Senin, 07 Oktober 2013

Jiwa dan Karma Lapendos

Kekasihku, karma darimu telah kujalani tanpa penyesalan ataupun dendam. Meskipun aku menyesal mengkhianatimu. Memang rangkaian kata maafmu telah engkau tulis di setiap pandangku. Tetapi aku tetap merasakan cengkeraman karma. Karma atas dosa-dosa ini sudutkan aku dalam lembah kenistaan. Meredupkan pancaran sinar aurora hatiku. Derakan aku dalam asing, walau ragaku di tengah keramaian para pecinta.

Kekasihku, sisi batinku pun remuk tak berbentuk, tak kuasa menahan hantaman karma ini. Dan aku yakin ia takkan berhenti sampai di situ. Mungkin sampai aku lenyap dan musnah.

Ya, tiga hari ini, tiga tahun ini, tiga abad ini, aku seekor kura-kura yang mengejar rusa.

“Tidak ada karma untukmu”, ucapmu.

Kholil Jibran berkata, “Engkau adalah arus sungai yang akan mencari laut di mana kekasihmu berada”.

Tetapi jika memang karma itu telah tercabut, mengapa ketika aku sampai di laut tiba-tiba aku kembali ke bukit. Berlari diantara bebatuan.

Aku juga seyakin Kholil Jibran bahwa aku adalah nyanyian terpenjara kebisuan. Merindukan hati kekasihku. Karena ketika angin surga menerpa dan berbicara padaku di hutan hijau, aku mendengar suara lagi, dan suara itu menangkapku, dan aku dibawanya kembali pada kegaguan.

Aku sepercaya Kholil Jibran bahwa aku adalah akar di bumi yang gelap, dan aku tumbuh menjadi setangkai bunga serta aroma wangiku menebar ke pojok-pojok musim semi untuk memeluk kekasihku, walau nantinya sebuah tangan merengkuhku. Aku kembali menjadi sebuah akar. Tumbuh di kegelapan bumi…………………….
!

Hei, jika aku adalah akar, aku dapat memindahkan prahara ke cabang-cabangnya. Dan jika aku adalah arus sungai, aku akan terus mengalir bahkan ketika sudah mencapai laut. Tentu saja, sangat bagus jika air itu dapat menguap ke angkasa dan karma ini pun usai sudah.

Kekasihku,
aku juga aroma dan sayap-sayap yang mengangkasa itu. Ciumlah, aromaku menyerbak ke penjuru langit dan sayap-sayapku melayang tepat di atas pundakmu.

Kekasihku, malaikat pemutus dunia telah datang. Ia menyebarkan aroma kematian sampai dadaku sesak tak mampu bernafas. Sayap-sayap
hitam-pekat-itu menyembul dari setiap selaksa larik tubuhnya.

O … Kekasihku, ia datang hendak merampas kekejaman yang berderai canda. Padahal engkau tahu aku telah lama memimpikan kekejaman itu.

O … Tidak, tidak Kekasihku. Jangan engkau lambaikan tangan tanda perpisahan. Kabahagiaan yang engkau damba berwujud kenistaan.

Bukan, bukan tempat itu Kekasihku. Di sana hanya ada bayangan tua. Ia pernah memberiku segelas anggur di meja.

Di puncak Mahameru, aromku lenyap di telan kabut. Sayap-sayapku patah digertak misteri gaib. Menyeramkan sekali. Meskipun aku telah makan dan minum di sana. Bahkan membangun kastil dengan menara-menara
pencakar langit. Namun bulu kudukku tetap tegak bukti ciutnya nyaliku.

“Lapendos!” Agaknya bayangan tua itu lelah membisu.

Dia memintaku untuk kembali. Namun aku tidak mau, dan sekarang orang-orang memanggilku si Gila.

“Gilalah, semakin engkau gila semakin cepat engkau mendekati puncak ketuhanan. Semakin engkau gila, semakin damai dan tenang jiwamu. Kegilaanmu akan menuntunmu pergi dari tempat kembali. Jauh ….. jauh … jauh dan semakin jauh.”

Sayangnya, aku tak mau sampai di puncak ketuhanan. Aku belum siap dalam damai dan belum mengenali tempatmu berpijak. Aku tak mau pergi jauh dari tempat kembali. Aku belum mau gila.

Dalam pelarian ini aku terus mencari. Sepanjang hidup kuhabiskan dalam pencarian. Mencari banyak hal, sehingga aku lupa dengan apa yang sudah kutemukan dan masih belum kudapatkan. Tak terlupakan banyaknya ilham yang menyertai dalam perjalananku memenuhi pahatan takdirku. Pernah aku terbang ke langit untuk meraih kitab kehidupanku yang mungkin terselip di balik gumpalan awan sehingga tak sampai ke bumi. Atau mungkin tercecer saat dibawa para malaikat menjadi bintang-bintang. Dan ketika aku terbangun dari mimpi ini aku terus menggali, berharap kitab kehidupanku telah terjatuh seribu tahun yang lalu dan sekarang terkubur di bumi. Tetapi, meski sudah tujuh lapis bumi kugali, hanya tanah, batu dan mutiara yang kutemukan.

Tuhanku, ketetapan-Mu untuk merahasiakan kitab kehidupan setiap jiwa yang bernafsu membuat hambamu yang lemah ini semakin takut. Dan akhirnya lupa bahwa di bumi ada cinta dan persahabatan. Ada memberi dan menerima. Ada sesuatu yang harus dipersembahkan kepada sesama.

Tuhanku, hambamu ini mendengar khabar bahwa manusia itu tempat salah dan lupa. Bahwa manusia itu hakikatnya adalah perwujudan kemunafikan. Tetapi mengapa Engkau menyiksa kami karenanya. Padahal benci, bohong dan kemunafikan adalah anugerah kebesaran-Mu.

Ya Allah, kesabaran yang Engkau ujikan, pengorbanan yang Engkau bebankan, aku telah tahu, bahwa untuk menggenggam baranya harus sampai hangus seluruh jiwa raga atau sampai nyawa dicabut. Tetapi Engkau telah mencabut nyawa semua penggenggam kesabaran dan pengorbanan. Lalu pada siapa aku akan meminta bagianku sebagai penggenggam berikutnya.

Aku malu, ternyata kesabaran dan pengorbanan yang kubanggakan pada akhirnya menyudutkan aku sebagai seorang pecundang. Bentuk dan wajah kepengecutanku semakin nyata memudarkan garis-garis rajutan jiwa seorang ksatria.

Tuhanku, wanita-wanita itu begitu membenci setiap pecundang, termasuk diriku. Mereka meneriaki dan melempariku dengan batu setiap kulewati jalanan kota, tempat mereka berkerumun. Kota kelahiranku telah sepakat untuk mengusirku menuju sepinya hutan, pegunungan yang lebih membosankan dari kuburan-kuburan itu. Dan akhirnya aku pun terkubur di dalamnya.

Kegemaran berpetualang adalah pilihan terbaik dalam hidupku

Apakah hidup?
Hidup adalah pilihan. Demikianlah doktrin yang ku terima dari salah satu guru kehidupanku, Mr Koen Irianto. Menjadi landasan kuat dalam mengarungi kehidupanku selanjutnya dan justifikasi dari masa laluku yang buram.

Aku terlahir dari keluarga sederhana yang sehari-hari menghabiskan waktunya di sawah dan ladang. Aku besar di desa yang jauh dari kota dengan segitiga alam yang sempurna yaitu perpaduan pertanian, kelautan dan perbukitan. Praktis, alam menjadi katalisator sempurna dalam perkembangan jasmaniah dan rohaniahku. Mielin-mielin yang terjalin kuat hingga sampai saat ini.

Kinerja Tuhan
Ramuan-ramuan Sang Pencipta begitu kompleks dan rumit. Meski demikian banyak tergambar keteraturan-keteraturan parsial yang ditunjukkan dari masing-masing pengalaman pribadi seseorang begitu unik namun bisa untuk digeneralisasi. Perulangan-perulangan peristiwa dan kejadian yang nyaris sama dan mirip siklus yang terus berputar membuatku bisa belajar untuk tidak menyesali luka yang digoreskan dan tergoreskan.

Pengalaman-pengamalan dari orang-orang terdahulu begitu penting bagiku. Pengalaman-pengalaman itu seakan-akan menjadi kunci keberhasilan dalam menghadapi takdir (skenario) Tuhan yang masih saja berselimut kabut misteri. Meski ratusan peramal terlahir. Walaupun mujarobat dan primbon terus direvisi. Kiranya sulit memastikan apa yang akan terjadi esok hari. Semua yang terbaca oleh pengintip kehendak Tuhan masih berupa sanepo-sanepo yang hampir tidak terpecahkan tujuan dan maksudnya.

Pilihan hidupku
Pilihan hidupku tidak jatuh pada parameter klasik yaitu kualitas dan kuantitas sandang, pangan dan papan. Akan tetapi pilihan hidupku tertuju pada gaya hidup (life style) melalui salah satu hobi atau kegemaran. Jamak diketahui gaya hidup memang dipengaruhi kualitas dan kuantitas sandang, pangan dan papan. Namun itu bukan faktor absolut (dominan) dan hanya tergantung dari persepsi keberhasilan hidup masing-masing individu.

Sudut pandangku mengatakan bahwa semua manusia diberi kesempatan yang sama yaitu dalam sehari rata-rata memiliki waktu 24 jam. Itu artinya tidak ada manusia yang menganggur dan tidak ada manusia yang selalu beraktivitas. Seluruh kejumudan akan menggeliat di suatu ketika pada saat semua kekuatan terkumpul. Semua kegiatan akan ditepis oleh lelah dan jenuh. Dan pada akhirnya kematian akan menepis cita-cita yang tidak akan pernah sampai.

Aku berkesimpulan bahwa agaknya gen kesederhanaan dari orang tua benar-benar akan terwariskan. Semua fungsi kemungkinan masih menunjukkan betapa sulitnya aku untuk bergelimang dalam kualitas dan kuantitas sandang, pangan dan papan. Namun ada satu yang sudah pasti akan berubah yaitu orientasi dalam menikmati hidup dan kehidupan. Merantau agaknya benar-benar menjadi katalisator dalam mentransformasi hidupku yang dulunya minim informasi menjadi seseorang dengan n (sejumlah-melimpah) informasi dan dengan mudah mendapatkan sekian informasi karena aku beruntung berada dalam ruang penuh aksesibilitas informasi.

Informasi ternyata sangat berpengaruh pada kepercayaan diri. Kepercayaan diri mempengaruhi dimensi ruang dan waktu serta Tuhan pun menjadi lebih lunak dalam menjatuhkanku dalam berbagai situasi dan kondisi. Meski tubuh terbanting namun jiwa seperti melayang tinggi karena hikmah jauh lebih nikmat dari sayatan-sayatan duri dan perihnya keringat yang membasahi lukanya.

Informasi yang paling menarik perhatianku adalah seputar kegiatan berkelana, mengembara, menjelajah, dan berpetualang dalam berbagai skala dan skenarionya.

Kepapaan memang sangat berpengaruh pada skala dan skenario petualangan. Namun seni berpetualang terletak pada dimensi ruang dan waktu yang terbatas. Hambatan dan rintanganlah yang melahirkan melodi. Keberuntungan dan hal-hal yang tidak diduga adalah irama selarasnya.

Beberapa tahun ini sebagian sumber daya yang kumiliki tersedot untuk petualangan. Pertengahan tahun 2009 saja aku telah mendaki 17 gunung. Awal tahun mendaki Gunung Ungaran dan Gunung Lawu. Bulan April mendaki 4 puncak yaitu Gunung Welirang, Gunung Kembar 1, Gunung Kembar 2, dan Gunung Arjuno. Bulan Mei ke Puncak Penanggungan, Puncak Raung, Puncak Ijen dan Puncak Merapi. Bulan Juli mendaki Gunung Gede, Gunung Pangrango, Gunung Salak 2, Gunung Ciremai, dan Gunung Wilis. Dan Bulan Agustus mendaki Gunung Arjuno dan Gunung Semeru. Itu pun belum termasuk petualangan yang lain seperti Arum Jeram dan kegiatan Camping.

Aku benar-benar beruntung, tahun 2009 kualitas dan kuantitas petualanganku tidak menurun. Padahal sebelumnya di tahun 2008 aku sudah pesimis apakah bisa sehebat petualangan tahun 2008 yang mampu mencapai puncak gunung hingga 18 puncak.

Aku menemukan jati diri dengan jalan berpetualang. Mungkin kalimat itu cukup representatif ketika muncul pertanyaan kenapa harus berbagi waktu dengan alam.

Aku keluar untuk menemukan apa yang bersemayam dalam diri. Aku bergegas pergi agar unsur-unsur pembentuk diri segera masuk ke dalam ragaku.

Petualangan menemukanku pada kawan-kawan petualangan yang sebagian menjadi guru, sebagian lagi menjadi teman diskusi dan sebagian lainnya mengambil apa yang sudah aku peroleh. Sungguh situasi yang sangat menyenangkan. Aku benar-benar tidak salah memilih kegemaran ini.

Kini yang mengganjal dalam hatiku adalah belum sempurnanya kegemaranku karena belum adanya karya sebagi bukti kecintaanku pada petualangan.

Beberapa bulan ini aku telah bekerja semampuku untuk mengkomunikasikan kegundahaanku terkait belum sempurnanya kegemaranku kepada kawan-kawan yang ku pikir akan sevisi dan semisi. Semoga dalam waktu dekat ini akan ada hasil yang signifikan meskipun tiada penyesalan ketika Tuhan berkehendak lain.

Saiful Darwi masih LaPenDos-Lelaki Penuh Dosa!



Senin, 23 September 2013

H&S Documents Pendakian

Tim SAR Wanadri pada periode 2000-2002 mencatat beberapa peristiwa kecelakaan gunung. Sebelas Februari 2001, lima orang meninggal akibat tersesat dan terjebak badai di Gunung Slamet. Sebulan kemudian, tepatnya pada 23 Maret, satu orang tewas akibat tersesat di Gunung Salak. Masih di tahun yang sama, dua bulan kemudian (20 Juli), Gunung Ciremai (3078 mdpl) meminta korban dua orang tewas terjatuh ke kawah.

Data lama diatas diperbarui dengan berita kekinian dimana banyak juga kita mendengar dan melihat di Media Massa tentang kecelakaan dalam pendakian gunung. Mulai dari berita meninggalnya wakil Menteri ESDM Widjajono Partowidagdo di Gunung Tambora Pulau Sumbawa, tragedi kecelakaan di Gunung Merapi oleh mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, sampai tersesatnya siswa SMAN 9 Yogyakarta, Pandu dan Koko yang diakibatkan oleh Badai di Gunung Slamet, Jawa Tengah.

Berkaca dari kondisi diatas, postingan kali ini ingin berbagi pemahaman berkaitan dengan salah satu cara untuk mencegah atau mengantisipasi insiden pendakian (preventif), yakni menyusun Health&Safety Plan yang terdokumentasi (H&S Documents). Artinya sebelum-dalam masa persiapan-berangkat pendakian adalah waktunya menyusun Health&Safety Plan, mencakup mulai dari langkah pertama (start dari sekretariat, posko, rumah, dll), perjalanan menuju gunung, dan pendakian itu sendiri sampai pulang kembali (tiba di langkah pertama).

H&S Documents untuk pendakian terinsipirasi dari kegiatan proyek konstruksi, survey dan kegiatan sejenis yang mengharuskan adanya dokumen tersebut sebelum kegiatan lapangan dilaksanakan untuk memberikan pemahaman yang baik berkaitan bahaya yang dihadapi (awareness) dan bagaimana menghindari dan mengatasinya (analyisis/assessment/management) dan bila terjadi insiden (kecelakaan) tertera dengan jelas-nomor kontak dan alamat-kemana harus meminta pertolongan dan tentunya bagaimana memberikan pertolongan pertama dan pengkondisian sebelum pertolongan utama tiba. Penyusunan dokumen ini bisa menjadi tanggung jawab salah satu dari anggota tim pendakian namun memahami dokumen ini adalah wajib bagi seluruh anggota tim.

Saya belum mengembangkan template bakunya (Form), namun apa saja poin-poin utama dalam H&S Documents? Inilah rincian prematur (artinya masih perlu ditambahkan dari rekans pembaca sekalian):

Form 1) Health and safety plan, mencakup informasi administratif (nama/judul pendakian dan persetujuan orang tua, otoritas organisasi, sejenis), deskripsi ringkas gunung tujuan, waktu, personil, konfirmasi kesehatan, logistik, kesiapan porter dan guide (bila ada), aksesibiltas (via darat, air-laut, sungai, kali-, udara), kontak darurat (rumah sakit, taman nasional/perijinan), konfirmasi kecukupan keuangan, obat-obatan (P3K), alat komunikasi (satelit telephone is recommended), nomor kontak seluruh anggota tim dan nomor kontak keluarga yang bisa dihubungi, protokol komunikasi (kapan akan mengontak penanggung jawab keselamatan yang bertugas memantau pendakian dari posko/sekretariat) untuk mengabarkan kondisi tim dll.

Form 2) Travel Risk Assessment (TRA) memahami potensi resiko, bahaya dan bagaimana mengatasinya pada saat dalam perjalanan dari sekretariat/rumah ke gunung dan sebaliknya (pulang dari gunung ke sekretariat/rumah); CEK sepanjang perjalanan sampai desa terakhir seperti kriminalitas (perampokan, pencurian, dll), kerusuhan atau daerah konflik, wabah penyakit, malaria, bila berkendara di darat pastikan sopir beristirahat setiap 3 jam, resiko terkait bahasa-tradisi lokal, dan lainnya.

Form 2) Task Hazard awareness/analysis/assessment/management untuk memahami potensi resiko, bahaya dan bagaimana mengatasinya pada saat di gunung (ingat materi tentang bahaya obyektif dan subyektif). Akan berbeda ragam bahaya ketika mendaki gunung berapi aktif dengan gunung es. Gunung savanna dengan gunung hutan pekat-basah. Apalagi ketika ada informasi baru saja terjadi kebakaran di gunung yang dituju.

Form 3) Incident flow chart / emergency response plan (ERP); berupa diagram alir ketika terjadi kecelakaan/kondisi darurat siapa yang harus dihubungi pertama kali. Mengontak pertolongan pertama dan termasuk bagaimana memberikan pengkondisian dan pertolongan pertama sampai pertolongan utama tiba.

Form 4) Itinerary baik rencana Itin-A, Itin-B, Itin-C dan selanjutnya. Itinerary biasanya dikembangkan dalam bentuk narasi dan tabel (baris dan kolom dimana baris berisi hari dan tanggal sedangkan kolom berisi deskripsi detail tiap-tiap kegiatan, jam, transportasi, nama penanggung jawab dan remarks. Salah satu fungsi utama dari itinerary adalah bila tidak kembali dalam sekian waktu sudah bisa diambil keputusan untuk dilakukan SAR berdasarkan itinerary tersebut.

H&S Document minimal dipegang oleh yang bertanggung jawab di sekretariat/rumah dan team leader pendakian serta tentunya dibriefingkan terlebih dahulu ke seluruh anggota tim pendakian. Bisakah H&S Document disusun dan diimplementasikan?


Jumat, 06 September 2013

Cara Mendaki yang Disebut Menikmati Alam

Seringkali penulis diprotes sebagai pendaki yang tidak menikmati alam karena mendaki jarang istirahat. Terus berjalan dan berjalan. Bahkan munculah berbagai kisah pemberontakan dan pembelotan dan juga penggerutuan terhadap kepemimpinan penulis dalam pendakian. Semua atas nama MENIKMATI PENDAKIAN!!

Apa sebenarnya yang mereka pikirkan tentang menikmati alam, menikmati pendakian? Penulis merasa aneh jika dikatakan bahwa model pendakian yang penulis lakukan tidak menikmati alam. Setahu penulis dari pengalaman mendaki beberapa tahun ini: PENDAKIAN PENULISLAH YANG PALING MENIKMATI ALAM!

Bayangkan, mereka yang berlama-lama terpasung di dalam kegelapan belantara yang kemana mata melihat yang terlihat hanyalah pohon, daun dan belukar. Kemudian cuma sebentar di puncak karena waktu habis diperjalanan karena kebanyakan istirahat bahkan tidur. Sedikit sekali mendapatkan kesan dari suasana alam.

Bandingkan dengan penulis berjalan cepat dan jarang istirahat di dalam kegelapan belantara untuk mencapai punggungan atau puncak bayangan yang indah atau di puncak tertinggi yang menawan dan berlama-lama menghabiskan waktu disana. Mengisi waktu dengan memasak, fotografi, menulis puisi, curhatan hati, merenung dan sebagainya.

Bayangkan juga, mereka yang cuma tahu bebatuan yang sama di sepanjang perjalanan dan tidak mencium harumnya belerang puncak atau bekunya dingin puncak karena waktu habis diperjalanan yang mengharuskan segera pulang ke rumah sebelum sampai ke puncak.

Bandingkan dengan penulis yang berjalan cepat untuk segera mencapai dan menghirup pekatnya kabut puncak. Membelai bebatuan purba di titik ketinggian. Oh betapa nikmatnya terpenjara dingin. Menikmati sirnanya cita-cita (ambisi). Untuk beberapa waktu kehilangan keinginan (bahagia).

2 hari 1 malam waktu pendakian

Pendakianku

Hari pertama : di sebuah sunset merah merona telah duduk di puncak bersama tenda dan segelas kopi

Malam Pertama : menikmati api unggun di puncak atau bermain kartu. Atau berkelakar sambil menikmati cahaya bulan dan kelap-kelip bintang (The sky on-off, on-off)

Hari Kedua : menunggu sunrise dari sebuah punukan bukit atau dari pecahnya awan sambil berfotografi ria. Melawan dingin pagi dengan pelukan sleeping bag. Ow betapa nikmatnya cara pendakianku

Pendakian mereka

Hari pertama : masih santai di jalur pendakian kemudian malamnya camping di salah satu sudut jalur yang cukup luas.

Malam Pertama : tidur dengan pulas karena kemalaman di jalan
Hari kedua : summit attact namun agak kesiangan bangunnya karena menikmati alam alias bersantai ria dan sampai puncak menjelas siang dan matahari sudah tidak enak untuk diajak berteman. Tak lama di puncak, harus segera turun karena malam ini mama nunggu di rumah, wkwkwkwkwkwkwkkk !!!!!!!!!
 

Kabut

"Jangan takut akan pekat, karena pekat menyelamatkan"

Kabut merupakan segerombolan tetes-tetes air yang sangat kecil yang melayang-layang di udara. Kita susah membedakan kabut dengan awan, kecuali kita mengetahui bahwa awan tidak menyentuh permukaan bumi, sedangkan kabut menyentuh permukaan bumi.

Kabut terbentuk dari uap air yang berasal dari tanah yang lembab, tanaman-tanaman, sungai, danau, dan lautan. Uap air ini berkembang dan menjadi dingin ketika naik ke udara. Udara dapat menahan uap air hanya dalam jumlah tertentu pada suhu tertentu. Udara pada suhu 30º C dapat mengandung uap air sebangyak 30 gr uap air per m³, maka udara itu mengandung jumlah maksimum uap air yang dapat ditahannya. Volume yang sama pada suhu 20º C udara hanya dapat menahan 17 gr uap air. Sebanyak itulah yang dapat ditahannya pada suhu tersebut. Udara yang mengandung uap air sebanyak yang dapat dikandungnya disebut udara jenuh.

Ketika suhu udara turun dan jumlah uap air melewati jumlah maksimum uap air yang dapat ditahan udara, maka sebagian uap air tersebut mulai berubah menjadi embun. Kabut akan hilang ketika suhu udara meningkat dan kemampuan udara menahan uap air bertambah. Menurut istilah yang diakui secara internasional, kabut adalah embun yang mengganggu penglihatan hingga kurang dari 1 Km.

Ada 4 macam jenis kabut ialah :

  1. Kabut Gunung : terbentuk ketika uap air bergerak menuju ke atas melewati lereng-lereng gunung. Udara dingin bergerak ke atas lereng sampai tidak sanggup menahan uap air. Titik-titik kabut kemudian terbentuk di sepanjang lereng gunung.
  2. Kabut Advection : adalah kabut yang terbentuk dari aliran udara yang melalui suatu permukaan yang memiliki suhu yang berbeda. Salah satu contoh kabut ini adalah kabut Laut yang terjadi ketika udara yang basah dan hangat mengalir di atas suatu permukaan yang dingin. Kabut laut sering muncul di sepanjang pesisir pantai dan di tepi-tepi danau.Salah satu jenis yang lain dari Kabut Advection disebut Kabut Uap. Kabut ini terbentuk dari aliran udara dingin yang melalui air hangat.Uap air dari hasil penguapan permukaan air secara terus menerus, bertemu dengan udara dingin. Ketika udara mencapai titik jenuh, maka kelebihan uap air secara cepat mengembun menjadi kabut yang berasal dari penguapan permukaan air. Kabut Uap sering muncul pada saat udara dingin bertiup di atas danau yang luas dan bertiup diatas danau yang hangat.
  3. Kabut Frontal : terbentuk melalui suatu pertemuan antara dua masa udara yang berbeda temperaturnya. Kabut ini terbentuk ketika hujan turun dari masa udara yang hangat ke dalam masa udara yang dingin tempat uap air menguap. Dengan demikian akan menyebabkan uap air pada udara dingin melampau titik jenuh.
  4. Kabut Radisi : terbentuk pada malam yang tenang dan bersih, ketika tanah memancarkan kembali panas ke dalam udara. Satu lapis kabut terbentuk di seluruh permukaan tanah, dan secara bertahap bertambah menjadi tebal. Kabut Radiasi sering muncul di lembah-lembah yang dalam.

Kamis, 29 Agustus 2013

Pendakian Solo ke Gunung Welirang dan Arjuno April 2008

Overview
Ku akui jiwaku masil labil. Kepribadianku masih terombang-ambing oleh setiap deraan peristiwa. Apalagi peristiwa terkait dengan wanita. Ah, aku tak berdaya untuk melawan, dan lari dari kenyataan adalah jalan pintas, cara terbaik untuk re-charge mental bajaku agar segera kembali. Peristiwa yang membuat spiritualku kedodoran dan compang-camping serta berantakan adalah pernikahan wanita yang aku agungkan di muka bumi ini, ----- (hanya member yang tahu e e e)!

Akhir April itu pikiranku pusing tujuh keliling memikirkan cara terbaik untuk lari dari sebuah peristiwa yang akan mengguncang sisi spiritualku jika aku memaksakan diri untuk menghadirinya. Hari-hariku terus diisi dengan pemikiran mengenai berbagai alternatif dan implikasi yang muncul dari masing-masing alternatif yang tersembul dari hasil perenungan selama berhari-hari ini. Ahhaaaaa, akhirnya ide terbaik lari dari kenyataan adalah mendaki gunung. Segera saja aku kontak kawan Banyuwangi yang memang sudah berjanji untuk mendaki di akhir bulan ini. Namun sungguh mengecewakan, dengan alasan yang tidak masuk akal dalam analisisku kawan dari Banyuwangi itu tidak bisa menemani mendaki gunung. Kucoba kontak kawan lain, tetapi hasilnya nihil. Jadilah aku mendaki solo! Menyedihkan. Ihiks.

Awal mula
Sore itu, di waktu Ashar aku telah ada di pos perijinan pendakian Welirang-Arjuno dari jalur Tretes. Setelah selesai semua proses administrasi kuperoleh informasi bahwa saat ini tidak ada lagi pendaki di atas sana. Kelompok pendaki terakhir telah turun dua hari yang lalu. Ah, apes sungguh nasibku. Aku benar-benar harus sendirian di gunung yang terkenal dengan keangkeran dan alam yang ganas ini. Tetapi aku tidak peduli, bagiku ini masih kalah menyeramkan daripada aku harus menjadi saksi peristiwa yang akan menghancurkan kesalehanku dan berakhirlah aku menjadi manusia baik.

Pos Perijinan menuju Kop-kopan
Perjalanan ini sungguh sendu. Berada di sebuah sore yang pilu. Tidak ada mata dan kepala yang mengerti bahwa aku berada dalam kesedihan mendalam (baca: patah hati). Terhitung 2 orang yang memperingatkan aku untuk berpikir dua kali melanjutkan pendakian solo ini. Pertama di Pet Bocor, Pemilik Warung di situ bahkan menyangka bahwa aku sedang gila dari tatapan matanya terlihat keraguannya terhadap kenormalan psikisku. Kedua, di tengah perjalanan menuju Kop-kopan aku bertemu dengan penambang belerang terakhir, seorang tua yang mencoba untuk mengganyang keteguhanku bahwa mustahil mendaki sendiri di gunung ini. Aku tidak peduli. Saran 2 orang itu kusambut dengan senyuman yang menandakan bahwa sisi spiritualku benar-benar telah teruji dan bahwa aku akan pulang dengan sehat dan selamat serta sesuai dengan jadwal yang telah kutentukan.

Menjelang petang aku telah sampai di Kop-kopan. Sebuah tempat kesaksian diri dimana hanya ada satu gubuk penambang belerang saja.

Malam ini aku tidur di gubuk bersama kutu dan kecoa yang tidak sempat kuhitung jumlahnya. Menyusup ke dalam sleeping bag-ku. Bersembunyi di ketiak dan selangkanganku. Aku tidak peduli yang penting mereka mau menemaniku dan tidak mengusirku dari gubuk ini (secara aku yang pendatang hahahhaa). Aku pun terlelap meski seringkali tiba-tiba terbangun.

Pukul 11 malam ku lihat seberkas cahaya melintasi pintu depan gubuk yang hanya ditutupi kain lusuh dan berdebu. Aku diam saja karena ku dengar sayup-sayup ada suara seseorang kemudian menjadi beberapa orang yang datang di Kop-kopan ini. Tidak beberapa lama kemudian masuk satu orang ke dalam gubuk. Aneh, orang itu tidak melihatku yang lagi terbaring di sudut ujung gubuk ini. Bergegas orang tadi keluar dan memberitahu teman-temannya bahwa mereka bisa tidur di gubukan ini.

Begitu mereka masuk lagi aku pun bangkit dari berbaringku dan alangkah kagetnya mereka dan sempat terdesis dari mulut salah satu dan seluruh hati mereka "Setan!!!!!!!!!".

"Halo, rombongan dari mana? Berapa orang? Start pukul berapa dari pos perijinan?", tanyaku.

Setelah berbincang beberapa lama ternyata mereka adalah anak SMA yang baru saja selesai melaksanakan ujian nasional dan mencoba me-refresh-kan diri dengan mendaki gunung. Untuk mengkondisikan situasi yang bagi mereka kurang bersahabat ini-dingin, gelap, tak ada tenda dan obat dingin memadai-kubercerita mengenai beberapa hal.

Kami pun mulai akrab sebelum semua terlelap dalam puncak mimpi masing-masing. Sementara aku harus bekerja keras agar peristiwa yang besok akan terjadi jauh di bawah sana-Surabaya-tidak terus mengusik malamku.

Lupa untuk sejenak
"Iya mas, kemarin di bawah diberitahu kalau ada anak mendaki sendirian. Bahkan, di Pet Bocor, bapak Penjaga Warung bilang kalau ada orang stres yang mendaki e e e", jelas Hendy.

Hari ini begitu riuh dan semarak. Kesepian yang kubayangkan berubah 180 derajat. Anak-anak SMA ini begitu semangat dan kenekatan mereka membuatku harus benar-benar menjadi orang tua untuk selalu mejelaskan berbagai hal mengenai manajemen pendakian. Aku tidak bosan-bosan berbagi pengalaman karena aku yakin beberapa dari mereka akan menjadi pendaki sejati sehingga dengan sharing pengalaman di perjalanan ini akan membuat mereka cepat mencapai predikat itu.

Kenapa aku memberikan istilah pendaki sejati, bukannya dengan istilah pecinta alam sejati. Hal ini dikarenakan sulit ini menjadi pecinta alam sejati. Saat ini jarang bisa kutemui sebagai pecinta alam sejati dalam masa-masa pendakianku. Yang ada adalah pendaki sejati dengan ragam sensasi, tantangan dan hal lain yang mereka ingin peroleh. Mungkin pendapatku ini terlalu naif, idealis bahkan nista bagi orang-orang tertentu. Tetapi memang inilah yang terjadi bahwa pecinta alam sejati itu tidak ada bahkan kalaulah memang ada berarti telah mati ahahahahaa. Innalillahi wainna ilaihi rajiun.

Sore hari kami telah sampai di area puncak. Kami memutuskan bermalam di area ini. Esok sebelum matahari terbit kami baru ke puncak menyaksikan sunrise Welirang.

Malam ini sungguh menyedihkanku. Beberapa dari 9 anak SMA ini menggigil kedinginan. Kondisi ini sungguh menyedihkan aku. Berkemah di area puncak memang beresiko jika tidak membawa perlengkapan anti dingin. Namun ini mungkin pelajaran berharga bagi kawan-kawan SMA ini agar di pendakian berikutnya lebih perhitungan lagi.

Pagi menjelang dan kami telah setia menunggu sunrise di puncak ini sambil tersenyum senang bahwa kami bisa sampai dalam keadaan sehat. Setelah turun aku dan kawan-kawan SMA Sidoarjo 3 ini pun berpisah di gubukan Penambang Belerang yang merupakan jalur pertemuan Welirang-Arjuno. Kawan-kawan Sidoarjo ini kembali pulang dan aku melanjutkan perjalan menuju puncak Arjuno.

Kembali pada kesunyian
Siang ini kaki begitu berat. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Ini kusadari karena aku tengah melewati sebuah lembah yang sangat ditakuti para pendaki, pemburu dan penambang belerang. Namanya Lembah Kidang. Sendirian dengan langkah terseok-seok aku melintasi area ini. Terbayang peristiwa pertengahan tahun 2006, seorang kawan dari Cirebon tiba-tiba menghilang. Setelah beberapa waktu dalam pencarian, keputusasaan dan pasrah pada apa yang akan terjadi, baru kemudian kawan ini muncul. Semua benar-benar di luar fungsi logika. Jalur yang begitu sangat terbuka namun tidak nampak seorang pun dan suaraku yang parau namun nyaring berkali-kali meneriakkan nama kawan ini tetap saja hasilnya nihil. Padahal apa yang aku lakukan ini juga dilakukan kawan yang hilang ini. Ternyata kami berada di dua alam yang berbeda.

Pukul 4 sore aku telah sampai di area puncak gunung Arjuno. Setelah mendirikan tenda tepat di samping replika kuburan aku mencoba mengabadikan sore yang indah ini dengan kamera Canon PowerShot A460. Sunset ini begitu istimewa. Cahaya terang mentari sore dikombinasikan dengan variasi warna dan bentuk awan serta birunya langit membuatku betah dengan suasana ini. Di ujung sana kepulan asap Welirang benar-benar sajian pemandangan yang sempurna. Maha Suci Allah dengan segala keindahan-Nya.

Petang pun tiba dan aku masih saja menikmati sajian ini untuk kemudian beranjak masuk ke dalam tenda untuk mendengarkan suara angin, suara gesekan dedaunan dan ranting dan suara-suara yang menyerupai jejak langkah kaki. Hiiii serem, tapi aku ga kapok!!!

Inilah rumahku
Sebelum matahari terbit aku telah cangkrukan di puncak Arjuno (Puncak Ogal-agil). Kesendirian ini begitu memerdekakan aku untuk mengabadikan suasana. Sampai-sampai-kemungkinan-aku mengabaikan beberapa hal yang mungkin bisa mengganggu eksistensi yang lain. Di salah satu foto itu terdapat cahaya terang yang melintas tepat di atas kepalaku. Untung saja ini baru ku ketahui setelah aku mentransfer data ke komputer.

"Sepurane sing katah Mbah, menawi enten lupute putune Mbah ngaturake agunge pangaksami!"

Tidak bisa ku pungkiri, inilah tempat yang selalu kurindukan. Saat bibir dan lidah berpadu senandung rindu. Pikiran menjadi damai dan tenang. Luruhlah segala peristiwa termasuk peristiwa pernikahanmu, ----- (hanya member yang tahu e e e)!

Rumahku ini telah merevolusi, mereformasi dan mentransformasi jiwa dan ragaku. Resmilah aku menjadi pendaki sejati.

Ku buka HP dan ku kirimkan pesan ke beberapa teman untuk memberitahukan bahwa aku lagi di puncak gunung Arjuno dalam kondisi hidup-hidup e e e!



Rabu, 13 Februari 2013

Mari kampanyekan kebahagiaan dalam hidup ini. Hidup sekali mari dilewati dengan kondisi fisik prima, psikis yang kokoh dan perilaku yang terpuji.