggalan masa lalu. Kami berlama-lama di Candi Putri. Dan kemudian berusaha mencapai Wisata Jolotundo secepat mungkin karena siang sangat menyengat.
Dalam catatan ini patut kuberikan apresiasi atas ketahanan Cherry selama perjalanan turun.
Meski terseok-seok menahan rasa sakit kaki akibat kejatuhan batu malam sebelumnya tetapi tidak mengurangi semangat dan kemandirian dalam mendaki. Juga kawan-kawan yang lain yang kuyakini akan menjadi pendaki masa depan dan nantinya akan menceritakan banyak kisah pendakian hebat padaku ketika aku sudah tidak sanggup lagi melakukan pendakian hebat.
Diceritakan oleh
Saiful Darwi "www.pendakirewel.blogspot.com"
Mereka yang ada dalam peristiwa ini: Om Djawoel, Hendy, Laksa, Cherry, Dio, Agung, Alfian, Aan Firash, Mashudi, Willy Kuswanto, Heru
Senin, 04 November 2013
Gunung Semeru 17 Agustus 2009
Aku melihat sebuah perjalanan singkat namun cukup melelahkan dan harus dipaksakan demi sebuah pencapaian dan anggapan-Istiqomah 17-an ke Semeru. Prosedur rendah menjadi manusia di antara manusia. Mengukuhkan eksistensi dengan cara naif dan memuakkan. Menjadi pendaki nomor wahid.
16 Agustus 2009
Jam menunjukkan pukul 06.00 WIB saat kami berdua (Aku dan Santo) berangkat dari Surabaya menuju Tumpang Malang, tempat perijinan pendakian gunung Semeru dengan mengendarai sepeda motor. Di tengah perjalanan kami sempatkan sarapan di Tumpang dan pada pukul 08.30 WIB kami telah berada di Kantor Perijinan Taman Nasional Bromo Tengger dan Semeru. Saat jam menunjukkan pukul 10.30 WIB kami telah berada dalam perjalanan menuju Ranukumbolo setelah registrasi ulang di Kantor Perijinan masuk Gunung Semeru, desa Ranupane.
Kami berdua begitu bergegas dalam menempuh perjalanan ini. Kami tidak pernah istirahat dengan duduk mengingat kami memiliki waktu yang sangat singkat untuk bisa sampai di Arcopodo. Tepat pukul 12.30 WIB kami telah sampai di Ranukumbolo. Dan pukul 13.30 WIB kami telah dalam perjalanan menuju Kalimati setelah makan siang. Jam 16.00 WIB kami telah sampai di Kalimati. Kami langsung menerobos penjagaan tanpa lapor terlebih dahulu karena khawatir tidak akan mendapatkan ijin mengingat kami tidak mendapatkan kuota muncak pada tanggal 17 Agustus. Kami lolos dan sampai di Arcopodo pukul 17.00 WIB. Setelah sejam mencari Om Jawul dan rekan-rekan maka kami putuskan untuk mendirikan tenda mengingat lelah telah mendera tubuh dan jiwa kami. Kami pun berasumsi mungkin besok di puncak kami akan bertemu dengan mereka.
Dini hari, tepatnya pukul 03.00 WIB kami berdua memulai summit attack. Dan pada pukul 05.00 kami telah sampai di puncak. Kami santai menunggu sunrise di puncak dan juga menunggu upacara peringatan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus dimulai.
Untuk mengisi waktu luang aku berfoto-foto sambil mencoba menjadi presenter sungguhan dengan meminjam mic reporter SCTV yang sedang meliput acara di puncak Semeru. Saking percaya dirinya sampai ada pendaki lain yang ketipu dan sungguh-sungguh dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kubuat seperti wawancara televisi.
Pukul 07.30 WIB upacara Peringatan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 2009 dimulai dan selesai dengan hikmat. Tidak menunggu lama kami berdua turun karena rekan-rekan yang kami cari (Om Djaweol dkk) tak juga ketemu. Kami berdua benar-benar merasa ada yang kurang dengan tidak adanya rekan-rekan yang sudah janjian sebelumnya. Dimana ya mereka?
Jam 09.30 WIB kami telah sampai di Kalimati. Ternyata di tempat ini baru akan dimulai upacara Peringatan Kemerdekaan 17 Agustus.
Aku begitu surprise dengan respon pertemuan dengan rekan-rekan yang ternyata semalam ngecamp di Kalimati. Indra dan kawan-kawan memperlakukanku seperti selebritis. Minta foto bersama, tanda tangan dan mengerubutiku xixixxiiiii. Padahal di belakang kami berbaris ratusan pendaki yang bersiap mengikuti upacara. Hahaa… Cuek abis…
Karena lama menunggu kagak dimulai juga upacaranya aku dan santo cabut hendak pulang.
Setelah perjalanan sejam sampailah kami di Oro-oro Ombo. Kami berdua istirahat santai di bawah pohon. Kemudian datang pendaki lain. Mereka juga beristirahat di tempat ini. Tapi ada satu pendaki yang sangat kukenal. Setelah kuamati ternyata si Wulan. Anak Lawalata IPB, rekan mendaki Gede-Pangrango. Begh… dia tidak mengenaliku padahal aku duduk di depannya. Aku diam saja tapi terus menatapnya berharap dia mengingatku. Setelah 15 menit benar juga dia menatap tajam ke arahku. Dan ketika kaca mata yang kupakai kulepas dia langsung teriak. “IPULLLLLLLLL!!!!!!!!!!!!”
Hampir satu jam kami dalam gemuruh canda dan tawa sampai-sampai kulihat pendaki yang lain pada heran pisan. Keliatan kami sudah berkawan puluhan tahun yang lalu dan puluhan tahun juga tidak bertemu. Akhirnya perjumpaan ini harus berakhir. Kami harus melanjutkan perjalanan. Aku turun dan Wulan melanjutkan pendakian. Bye sobat!
Kami melanjutkan perjalanan dari Oro-oro Ombo, tembus Ranukumbolo-tidak berhenti-dan sore hari telah sampai di Ranupani. Di sepeda motor kami temukan pesan singkat dari kawan-kawan yang ternyata merasa sangat kecewa karena tidak bisa muncak Semeru. Mungkin tahun depan Semeru akan lebih bermurah hati.
Aku dan Santo meluncur ke Kepanjen Malang dimana kawan-kawan tim Pelatihan TSSM sudah menunggu.
16 Agustus 2009
Jam menunjukkan pukul 06.00 WIB saat kami berdua (Aku dan Santo) berangkat dari Surabaya menuju Tumpang Malang, tempat perijinan pendakian gunung Semeru dengan mengendarai sepeda motor. Di tengah perjalanan kami sempatkan sarapan di Tumpang dan pada pukul 08.30 WIB kami telah berada di Kantor Perijinan Taman Nasional Bromo Tengger dan Semeru. Saat jam menunjukkan pukul 10.30 WIB kami telah berada dalam perjalanan menuju Ranukumbolo setelah registrasi ulang di Kantor Perijinan masuk Gunung Semeru, desa Ranupane.
Kami berdua begitu bergegas dalam menempuh perjalanan ini. Kami tidak pernah istirahat dengan duduk mengingat kami memiliki waktu yang sangat singkat untuk bisa sampai di Arcopodo. Tepat pukul 12.30 WIB kami telah sampai di Ranukumbolo. Dan pukul 13.30 WIB kami telah dalam perjalanan menuju Kalimati setelah makan siang. Jam 16.00 WIB kami telah sampai di Kalimati. Kami langsung menerobos penjagaan tanpa lapor terlebih dahulu karena khawatir tidak akan mendapatkan ijin mengingat kami tidak mendapatkan kuota muncak pada tanggal 17 Agustus. Kami lolos dan sampai di Arcopodo pukul 17.00 WIB. Setelah sejam mencari Om Jawul dan rekan-rekan maka kami putuskan untuk mendirikan tenda mengingat lelah telah mendera tubuh dan jiwa kami. Kami pun berasumsi mungkin besok di puncak kami akan bertemu dengan mereka.
Dini hari, tepatnya pukul 03.00 WIB kami berdua memulai summit attack. Dan pada pukul 05.00 kami telah sampai di puncak. Kami santai menunggu sunrise di puncak dan juga menunggu upacara peringatan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus dimulai.
Untuk mengisi waktu luang aku berfoto-foto sambil mencoba menjadi presenter sungguhan dengan meminjam mic reporter SCTV yang sedang meliput acara di puncak Semeru. Saking percaya dirinya sampai ada pendaki lain yang ketipu dan sungguh-sungguh dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kubuat seperti wawancara televisi.
Pukul 07.30 WIB upacara Peringatan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 2009 dimulai dan selesai dengan hikmat. Tidak menunggu lama kami berdua turun karena rekan-rekan yang kami cari (Om Djaweol dkk) tak juga ketemu. Kami berdua benar-benar merasa ada yang kurang dengan tidak adanya rekan-rekan yang sudah janjian sebelumnya. Dimana ya mereka?
Jam 09.30 WIB kami telah sampai di Kalimati. Ternyata di tempat ini baru akan dimulai upacara Peringatan Kemerdekaan 17 Agustus.
Aku begitu surprise dengan respon pertemuan dengan rekan-rekan yang ternyata semalam ngecamp di Kalimati. Indra dan kawan-kawan memperlakukanku seperti selebritis. Minta foto bersama, tanda tangan dan mengerubutiku xixixxiiiii. Padahal di belakang kami berbaris ratusan pendaki yang bersiap mengikuti upacara. Hahaa… Cuek abis…
Karena lama menunggu kagak dimulai juga upacaranya aku dan santo cabut hendak pulang.
Setelah perjalanan sejam sampailah kami di Oro-oro Ombo. Kami berdua istirahat santai di bawah pohon. Kemudian datang pendaki lain. Mereka juga beristirahat di tempat ini. Tapi ada satu pendaki yang sangat kukenal. Setelah kuamati ternyata si Wulan. Anak Lawalata IPB, rekan mendaki Gede-Pangrango. Begh… dia tidak mengenaliku padahal aku duduk di depannya. Aku diam saja tapi terus menatapnya berharap dia mengingatku. Setelah 15 menit benar juga dia menatap tajam ke arahku. Dan ketika kaca mata yang kupakai kulepas dia langsung teriak. “IPULLLLLLLLL!!!!!!!!!!!!”
Hampir satu jam kami dalam gemuruh canda dan tawa sampai-sampai kulihat pendaki yang lain pada heran pisan. Keliatan kami sudah berkawan puluhan tahun yang lalu dan puluhan tahun juga tidak bertemu. Akhirnya perjumpaan ini harus berakhir. Kami harus melanjutkan perjalanan. Aku turun dan Wulan melanjutkan pendakian. Bye sobat!
Kami melanjutkan perjalanan dari Oro-oro Ombo, tembus Ranukumbolo-tidak berhenti-dan sore hari telah sampai di Ranupani. Di sepeda motor kami temukan pesan singkat dari kawan-kawan yang ternyata merasa sangat kecewa karena tidak bisa muncak Semeru. Mungkin tahun depan Semeru akan lebih bermurah hati.
Aku dan Santo meluncur ke Kepanjen Malang dimana kawan-kawan tim Pelatihan TSSM sudah menunggu.
Tugu Perbatasan Kerajaan Jenggala-Kadiri Sigolo-golo Wonosalam Jabung Jombang
Awal mula perjalanan ini berasal dari pesan singkat Om Jawul yang menginginkan variasi petualangan.
"Petualangan itu tidak harus melulu mendaki dan mendaki ketinggian. Seorang petualang juga butuh variasi petualangan sehingga dalam perjalanan berikutnya greget berpetualang itu terus ada dan meledak-ledak dalam hati sanubari", pesannya.
“Tidak harus terdepan untuk menjadi Sang Pendaki Sejati. Tidak harus selalu menyalip pendaki lain untuk menunjukkan kompetensi diri. Dan juga tidak harus berpenuh beban di pundak untuk merangkap kesejatian.”
Isi:
Tak ada lagi yang tersisa dari masa lalu selain cerita kemanualannya dalam menyelesaikan persoalan hidup. Begitupun yang terjadi di sini, sebuah tempat penanda kesepakatan dalam menjalin keberlangsungan hidupantar bangsa-Kerajaan Jenggolo dan Kerajaan Kadiri. Kami datang dengan menumpangi 2 unit mobil Wilis Om Jawul.
Sigolo-golo merupakan kombinasi hutan, sungai, dan tebing dengan ketinggan kurang lebih 500 m. Ada beberapa tempat menarik yang harus dikunjungi di tempat ini seperti Goa dan Tugu Jenggala-Kadiri.
Bagi seorang petualang melewati tebing dengan kemiringan 80 derajat akan sangat memuaskan hati. Memanjat akar-akaran yang berukuran cukup besar sebelum sampai di sebuah gua yang menurut juru kunci, Mbah Pram merupakan pertapaan seorang putri yang lari karena kehilangan sang kekasih. Gua yang berukuran cukup besar menghadap ke sisi timur memang cocok untuk dipakai sebagai tempat menempa sisi spiritual seseorang.
Tidak selesai sampai di situ, usai melewati gua tersebut kita akan dihadapkan tebing yang lebih ekstrem lagi dengan kemiringan hampir 90 derajat yang sangat diidam-idamkan seorang penggila kemiringan. Meski ekstrem, namun tidak perlu menggunakan tali untuk menyelesaikan tebing ini. Andai saja tebing ini memiliki jarak yang lebih panjang lagi dan berada dalam ketinggian 3.000 m dpl pasti akan lebih seru.
Usai melewati tempat ini, ada lagi satu tempat yang merupakan maskot dari Sigolo-golo, yaitu tugu perbatasan Kerajaan Jenggala-Kadiri. Perjalanan untuk mencapai tempat ini cukup menantang. Diiringi hujan deras dan tebing licin untuk menuruni tebing untuk sampai di sungai panjang yang kiranya disusuri akan sampai di air terjun pengajaran yang cukup terkenal di Jombang. Sekitar tahun 2003 penulis sendiri pernah menyusuri sungai air terjun Pengajaran. Suasana yang tersaji di sepanjang perjalanan sangat beresiko. Rawan longsor, banjir dadakan dan potensi bahaya lain dari pepohonan tumbang dan hewan berbahaya.
Sekitar 1,5 jam kita sampai di sungai yang mengalirkan air yang sangat jernih. Perjalanan di lanjutkan dengan menyusuri area sisi sungai yang memiliki rerumputan hijau dikombinasikan pepohonan dan tanah becek. Hujan tak kunjung reda.
Setengah jam kemudian sampailah kita di sebuah pemandangan yang istimewa tepat di bawah Tugu Perbatasan Kerajaan Jenggala-Kadiri.
Semoga sedikit bisa menggambarkan tempat istimewa ini!
Langganan:
Postingan (Atom)

