Senin, 13 Maret 2017

Pendaki, Simbol Anti-Kemapanan


Zona nyaman adalah dambaan seluruh umat manusia. Karir yang jelas. Tempat kerja yang nyaman. Atasan yang baik hati. Gaji yang memadai. Setiap aspek resiko kehidupan ada jaminan asuransinya. Rekan kerja yang suportif dan kolaboratif. Sandang, pangan dan papan yang terjamin. Habis itu mati dan masuk surga.

Pernah mendengar istilah anti-kemapanan? Pasti pemahaman yang ada adalah anti hidup mapan. Menjalani kehidupan yang jauh dari kenyamanan. Padahal bukan itu artinya, anti-kemapanan tidak ada kaitannya dengan kenyamanan dan kemapanan finansial. Apalagi kecukupan sandang, pangan dan papan. Anti-kemapanan juga bukan karena kondisi seseorang yang tidak mampu mencapai tingkat kesejahteraan tertentu dan mencari kebenaran dengan cara membenci hal yang sudah mainstream (pemikiran kritis berbasis negative thinking).

Menurut tafsir para pendaki, anti-kemapanan adalah suatu pandangan bahwa tidak ada sistem atau tradisi yang benar-benar mapan di dunia ini. Semua selalu harus diperbaharui. Tradisi dan sistem yang abadi adalah yang bisa melebur dalam siklus perubahan itu sendiri. Para filsuf gunung dan belantara melihat anti-kemapanan mirip dengan post-modernisme, yakni kritik terhadap modernisme yang dianggap telah mapan. Post-modernisme menolak segala bentuk pembakuan aturan. Hal ini disebabkan keyakinan bahwa pembakuan akan menghalangi inovasi dan perubahan (revolusi).

Anti-kemapanan secara frontal dan ini yang banyak dimaknai penganutnya, adalah sikap atau pemberontakan (rebel) atau juga rusuh (riot) terhadap hal-hal yang bersifat materi atau kekayaan berlebih (glamouritas), tanpa perduli nasib orang-orang minoritas atau orang miskin (vulnerable group), sok pamer dan menginjak hak orang miskin karena mereka lebih kaya dari orang-orang disekitarnya. Anti-kemapapan juga penolakan terhadap penyalahgunaan kekuasaan dari para pemegang otoritas (pemerintah, organisasi kemasyarakatan yang mapan). Hal inilah yang mendasari munculnya slogan “Fuck the Authority”. Anti kemapanan itu ada dan lahir untuk membuat hal-hal tersebut terlihat lebih alamiah, sederhana (no rules) dan hidup apa adanya saja meski tidak ada larangan punya apa saja.

Banyak pendaki pendaki yang pada akhirnya menyimpulkan dan menganut definisi anti-kemapanan sebagai sebuah ideologi akan kebebasan dan menolak dimapankan oleh sebuah sistem, dikungkum oleh takhayul dan diikat oleh sebuah aturan tanpa siklus perbaikan dan transparansi. Namun bukan berarti pendaki tak punya aturan, disini pendaki bebas menentukan jalan hidupnya, bebas membuat aturan untuk diri sendiri asal tak merampas hak individu lainnya dan kode etik yang ada.

Pendaki berhak mengatur hidupnya sendiri tanpa harus diatur oleh orang lain dan aturan hidup pendaki tidak melanggar atau merampas hak-hak hidup orang lain. Anti-kemapanan menjadi siklus proses dimana pendaki menolak semua aturan, membebaskan diri dari segala peraturan yang mengikat, dan bebas menentukan Jalan hidup.

Pendaki meluangkan waktu untuk menjauh dari kota. Membuang jauh sikap ‘sok sibuk’, mengabaikan prinsip ‘waktu luang begitu mahal’, dan menghapus paham ‘time is money’ dengan berbagi waktu dengan alam. Disini pendaki ingin menyelipkan semacam semangat kesetaraan di dalam kehidupan. Kehidupan yang sering digunakan orang-orang kaya untuk memamerkan kemewahannya, juga harus bisa menjadi ruang bagi rakyat jelata. Dan itu dicontohkan oleh pendaki ketika menjauh dari kota.

Berikut ini beberapa contoh bentuk anti-kemapanan yang diinisiasi pendaki, rakyat dan tokoh yang bisa menjadi inspirasi dari bentuk perlawanan terhadap penindasan, ketidakadilan, keabsurdan dan pemaksaan/pembakuan terhadap kebenaran, sistem dan tradisi.

1.   Pendaki begitu sinis terhadap mereka yang tampil parlente di kota. Mereka yang berpenampilan klimis untuk menutupi kebusukan hati. Penampilan untuk mengaburkan tindakan korupsi dan manipulasi hasil pembangunan serta ketidakpedulian terhadap nasib rakyat jelata. Dan pendaki pergi ke gunung dengan celana robek dan bolong serta dipenuhi banyak emblem dari nama gunung dan organisasi serta tampil awur-awuran. Di gunung para pendaki begitu akrab dengan masyarakatnya. Mengabarkan kebijakan dan kemajuan bangsa. Menyemangati rakyat di kaki-kaki gunung meski kehidupan mereka seharusnya bisa lebih sejahtera bila tidak ada garong-garong “koruptor” yang menghisap dana pembangunan untuk wilayah pelosok. Para pendaki menyibukkan waktu untuk menimba kearifan lokal untuk dibawa dan diterapkan di kota. Mentok penampilan rapi pendaki dengan baju flannel dan seragam lapangan (PDL).

2.     Pada masa kolonialisme, rakyat yang terjajah memakai celana cingkrang hampir menyentuh lutut sebagai bentuk perlawanan terhadap penjajah yang memakai celana sampai mata kaki. Mereka yang pria banyak yang bertelanjang dada atau memakai baju yang tidak dikancingkan untuk menunjukkan bahwa mereka masih punya jiwa, berbeda dengan para penjajah dan para antek-anteknya yang rapi dengan baju-baju berlapis yang menutup dada dan tak memberi ruang rongga hatinya untuk dimasuki rasa kemanusiaan.

3.    Di India dan Afrika, Mahatma Gandhi menyerukan dan mengajarkan ahimsa (perlawanan tanpa kekerasan) untuk mengusir penjajah dan mewujudkan kemandirian bangsa yang sedang terjajah. Selain itu Gandhi juga mencontohkan satyagraha untuk mereka yang ingin teguh dalam mencari kebenaran tanpa terjebak dalam kebenaran nisbi dan tak berkompromi dengan pemilik kebenaran absolut (penjajah) sebagai sarana ahimsa. Memerintah diri sendiri, mengatur keluarga sendiri dan memenuhi keperluan sendiri untuk mewujudkan kemandirian melalui swadesi dan tentunya suatu ketika pengklaim kebenaran, sistem dan tradisi baku harus diberi pelajaran dengan hartal atau mogok nasional untuk menyadarkan mereka bahwa kebenaran, sistem dan tradisi harus disepakati bersama akan pemaknaan dan pengimplementasiannya dalam kehidupan bermasyarakat.

Jadi tetaplah kritis wahai para pendaki!!! Jangan pernah berhenti untuk tidak merasa mapan. Karena anti kemapanan itu adalah penyelamat kita dari sergapan ketertinggalan dan keabsurdan.

Akankah ada suatu masa malah pendaki yang akan melestarikan paham kemapanan?

Sabtu, 18 Februari 2017

"Penafsir Gunung dan Belantara"

Memulai laku menjadi Penafsir Gunung dan Belantara harus dengan landasan niat yang lurus. Niat yang ditujukan untuk mengoptimalkan kinerja dulur kembar papat, kakang kawah dan adi ari-ari serta menemukan dirinya sendiri (pancer) untuk menyempurnakan penghambaannya kepada Sang Pencipta. Dengan demikian (niat tersebut) apabila di kemudian hari ada cibiran, tiada perhatian, dan lingkungan yang tidak mendukung maka laku tak akan berubah dan hati tak akan kecewa dan kemudian mundur dari laku!

Kekuatan niat teraktivasi dengan melafadzkannya, meneriakkannya sehingga menjadikan sendi, otot dan tulang serta aliran darah menjadi berdaya juang!

Niat menjadi penentu.

Mari menjadi Penafsir Gunung dan Belantara dengan niat "menyempurnakan kehambaan dengan cara mendaki gunung dan menempuh belantara".

-Puncak Rengganis, Pegunungan Iyang (Argopuro)-
 

Selasa, 07 Februari 2017

Kehadiran Media Sosial Bagi Pendaki, Gunung dan Produsen Gear Pendakian: Berkah atau Kutukan?

Berkat kehadiran media sosial (medsos) seperti facebook, twitter, instagram, linkedin, path dan medsos lainnya denyut nadi pergerakan dunia pendakian menjadi semakin semarak dan bahkan bisa dikatakan menjadi booming. Dunia pendakian kini tidak lagi sepi. Istilah lonely mountain sepertinya sudah hilang, terlupakan dan terkubur hidup-hidup. Perjalanan ke gunung untuk mencari hikmah, kesunyian dan kesendirian menjadi sesuatu yang sulit didapatkan. Terlebih pada akhir pekan atau libur panjang.

Postingan di medsos baik berupa keindahan alam, keunikan flora dan fauna, pengalaman dengan tantangannya (petualangan) dan lain sebagainya sukses menghipnotis banyak kalangan untuk bergeser dari mall, pantai, museum, café, club dan lain-lain menuju ke gunung dan belantara. Memikat para ahli backpacker dari kota-kota, gang-gang dan lorong-lorong untuk berhijrah ke puncak-puncak, tebing-tebing, ngarai-ngarai, lembah-lembah, jurang-jurang dan belantara. Medos sukses menggeser dunia pendakian dari sesuatu kegiatan yang anti mainstream menjadi suatu aktivitas yang umum. Medsos berhasil membuat pendaki yang mendaki sebelum jaman Medsos terhenyak dan gagu melihat kenyataan orang ke gunung secara berbondong-bondong seperti bermigrasi dari desa ke kota. Antara senang dan gundah-gulana karena menyaksikan keramaian manusia yang bahagia dan secara bersamaan melihat sampah dengan ragam jenisnya berserakan dimana-mana. Antara meradang hingga riang gembira melihat secara paralel eksistensi kemanusiaan begitu mendalam, namun filosofi agung pendakian menjadi tak tentu arah dan keimanan terhadap gunung dan belantara sebagai tempat dimana udara paling murni bersemayam dan segala definisi hidup terurai terancam ditinggalkan. Inilah ketika berkah dan kutukan bersatu seperti dua sisi mata uang. Tak terpisahkan!
Namun, sebagaimana keimanan para pendaki sejati bahwa gunung dan belantara berawal dari sesuatu yang asing dan ekslusif, sehingga nanti pada saatnya akan kembali menjadi hening dan aneh. Entah kapan!

Selain dampak kehadiran medsos terhadap pendaki dan gunung, medsos juga diyakini menjadi pemicu pergeseran dan mungkin juga revolusi dunia pendakian dari sisi peralatan (gear). Para produsen turut terbantu dengan adanya media sosial dalam perlombaan teknologi (desain, bahan dan jahit), distribusi maupun pemasaran. Terjadi saling susul-menyusul produk outdoor dengan teknologi terkini. Medos menyajikan berbagai referensi bagi produsen terkait produk outdoor yang unggul dan diminati.  Pujian dan kritikan terhadap produk outdoor bertebaran di wall akun pribadi dan group. Review dan esai terkait produk tersaji dengan melimpah ruah. Pengalaman menggunakan produk outdoor langsung di-share saat itu juga sehingga memudahkan produsen dan calon konsumen untuk mendapatkan struktur preferensi terkait produk. Menemukan kesenjangan antara ekspektasi dan kenyataan dari produk yang ada di pasar.
Terima kasih Medos. Jasamu abadi!!!
 

Percobaan Marshmallow: Pembelajaran Krusial Untuk Pendaki Gunung dan Penempuh Hutan Belantara

Percobaan Marshmallow merupakan salah satu penelitian ilmiah yang sangat terkenal tentang psikologi dan perilaku manusia. Marshmallow adalah makanan ringan yang sangat disukai anak-anak kecil. Teksturnya kenyal, rasanya manis asam.

Percobaan ini membuat gempar karena mengungkap karakteristik apa yang harus dimiliki seseorang jika ingin sukses dalam kehidupan termasuk dalam dunia pendakian dataran tinggi dan perambahan hutan belantara. Didalam https://id.wikipedia.org/wiki/Percobaan_marshmallow_Stanford dijelaskan dengan gamblang mengenai Eksperimen Marshmallow. Berikut ini cuplikan narasi aslinya.

“Percobaan Marshmallow Stanford adalah sebuah percobaan yang dilakukan oleh Walter Mischel dari Universitas Stanford untuk mempelajari mengenai kepuasan tertunda. Percobaan ini dilakukan Mischel pada tahun 1960an dan sejak itu percobaan ini pun sering dilakukan ulang oleh peneliti lain. Mischel mengetes beberapa anak berumur empat dan lima tahun di Taman Kanak-kanak Bing di dalam kampus Universitas Stanford. Masing-masing dari anak tersebut dibawa ke dalam suatu ruangan dan sebuah marshmallow ditaruh di meja di depan anak tersebut. Mereka diberitahu bahwa mereka boleh memakan marshmallow tersebut sekarang, tetapi apabila mereka menunggu 20 menit, Mishcel akan kembali dan memberikan mereka tambahan satu marshmallow. Hasil dari percobaan tersebut adalah sepertiga dari anak-anak tersebut memakan marshmallow dengan segera, sepertiga lainnya menunggu hingga Mischel kembali dan mendapatkan dua marshmallow dan sisanya berusaha menunggu tetapi akhirnya menyerah setelah waktu yang berbeda-beda. Tujuan awal dari percobaan ini adalah untuk mengetahui proses mental yang membuat seseorang menunda kepuasaannya saat ini untuk mendapatkan kepuasan yang lebih pada masa mendatang.

Namun, hasil yang mengejutkan dari percobaan ini justru didapatkan setelah anak-anak yang ikut dalam percobaan beranjak dewasa dan telah memasuki sekolah menengah. Beberapa tahun kemudian, Mischel yang memiliki tiga orang anak perempuan yang dulu juga bersekolah di Bing, bertanya mengenai keadaan teman-teman anaknya dari taman kanak-kanak. Ia kemudian menyadari bahwa terdapat perbedaan antara anak-anak yang berhasil menunggu dan yang tidak dalam nilai akademis mereka. Kemudian, pada tahun 1981, Mischel mengirimkan kuesioner kepada orang tua, guru dan pembimbing akademis dari anak-anak yang dulu ikut berpartisipasi dalam percobaan ini. Ia bertanya mengenai sifat mereka, kemampuan mereka untuk berencana dan mengatasi masalah serta berhubungan dengan teman-teman. Ia juga meminta nilai SAT (Red: Ujian Standar Akademik dan Berpikir Kritis) mereka. Ia lalu menemukan bahwa anak-anak yang dapat menunggu memiliki nilai rata-rata 201 poin lebih baik dari mereka yang tidak bisa menunggu.”
 
Kesimpulan tersebut mendapat konfirmasi bila kita lihat dalam kejadian dan kondisi lain sehari-hari, terutama dalam kehidupan persilatan pendakian gunung dan penempuhan rimba belantara. Seorang pendaki yang hendak memulai pendakian pertamanya punya dua pilihan, menurutkan kesenangan sekarang dengan berleha-leha, atau menunda kesenangan dan berusaha menyiapkan fisik, mental dan SKA (Skill, Knowledge and Attitude) sebaik mungkin sampai kesenangan yang sesungguhnya tiba (menggapai puncak dan pulang selamat serta hikmah perjalanan). Bagi yang masih sekolah dengan bergabung dan mengikuti pendidikan dan latihan dasar yang diselenggarakan Sispala di sekolahnya. Bagi yang mahasiswa dengan mengikuti Mapala. Dan bagi masyarakat umum yang tidak berkesempatan di Sispala dan Mapala bisa membentuk dan mengasah fisik, mental dan SKA-nya di PDW dan SPG Wanadri, Indonesian Green Ranger dan lainnya. Atau sah juga membentuk komunitas dan menyelenggarakan pendidikan dan latihan dasar di dalamnya. Semua sama, demi aman dan nyaman bermain di medan gunung dan hutan belantara serta mendapatkan hikmah perjalanan.

Bahwa kekuatan menunda kesenangan (Delayed Gratification) adalah skill yang amat krusial sebagai penentu kehidupan sesorang di kemudian hari dan khususnya pendaki gunung dan penempuh hutan rimba.

•       Jika Pendaki dapat menunda kesenangan dari merokok dan lebih memilih untuk lari tiap pagi mungkin akan lebih sehat sekarang dan tidak gagal dalam menggapai puncak impian.

•       Jika Pendaki dapat menunda kesenangan dari bersosmed ria dan lebih memilih membaca buku mungkin anda akan lebih pintar dan tercerahkan sekarang. Bisa mengisi materi-materi tentang pendakian dengan baik dan komprehensif.

•       Jika Pendaki bisa menunda kesenangan dari membeli barang-barang konsumtif dan mensisihkan uangnya untuk ditabung dan mengkoleksi gear pendakian yang dibutuhkan tentu saat mendaki tidak perlu kesana-kemari mencari gear pinjaman.

•       Jika Pendaki bisa bisa menunda kesenangan dengan setiap bulan mengambil waktu sehari penuh untuk belajar materi-materi dasar maka misalkan ada 14 materi dasar yang harus dikuasai maka kurang dari setahun setengah tanpa disadari ia sudah menguasai materi dasar tersebut (1. Navigasi Darat; 2. Survival; 3. Mountaineering; 4. P 3 K; 5. Manajemen Perjalanan/Pendakian; 6. Iklim, Medan dan Ilmu Penaksiran; 7. Komunikasi Lapangan; 8. Sejarah Pendakian dan Organisasi yang relevan; 9. Hakekat Berkegiatan Alam Bebas dan Kepencitaalaman; 10. Reportase dan Fotografi Perjalanan/Pendakian; 11. Sosiologi Pedesaan; 12. Keorganisasian; 13. Kepemimpinan; 14. Konservasi dan Etika Pendakian).

•       Jika… silahkan ditambahkan wahai para pendaki, kesenangan apa yang bisa ditunda untuk menggapai kesenangan yang lebih wahid lagi (sesungguhnya).

Semua contoh diatas ditentukan karena Kekuatan Menunda Kesenangan Sementara (delayed gratification). Kita seringkali gagal mengatasi distraksi kesenangan-kesenangan sementara yang begitu menggoda. Dan sayangnya, dalam era smartphone ini, kita begitu mudah terjebak dalam kesenangan sesaat yang begitu distraktif (cek beranda FB, cek pemberitahuan WA, baca berita-berita online, mengikuti hoax yang sesuai dengan keyakinan, dst). Padahal kita tahu: jika kita ingin sukses dalam dunia persilatan pendakian, kita wajib untuk mempunyai fisik, mental dan SKA yang memadai. Kedisiplinan dan terus fokus terhadap tindakan dan pencapaian kita.

Ayo diimani, setiap Pendaki pasti punya the power of delayed gratification yang sekokoh karang, dan tidak mudah tertipu dalam kesenangan singkat yang begitu melenakan.
 

Rabu, 18 Januari 2017

Serpihan Awur-awuran Filosofi dan Hikayat Gunung dan Belantara

”In the name of solidarity I give you my philosophy of the mountain. The mountain is soul of love. Soul of destruction and creation. And soul of the earth. So you have to know about philosophy and history of mountain and forest if you want success to climb them. I don’t know why your hobby is climbing. Its make your body heart. Its make your life different. And its make your lovely gone. But I don’t care! “

#1 Pada mulanya gunung dan belantara adalah tempat pembuangan jin dan tempat tinggal para raksasa. Namun manusia kuno mulai melihat bahwa gunung dan belantara memiliki nilai magis, sarana peningkatan spiritualitas diri dan tempat pengujian kompetensi.

#2 Umumnya manusia kuno pergi ke gunung untuk menenangkan diri, mencari petunjuk atau menjadi pertapa. Karena ketinggiannya sehingga secara fisik lebih dekat dengan langit (tempat petunjuk) maka banyak nasehat dan wangsit yang dapat diperoleh di gunung dan belantara.


#3 Banyaklah dibangun padepokan, pesanggrahan, tempat penyembahan, dan tempat perenungan. Namun tidak sedikit dibangun tempat pelarian.


#4 Kini, jaman sudah berubah. Wangsit dan petunjuk bisa diperoleh di dataran rendah. Semenjak Candi, Kuil, Vihara, Masjid dan Gereja dibangun maka orang tidak perlu lagi ke gunung dan belantara untuk mencari ilham.


#5 Dan sekali lagi kini benar-benar berubah. Gunung dan belantara adalah tempat petualangan. Tempat untuk
melatih keterampilan, memperkaya khasanah, keilmuan dan menajamkan kanuragan. Juga tempat dijadikan penyegaran diri dari hiruk-pikuk keramaian duniawi.

#6 Sejak tahun 1972 (silahkan dikoreksi bila keliru), sejak organisasi (pelembagaan) pencinta alam muncul maka sah lah petualangan gunung dan belantara menjadi ter
organisasi.

#7 Dulu mungkin orang akan melihat aneh ketika seseorang melakukan pendakian. Dikira mungkin untuk mencari pesugihan.
Tidak waras. Dulu juga yang ke gunung adalah masyarakat di sekitar gunung yang lusuh atau orang-orang tua yang berjanggut. Tetapi sekarang anak-anak muda dengan tampilan trendi juga ribuan yang berangkat ke gunung di setiap tahunnya.

#8 Apa ini sebuah kemajuan dalam dunia pendakian?


#9 Mendaki gunung dan merambah belantara merupakan aktivitas nenek moyang orang Indonesia dan dunia tentunya. Masyarakat Tengger bahkan telah menetap dan hidup di gunung. Tetapi kemajuan apa yang telah diraih orang-orang gunung? Bukankah kerajaan-kerajaan atau Negara-negara selalu mencapai puncaknya ketika maritim (laut) berjaya dengan kegiatan niaganya. Atau jika tidak di laut maka di sungai besar.

#10 Kesemuanya jauh dari gunung. Makanya agak mengherankan jika gunung kini menjadi kiblat manusia. Tetapi tidak mengherankan juga karena gunung bukan tempat kemajuan duniawi. Gunung adalah tempat menempa ruhani. Kekayaan hati nurani. Sensitifitas sosial.

#11 Itu yang tidak ditemukan dalam aktivitas perdagangan di pantai dan sungai besar.

Disiplin (Keilmuan) Sosial Bagi Seorang Pendaki Gunung Adalah Sebuah Keniscayaan (Tuntutan)

Isi
1. Definisi Disiplin Sosial


2. Siapa Pendaki Gunung

3. Mereka yang disebut Pencinta Alam

4. Pendaki Gunung = Pencinta Alam

5. Genitas Pendaki Gunung

6. Pendaki Gunung sebagai Ahli Sosial

 
1. Definisi Disiplin Sosial
Disiplin sosial adalah ilmu pengetahuan mengenai masyarakat dan individunya yang metode kesimpulannya berlandaskan fakta-fakta kualitatif dan kuantitatif. Ada Sosiologi. Antropologi. Psikologi dan lain sebagainya.


2. Siapa Pendaki Gunung
Ribuan orang baik muda, tua bahkan anak-anak mendaki gunung di setiap tahunnya. Hingga kini tak sedikit jumlah kecelakaan yang mengakibatkan trauma, cacat fisik, bahkan kematian dari aktivitas mendaki gunung (termasuk merambah hutannya). Namun apakah setiap orang yang pernah mendaki gunung pantas disebut pendaki gunung? Ini pertanyaan yang sederhana namun sangat menarik dan tidak mudah menjawabnya.

Jawaban beragam akan terdengar dari lontaran pertanyaan ini, mulai dari yang sederhana sampai dengan yang rumit.

 
Sederhananya adalah iya, karena sudah pernah mendaki gunung maka otomatis seseorang itu disebut pendaki gunung. Namun secara kualitatif menjadi rumit jika muncul pertanyaan lanjutan, yaitu seberapa tinggi gunung yang didaki, dan bagaimana manajemen pendakian yang dilakukan? Sejauh apa kemandirian yang dimiliki dalam pendakian? Apakah bisa survive bila terpisah dalam rombongan? Dan puluhan pertanyaan lanjutan berikutnya.

‘Jumhur ulama’ pendaki di Indonesia mengatakan bahwa seseorang disebut pendaki gunung jika telah mendaki gunung dengan ketinggian minimal 3,000 mdpl dengan manajemen pendakian yang rapi. Artinya skenario pendakian telah disusun dengan baik dan telah terjadi pembagian tugas di antara anggota kelompok mendaki jika pendakian dilakukan secara berkelompok. Seseorang disebut pendaki gunung juga dituntut untuk memiliki pengetahuan dan ketrampilan pendukung untuk bisa mendaki gunung tanpa menimbulkan cidera atau sakit. Demikian juga seseorang disebut pendaki gunung jika telah memiliki sense of belonging dengan mampu membaca keinginan (cuaca, arah angin, kecepatan, dll) dari gunung tersebut.

3. Mereka yang disebut Pencinta Alam
Pencinta adalah orang yang sangat egois. Untuk menunjukkan atau membuktikan cintanya seringkali dengan melakukan hal-hal yang tidak masuk akal. 

Hal ini jelas bagi istilah pencinta alam atau seseorang yang disebut pencinta alam, maka egoisme-nya akan menuntunnya pada pembuktian kecintaannya pada alam. Seperti meluangkan waktu untuk berbagi dengan alam. Melakukan kegiatan-kegiatan pelestarian seperti penanaman, konservasi, pendidikan, dan tentunya pemberdayaan pada masyarakat di sekitarnya.

Untuk menunjukkan eksistensinya, pencinta alam seperti orang beragama, mereka melembagakan dan membentukan simbol-simbol suci kecintaannya. Ada dogma juga. Indoktrinasi. Ada periodisasi ritual.

Ada adat, dan budaya yang terbentuk. Menarik untuk diteliti karena setiap tahun banyak berdiri klub dan komunitas penggiat alam bebas serta organisasi pencinta alam dimana banyak anggota baru terekrut dengan jumlah perkembangannya mengikuti deret ukur. Mereka semua berfokus pada kegiatan petualangan dan hanya sedikit yang bergiat pada kegiatan yang sifatnya pendidikan  dan pelatihan dasar. Memang sangat jomplang, kegiatan pendakian mengikuti deret ukur dan kegiatan pendidikan dan latihan dasar mengikuti deret hitung. Mungkin inilah sebabnya tingkat kerusakan alam begitu luar biasa banyaknya seperti mengikuti deret ukur (jumlah perkembangan pendaki). Ironi!

4. Pendaki Gunung = Pencinta Alam
Banyak yang salah kaprah dalam dua istilah ini: pendaki gunung dan pencinta alam. Masyarakat umumnya memandang sama bahwa mereka-mereka yang mendaki gunung tentunya adalah pencinta alam. Sebagian besar para pendaki gunung juga nyaman dengan pandangan masyarakat umum bahwa mereka adalah pencinta alam. Padahal faktanya banyak pendaki gunung telah turut andil dalam kerusakan alam. Seperti kebakaran, meninggalkan sampah, perilaku vandalisme, juga berperilaku merusak tatanan sosial masyarakat gunung dan hutan seperti free sex dan mabuk-mabukan, mengambil tanaman bahkan plasma nutfah.

5. Genitas Pendaki Gunung
Dalam penelitian seorang psikolog India pada pendaki Gunung Everest yang menyatakan bahwa pencapaian seorang pendaki ke puncak adalah karena faktor gen. Seberapapun usaha dan keinginannya jika tidak memiliki gen seorang pendaki maka tidak akan sampai ke puncak. Pribadi dan perilaku pendaki gunung memang unik dan menimbulkan ekslusifitas. Ini yang cenderung menimbulkan pandangan ‘aneh-nyleneh’ masyarakat. Dan sampai disimpulkan sebagai faktor genitas.

6. Pendaki Gunung sebagai Ahli Sosial
Untuk menjadi seorang pendaki gunung baiknya juga menguasai disiplin ilmu sosial (praktis). Mendekati semacam kemampuan seorang sosiolog, antropolog, atau psikolog. Mengurangi ke-introvert-an dan ke-ekslusif-an. Mengapa demikian? Karena mendaki adalah perbuatan sosial yang individualis. Rusak tatanan sosial dan ekologi di dataran tinggi (hulu) maka berarti bencana bagi dataran rendah (hilir). Pendaki yang ahli sosial adalah upaya terbaik untuk mencegah terjadinya kerusakan tatanan sosial dan ekologi di gunung dan belantara.

Asumsi: ahli yang bisa mempraktikan keahliannya. Bukan OMDO-ngomong doang!

9 April 2014
 
 

Selasa, 17 Januari 2017

Tips and Trik Pendakian dalam Keadaan Berpuasa

Sembari menikmati debat Capres 2014 yang disiarkan langsung oleh beberapa TV nasional tulisan ini mulai dibuat. Entahlah, tiba-tiba ada dorongan untuk menuliskan perihal tips and trik pendakian di bulan Ramadan atau mendaki dalam keadaan menjalankan ibadah puasa. Tips dan trik ini ditulis berdasarkan pengalaman dari pendakian yang penulis lakukan dimana dalam keadaan berpuasa. Selain itu juga membaku-padankan dari pengetahuan gizi dan kesehatan serta pengamalan pendaki lain yang pernah mendiskusikan hal ini dengan penulis. Jadi ini semacam lesson learned dan best practice yang sudah pernah berhasil dipraktekkan. 

Setidaknya ada 3 pendakian yang penulis nukilkan dalam tulisan ini sebagai lesson learned dan best practices yakni pendakian spiritual di gunung Penanggungan/Pawitra pada tahun 2008, pendakian Semeru untuk melakukan upacara 17 Agustus 2010, dan Pendakian Gunung Arjuno pada bulan Agustus 2013 dalam rangka untuk memberi nama anak yang kemudian lahir pada 30 Nopember 2013. Tips dan triknya sebagai berikut:
 

1. Optimalkan sore hari setelah setengah hari digunakan untuk perjalanan menggunakan kendaraan menuju basecamp

Strategi ini penulis terapkan ketika sampai di basecamp Ranupani pada siang hari saat akan mendaki Semeru dan ketika pendakian gunung Arjuno. Matahari sore sudah cukup teduh apalagi perjalanan diantara pepohonan sepanjang jalur yang melindungi dari panas dan sangat membantu mengurangi dehidrasi. Begitu sudah loyo, waktunya sudah dekat dengan bedug maghrib. Saat itu benar-benar bertepatan menjelang maghrib saat tiba di Ranukumbolo (Semeru) dan di Kop-kopan saat mendaki Arjuno dari jalur Tretes.


2. Malam yang menguntungkan untuk summit attack

Pada pendakian gunung Penanggungan, penulis dan tim memilih waktu malam sesaat setelah shalat Tarawih di masjid terdekat dengan basecamp Tamiajeng (disini ada Mushalla dan Warung). Hampir tidak kendala berarti terkait dengan tenaga dan rasa lapar ketika summit attack ke Penanggungan dimana dilakukan pada malam hari yang notabene bisa makan dan minum kapan saja. Hal berbeda adalah ketika di Semeru, sebelum tiba di puncak ternyata waktunya sahur tinggal tersisa 30 menit. Jadi penulis berhenti terlebih dahulu untuk makan dan minum sahur. Saat itu ada teman yang kaget ketika tahu masih ada orang yang berpuasa saat mendaki Semeru. Sampai-sampai keluar selorohan bahwa ane jadi satu-satunya penggapai Puncak Semeru dalam kondisi berpuasa.

3. Gunakan sepanjang hari ini untuk menggapai pos terakhir

Mendaki ketika berpuasa sangat tidak dianjurkan untuk memforsir tenaga. Bila mulai lelah langsung berhenti dan beristirahat. Jangan sampai menunggu hingga drop baru istirahat. Tanpa makan dan minum, tubuh akan sulit me-recovery kondisi drop tersebut. Optimalkan waktu yang panjang di sepanjang hari ini (± 12 jam atau durasi jam 6 pagi sampai 6 sore) untuk menggapai pos terakhir.

4. Tempat teduh

Ketika beristirahat carilah tempat yang teduh agar tubuh tidak mengalami penguapan yang berlebihan. Hindari memakai pakaian yang tebal dan menutup seluruh tubuh bagi pendaki pria. Karena pakaian tebal dan menutup seluruh tubuh juga memicu keluarnya keringat yang berlebihan. Dan ini akan berdampak pada hilangnya cairan tubuh yang memicu dehidrasi.


5. Kurangi bahkan tiadakan nafas dari mulut karena menyebabkan mulut kering dan cepat haus

Pernafasan dari mulut juga berbahaya akan masuknya debu dan bahan berbahaya lainnya dalam tubuh kita terutama di musim kemarau atau saat kabut tebal. Beda ketika bernafas dengan hidung. Hidung memiliki mekanisme penyaringan yang memadai dari bahaya masuknya debu, uap air dari kabut dan zat berbahaya lainnya.

6. Kurma saat buka puasa dan makan sahur

Untuk memudahkan pengembalian tenaga dan mengefektifkan waktu memasak maka makanlah kurma atau semacamnya sembari menunggu makanan berat lainnya siap untuk disantap. Sebagai contoh ketika sahur saat dalam perjalanan menggapai puncak Semeru maka tidak memungkinkan
penulis memasak buat makan sahur di ketinggian lebih dari 3,000 mdpl dan kemiringan (elevation) kira-kira 45 derajat. Jadi penulis sahur dengan menggunakan buah kurma dan roti serta susu.

7. Tanggalkan beban (keril dan bawaan lainnya ketika berhenti atau istirahat) untuk menghemat tenaga.
Di pendakian lain yang tidak dalam kondisi berpuasa, penulis biasanya malas menanggalkan keril ketika beristirahat atau berhenti. Artinya keril (juga tas kamera) selalu nongkrong membebani tubuh. Tetapi demi menghemat tenaga maka ketika beristirahat saat mendaki dalam keadaan berpuasa maka tas kamera dan keril akan langsung penulis tanggalkan.

8. Dzikrullah dengan asma’ul husna dan kalimat-kalimat pilihan
Penulis meyakini dengan selalu menyebut namaNya di sepanjang perjalanan walau dalam hati akan membangkitkan kekuatan lahir dan batin untuk suksesnya menggapai sebuah puncak impian. Untuk asma’ul husna, penulis banyak menyebut, “ya Qawiyyu ya Matiin” dan menlafadzkan "Allahuakbar" ketika berhadapan dengan tanjakan.

9. Kapan memutuskan berhenti untuk berpuasa?
Tanda-tanda tidak kuat berpuasa (menuju akan sakit) adalah ketika malam tidak bisa tidur dan terjadi radang tenggorakan dan disertai gejala demam. Kondisi ini wajar karena ketika siang hari berpeluh keringat dalam tanjakan perbukitan namun tidak ada suplai air dan makanan yang masuk ke lambung karena sedang berpuasa. Ini artinya jangan dilanjutkan puasanya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan ketika mendaki seperti jatuh sakit. Ingat kesehatan dan keselamatan adalah hal utama. Abaikan ego untuk membuktikan menjadi pendaki hubat dan kuat serta bahwa mendakipun bisa tanpa meninggalkan ibadah puasa.

Bagi yang berencana akan mendaki di bulan Ramadan tahun ini, penulis ucapkan sukses dan selamat mencoba tips dan trik ini. Silahkan ditambahkan bila ada yang perlu dibenarkan atau ada yang perlu ditambahkan. Semoga tulisan ini bermanfaat dan menjadi sumber amal kebaikan penulis. Amin ya Rabb.
foto: Sahur di Puncak Penanggungan